Sasa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air matanya kembali menetes, membasahi punggung tangannya sendiri. "Hubungan kita ini salah, Tuan," lirih Sasa, suaranya nyaris teredam oleh riuh rendah suasana food court yang mulai ramai. "Ibu benar. Pada akhirnya, hanya akan ada luka untuk saya." Javendra tidak segera menjawab. Pria itu menghela napas panjang, lalu mengulurkan tangannya di atas meja. Perlahan, jemari kokohnya menyelip di antara sela-sela jari Sasa, menggenggamnya dengan sangat lembut. Sasa tersentak. Dia mencoba menarik tangannya, namun Javendra menahannya tanpa menggunakan kekerasan. "Jangan ditarik, Sasmaya," ucap Javendra, suaranya terdengar sangat rendah dan tenang. "Tuan Javen, tolong lepaskan. Di sini tempat umum, nanti ada yang lihat," bisik Sasa panik, matanya bergerak gelisah menatap sekeliling. "Biarkan saja," sahut Javendra datar. Tatapannya tertuju lurus pada mata Sasa yang masih basah. "Dengarkan aku." Sasa terpaksa diam. Jantungnya berdegup kencang,
더 보기