Ibu Andini mengusap punggung Sasa dengan perlahan, merasakan getaran halus dari tubuh putrinya yang sedang menahan tangis. "Ya sudah, Sas. Ibu mengerti," ucap Ibu Andini dengan suara melembut. "Ibu tidak akan berpikir yang macam-macam lagi. Ibu berjanji akan menjaga kesehatan Ibu di sini." Sasa perlahan melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah ibunya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. "Benar ya, Bu? Ibu jangan terbebani dengan apa pun." Ibu Andini tersenyum tipis, lalu mengangguk. "Iya, Sayang. Sekarang, hapus air matamu. Kasihan Pak Bram dan perawat itu sudah menunggu terlalu lama di luar. Ibu berikan izin untukmu kembali bekerja ke mansion." Sasa mengembuskan napas lega. Dia merapikan kembali kerah pakaiannya, memastikan kalung pemberian Javendra sudah tersembunyi dengan aman di balik kain kausnya. Setelah mencium tangan ibunya, Sasa melangkah keluar dari kamar. Di ruang tamu, Bram dan Ners Widya langsung berdiri saat melihat pintu kamar terbuka. "Bagaimana, Bu Andi
더 보기