"Tidak ada apa-apa, Tuan Javen," ujar Bu Andini cepat, buru-buru menyapu air mata di pipinya dan memaksakan senyuman tipis. "Saya hanya agak lelah. Karena terlalu bahagia dan haru, pikiran saya jadi melayang ke mana-mana dan membayangkan yang aneh-aneh." Javendra mengamati raut wajah Bu Andini beberapa detik dengan sorot mata tajamnya. Namun, demi menjaga kenyamanan ibu dari tunangannya itu, ia memilih untuk tidak mencecar lebih jauh. Pria itu mengangguk pelan dan meremas lembut bahu Sasa. "Kalau Ibu merasa lelah, saya bisa minta perawat dan pengawal mengantar Ibu ke ruang istirahat khusus di lantai atas," tutur Javendra tenang. "Di sana lebih tenang, Ibu bisa beristirahat." Bu Andini menggeleng pelan seraya menatap Sasa. "Tidak perlu, Tuan Javen. Saya masih ingin di sini sebentar, melihat Sasa dan Tuan menemui para tamu. Saya hanya butuh minum air hangat." "Sasa ambilkan ya, Bu," potong Sasa cepat. Ia segera meraih gelas di meja dekat mereka dan menyerahkannya. "Minum perlahan ya
Leer más