WARNING!! yang nggak berkenan boleh SKIP ya ** Sasa menahan napas tanpa sadar. Jarak di antara mereka terasa semakin tipis, seolah hanya sehelai benang tipis yang menahan tubuhnya agar tidak condong lebih dekat. Jari Javendra masih menempel di pipinya, hangat dan sedikit kasar di ujungnya, seolah takut bergerak tapi juga enggan menjauh. Detik-detik itu terasa panjang sekali. Sasa membuka mulut, ingin berkata sesuatu—apa saja—asal bisa memecah keheningan yang mulai membuat telinga dan lehernya panas. Di saat yang sama, Javendra juga menarik napas, seolah baru saja memutuskan untuk berbicara. “Sasa—” “Tuan—” Kata mereka bertabrakan di udara yang sama. Suara keduanya tumpang tindih, lalu berhenti bersamaan. Keheningan kembali menguasai dapur. Keduanya saling menatap, mata terbelalak kecil, seolah tidak percaya baru saja terjadi. Pipi Sasa langsung memanas. Javendra mengerjap sekali, lalu sudut bibirnya naik tipis, menahan senyum yang jelas-jelas sudah hampir meledak. Sas
Leer más