WARNING! **Javendra menahan napasnya sejenak. Suara lembut Sasa yang membisikkan kata sayang terasa seperti pemantik api di tengah tumpukan jerami yang kering. Tatapan matanya yang tadi penuh kehangatan kini bertambah pekat, terbakar oleh gairah pria dewasa yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Tanpa melepaskan pandangannya dari manik mata Sasa, Javendra terkekeh rendah. Suaranya serak dan begitu berat. "Kamu benar-benar pintar membuat aku gila, Sasmaya," bisiknya, sangat jantan. Javendra tidak membiarkan Sasa menjawab. Ia kembali menyapu bibir gadis itu, kali ini dengan ciuman yang jauh lebih dalam, menuntut, dan lapar. Sasa mendesah di dalam tautan bibir mereka, jemarinya meremas bahu kekar Javendra, merasakan betapa padat dan kuatnya otot-otot tubuh pria itu di balik kemejanya. Di tengah ciuman panas yang membakar itu, Javendra tiba-tiba membalikkan posisi tubuh mereka. Dengan kekuatan lengannya yang begitu kokoh, ia menuntun pinggul Sasa hingga kini gadis itu berada di ata
Read more