Pintu kamar Sasa kembali tertutup setelah Javendra meninggalkannya. Gadis itu masih berdiri beberapa saat di tempat semula, memandangi daun pintu dengan perasaan yang benar-benar sulit dijelaskan. Semakin ia berusaha mengusir rasa penasarannya, semakin banyak kemungkinan yang bermunculan di kepalanya. Namun, setiap kali mencoba menebak tujuan Javendra, ia selalu menyerah di tengah jalan. Pria itu terlalu sulit ditebak, terlebih ketika sorot matanya sejak tadi memperlihatkan keyakinan seolah sedang menyiapkan sesuatu yang sangat penting. Belum sampai lima belas menit berlalu, terdengar ketukan pelan dari luar. Sasa segera membuka pintu dan mendapati dua orang perempuan berpakaian rapi berdiri di hadapannya. Salah satunya membawa sebuah kotak gaun berukuran besar, sementara yang lain mendorong koper khusus berisi perlengkapan tata rias. "Selamat sore, Nona Sasmaya," sapa perempuan yang tampak lebih dewasa dengan senyum ramah. "Perkenalkan, saya Rena, penata rias yang diminta langsu
Leer más