Mobil hitam terparkir rapi di seberang rumah kontrakan yang kini ditempati Amara. Dari balik kaca film yang gelap, Bram duduk tenang dengan sebuah tablet di pangkuannya, sementara dua orang anak buahnya terus memberikan laporan perkembangan melalui alat komunikasi. "Sejak sore sampai sekarang tidak ada perubahan berarti, Pak," lapor salah seorang pria yang baru saja masuk ke dalam mobil. "Nyonya Amara hanya keluar membeli makan dan beberapa kebutuhan di minimarket, setelah itu kembali ke kontrakan. Beliau juga tidak menerima tamu ataupun bertemu orang yang mencurigakan." Bram menganggukkan kepala pelan. Rumah kontrakan itu memang sengaja ia sewakan atas perintah Javendra. Seluruh harta, rekening, dan fasilitas Amara sudah diputus sejak wanita itu kehilangan kepercayaan keluarga Maheswara. Namun bagaimanapun juga, Javendra masih memiliki sedikit belas kasihan dengan memastikan Amara tetap memiliki tempat berteduh dan makanan yang cukup untuk bertahan hidup, meski tidak lagi memberi
Read more