Menghela napas panjang, Bu Andini akhirnya tersenyum haru dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Nak Javen begitu baik... Ibu sampai tidak tahu harus membalas semua kebaikan ini dengan cara apa. Kalau memang ini yang terbaik agar Sasa tidak cemas... baiklah, Ibu menurut." "Terima kasih, Bu," balas Javendra lega, tersenyum tulus. "Nanti sore tim saya akan datang membantu merapikan dan mengemas barang-barang Ibu." "Ah, barang Ibu tidak banyak, Nak Javen. Hanya baju-baju lama dan sedikit perabotan sederhana," sahut Bu Andini pelan. Ia bangkit berdiri dengan perlahan. "Sebentar, Ibu ambilkan beberapa barang penting dulu dari kamar." Sasa ikut bangkit untuk membantu ibunya, meninggalkan Javendra yang memperhatikan interaksi manis ibu dan anak tersebut. Tak berapa lama, Bu Andini kembali membawa sebuah album foto usang yang sampul plastiknya sudah agak mengelupas. Album itu sangat tipis, menandakan betapa sedikitnya kenangan fisik yang berhasil mereka simpan di tengah perjuangan hidu
Read more