"Ibu, tenang dulu, Bu... Ini cuma luka kecil," bisik Sasa berusaha menyela, suaranya bergetar menahan tangis. "Sasa enggak apa-apa, Bu. Sungguh—" "Gimana bisa Ibu tenang?!" potong Bu Andini histeris, napasnya memburu cepat. Jemarinya yang gemetar makin erat mencengkeram bahu Sasa, menatap telapak tangan berbalut perban itu seolah-olah luka itu mematikan. "Tanganmu berdarah, Sasa! Kamu terluka! Siapa yang bikin kamu seperti ini?! Kenapa bisa begini, Nak?!" "Ibu, dengarkan Sasa dulu—" "Siapa yang melukai kamu, Sasa?! Siapa?!" jerit Bu Andini makin memuncak, menutup telinganya seolah menolak mendengarkan apa pun. Matanya liar menatap sekeliling kamar, dipenuhi kepanikan yang membabi buta. Air matanya terus bercucuran membasahi pipi yang pucat pasi. "Ibu enggak mau kamu kenapa-kenapa... Ibu enggak sanggup kalau kamu harus menderita lagi... Jangan sembunyikan apa pun dari Ibu!" Sasa menggigit bibir bawahnya, memandang ibunya dengan mata berkaca-kaca, benar-benar tidak tahu lagi har
Read more