WARNING! ***Javendra tidak membiarkan Sasa memprotes lebih jauh. Pria itu langsung menunduk, meraup bibir Sasa dalam ciuman yang intens dan penuh gairah. Sasa sempat menahan napas sebelum akhirnya menyerah, membalas tautan bibir Javendra dengan remasan pelan pada kemeja pria itu. Tangan Javendra bergerak makin posesif di tubuh Sasa, menempelkan dada mereka hingga tak tersisa jarak. Namun, saat sentuhan Javendra terasa kian membakar, Sasa tiba-tiba teringat di mana mereka berada. Dengan napas terengah, ia meletakkan kedua telapak tangannya di dada Javendra lalu mendorongnya pelan. "Mas... sudah," bisik Sasa serak, memalingkan wajahnya yang memerah padam. "Aku tidak mau di sini. Aku malu, takut ada orang." Javendra terkekeh rendah, menyunggingkan senyum miring yang meledek. "Malu kenapa, hm? Tempat ini sudah disewa, tidak akan ada yang berani masuk." "Tapi aku serius, Mas Javen!" potong Sasa dengan raut wajah bersungguh-sungguh, matanya bergerak gelisah menatap sekeliling aula
Read more