Pagi hari di mansion Maheswara berlangsung tenang. Di area dapur yang luas dan modern, denting peralatan masak terdengar beradu pelan. Sasa sudah berdiri di samping meja persiapannya, jemari lentiknya cekatan mengupas buah-buahan untuk menu sarapan. "Sasa, sudah! Jangan diteruskan lagi, biar aku saja!" seru Rani panik. Ia bergegas menghampiri Sasa dan berusaha mengambil pisau dari tangan wanita itu. "Kamu itu calon istri Tuan Javendra! Masa pagi-pagi malah sibuk potong buah di dapur? Kalau Tuan Javendra atau Pak Bram lihat, atau Bi Lastri lihat, aku bisa kena tegur!" Sasa menahan buah apel di tangannya, menatap Rani dengan tatapan heran. "Kita ini tetap teman, Rani. Kamu lupa, aku juga kan sama seperti kamu dulu?" Rani menggelengkan kepalanya cepat. Matanya menatap Sasa dengan raut hangat namun tegas. "Sasa, kamu tidak sama lagi seperti aku. Oke, kita teman. Sampai kapan pun kamu teman baikku, Sasa. Tapi posisi kita tetap tidak sama." Mendengar penuturan itu, Sasa langsung cem
Read more