Di seberang sana, Bi Lastri terdiam sejenak. Keheningan itu membuat dada Sasa makin berdebar kencang. Firasat buruk langsung menyelimuti pikirannya. "Bi Lastri? Kok diam? Ibu kenapa, Bi?" desak Sasa, suaranya mulai bergetar. "Anu, Nona... Bu Andini baru saja meminum obatnya dibantu sama Bram," jawab Bi Lastri pelan, berhati-hati memilih kata. "Tapi kondisi Bu Andini memang sangat lemah. Tekanan darahnya belum stabil, Nona. Bu Andini tidak punya tenaga buat bicara banyak, matanya sayu sekali." Air mata Sasa langsung menetes membasahi pipinya. Tangannya meremas gaun yang ia kenakan. "Ibu masih belum mau makan ya, Bi?" "Tadi cuma masuk air putih dan satu sendok kuah, Nona. Ners Widya bilang fisiknya drop karena Bu Andini terlalu banyak pikiran dan tidak ada asupan makanan," jelas Bi Lastri jujur, karena ia tahu tidak ada gunanya berbohong pada Sasa. Sasa menggigit bibir bawahnya keras-keras. Isak tangis yang sedari tadi ditahannya akhirnya lolos. "Ini salah saya, Bi... Harusny
Magbasa pa