"Terima kasih banyak ya, Bu," tutur Sasa jujur. "Terima kasih karena Ibu Amara sudah mau membuka hati dan memaafkan Mas Javen atas semua masalah di masa lalu." Di seberang telepon, Amara terhenyak seketika. Tangannya yang memegang ponsel gemetar. Ia sama sekali tidak menduga kata-kata seperti itu yang akan keluar dari bibir menantunya. Sasa melanjutkan kalimatnya dengan nada teratur dan hangat, "Aku sungguh amat bersyukur atas kebaikan hati Ibu Amara. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku selalu berdoa dan berharap agar hubungan Ibu Amara dan Mas Javen bisa terus membaik, makin hangat setiap hari, dan selalu dipenuhi kebahagiaan." Air mata seketika menetes membasahi pipi Amara. Wanita paruh baya itu membisu di dalam ruang kerjanya. Dadanya dihantam oleh rasa malu dan bersalah yang begitu besar. Mengingat betapa sering ia melontarkan kata-kata pedas, merendahkan asal-usul Sasa, dan menolak merestui pernikahan putra tunggalnya, ketulusan doa Sasa terasa memukul hatinya. "Sasa
Read more