Amara berdeham kencang, sedikit tersentak melihat reaksi Javendra. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, memegang cangkir teh porselen itu meski jemarinya sedikit gemetar. "Kamar di atas sudah siap, kan? Aku mau langsung istirahat. Aku lelah." "Kamar di sebelah kanan lantai dua sudah disiapkan, Nyonya," jawab Sasa tetap sopan dan tenang. Amara berdiri dari kursinya tanpa mengucap terima kasih sedikit pun, melangkah pergi meninggalkan ruang makan dengan gaya anggun dan angkuh yang dipaksakan. Begitu sosok Amara menghilang di lorong tangga, Javendra langsung memutar tubuh Sasa dan mendudukkan gadis itu di kursi ruang makan. Javendra berlutut di hadapan Sasa, memegang kedua tangan calon istrinya itu. "Kamu lihat sendiri kan, Sasa?" ujar Javendra dengan nada kesal yang tertahan. "Ibu masih saja bersikap angkuh dan tidak tahu terima kasih padamu." Sasa mengulas senyum tipis yang amat lembut. Ia membawa tangan besar Javendra ke pipinya, mengusapnya perlahan. "Tidak apa-apa, Mas
Read More