Javendra menahan napas, bibirnya masih menempel di lekuk leher Sasa. Kecupan basah itu ia berikan pelan, seolah setiap sentuhan adalah janji bahwa ia takkan pernah menyakiti wanita di bawahnya. Aroma tubuh Sasa yang hangat membasuh sisa mimpi buruk yang masih menggelayut. “Sasa…” suaranya serak, hampir bergetar. “Kamu nyata. Kamu di sini.” Sasa mengangguk, jari-jarinya menyusup ke rambut Javendra. “Aku di sini, Mas. Sentuh aku. Biar kamu yakin.” Javendra mengangkat wajah, menatap mata istrinya yang jernih. Ia mencium bibir Sasa dalam namun lembut, lidah bergerak pelan seolah meminta izin. Tangan kanannya naik dari pinggang, menyusuri rusuk, hingga menangkup salah satu sisi dada yang sudah terbuka. Telapaknya besar dan hangat. Ia hanya menekan pelan dulu, merasakan denyut di bawah kulit Sasa, memastikan ini bukan bayangan gelap. Baru kemudian ibu jarinya mengusap puncak dada yang sudah mengeras dengan gerakan memutar yang sangat lambat. Sasa mendesah, punggung melengkung sedi
Ler mais