Suasana di teras depan kediaman Pratama mendadak membeku. Angin sore berembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambut Sasa yang berdiri kaku di belakang tubuh tinggi Javendra. Sorot mata Javendra menancap lurus pada wajah Helena, dingin dan tajam tanpa celah. Helena menyilangkan kedua tangannya di dada, mempertahankan senyum sinisnya meski keningnya sedikit berkerut melihat ketenangan Javendra yang menakutkan. "Kamu kenapa? Memangnya apa yang saya katakan salah?? Memang benar, kan, siapa yang tau niat di dalam hati istrimu itu, Tuan Javendra!" Javendra mengambil satu langkah perlahan mendekati tangga teras. Tangannya yang satu lagi tetap menggenggam jemari Sasa dengan erat, menyalurkan rasa aman yang tak tergoyahkan. "Sudah selesai bicara, Nyonya Helena?" tanya Javendra. Suaranya rendah, datar, namun menggelegar mengikis keangkuhan di udara. Helena mendengus geli, membuang muka sejenak sebelum kembali menatap Javendra. "Kenapa? Kamu tersinggung karena ucapan saya ada benarny
Read more