Napas Sasa masih terengah halus di dalam cengkeraman Javendra. Punggungnya yang menempel pada dinding marmer terasa dingin, berbanding terbalik dengan panas yang menjalar di sekujur tubuhnya akibat ciuman intens suaminya. Javendra menatap Sasa dengan pendar mata yang begitu pekat dan penuh dominasi. Jemari tangannya merayap naik, mengusap lembut bekas basah di sudut bibir Sasa akibat lumatannya tadi. "Ingat ini baik-baik, Sasa," bisik Javendra dengan suara serak yang begitu berat di depan wajah istrinya. "Kalau sekali lagi kamu membiarkan pria lain, siapa pun itu, termasuk kakakmu sendiri menatapmu terlalu lama sampai kamu mengabaikanku, aku akan melakukan hal yang jauh lebih nekat dari sekadar menyentuhmu di bawah meja." Sasa membelalak lebar, memukul dada bidang Javendra pelan. "Mas! Kamu ini bicara apa sih? Kenzo itu kakak kandungku! Mana bisa kamu cemburu pada—" "Ayo kita kembali," potong Javendra santai, seolah tidak baru saja melontarkan ancaman berbahaya. Pria itu meneliti
Magbasa pa