Javendra menghela napas panjang. Ini adalah bagian yang paling berat baginya. Ia tahu betapa besarnya kerinduan Sasa, namun ia juga harus realistis demi keselamatan istrinya sendiri. Javendra memegang kedua bahu Sasa, menatap lurus ke dalam mata jernih istrinya. "Belum saatnya, Sasa. Dengarkan aku baik-baik." Sasa mengernyitkan dahi pelan. "Kenapa, Mas? beliau kan sudah sadar? Kenzo juga ada di sana menjaga beliau..." "Justru karena itulah kita harus ekstra hati-hati," potong Javendra tegap. "Kondisi Ayahmu memang membaik, tapi situasi di luar sana belum sepenuhnya bersih. Musuh-musuh keluarga Pratama dan sisa-sisa antek Arka masih mencari celah. Jika ada pergerakan mencurigakan dari kita yang mendatangi tempat isolasi Ayahmu, keberadaan Beliau bisa terendus musuh." Sasa menundukkan kepalanya, menyadari kebenaran dari perkataan suaminya. "Selain itu," lanjut Javendra dengan nada bicara yang tegas namun penuh perhatian. "Aku belum bisa mempercayai Kenzo secara penuh." Sasa mendon
Magbasa pa