Mereka menghabiskan makanan sederhana itu di tepi danau diiringi gelak tawa dan perbincangan ringan. Angin malam yang dingin tetap berembus, tetapi Sasa tidak terlalu memedulikannya karena ia merasa nyaman berada di samping Javendra. Sasa menyandarkan punggungnya pada dada tegap Javendra, menatapi pendar cahaya lampu yang membias di permukaan air danau yang gelap. Sebuah kesadaran perlahan muncul di dalam benaknya. Selama ini, ia selalu berpikir bahwa kehidupan bersama seorang Javendra Maheswara akan selalu dipenuhi kemewahan, tempat-tempat mewah, dan standar hidup yang tinggi. Namun malam ini, berada di dermaga kayu sepi, menyantap kue pancong dari piring kertas, dan menggenggam tangan suaminya di bawah lampu taman sederhana, Sasa menyadari satu hal. Kebahagiaan mereka ternyata tidak selalu membutuhkan kemewahan. Kebahagiaan itu ada pada kebersamaan mereka. "Mas..." panggil Sasa pelan, jemarinya mengusap punggung tangan Javendra yang melingkar erat di perutnya. "Iya, Sayang?" sa
อ่านเพิ่มเติม