Se connecterCarsein tertegun mendengar ucapan Laticia. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap perempuan itu tanpa tahu harus menjawab apa. Pada akhirnya, ia menghela napas panjang dan mencoba meredakan keadaan."Lati, biarkan aku yang mengurusnya."Laticia tidak menjawab. Ia hanya menatap Carsein beberapa detik sebelum akhirnya mengalihkan pandangan. Namun Pricilla justru tidak terima."Tidak!"Carsein langsung menoleh.Pricilla berdiri dengan wajah memerah, air mata masih menggenang di sudut matanya. "Saya ingin berbicara dengan Ratu."Carsein mengerutkan kening."Untuk apa?""Saya ingin menjelaskan semuanya.""Pricilla." Suara Carsein terdengar lebih tegas. "Apa sebenarnya yang ingin kau bicarakan? Berhenti mempermalukan dirimu sendiri."Pricilla tertegun. Wajahnya berubah, seolah tidak menyangka Carsein akan mengatakan hal seperti itu di hadapan Laticia dan para pengawal.Namun bukannya mundur, ia justru semakin emosional."Mempermalukan diri saya sendiri?"Ia menunjuk dadanya sendiri dengan ta
Pengawal itu langsung membungkuk."Baik, Yang Mulia."Namun Pricilla segera menyela."Yang Mulia Ratu, Anda tidak perlu memanggil Kaisar ke sini!"Laticia kembali menatapnya."Ini urusan wanita istana."Senyum tipis muncul di wajah Laticia, tetapi sama sekali tidak mengandung kehangatan."Kalau begitu seharusnya kau mengingat hal itu sebelum berdiri di hadapanku dan berteriak."Pricilla terdiam. Laticia melangkah mendekat."Namun sekarang aku berubah pikiran." Tatapannya menjadi jauh lebih dingin. "Sebaiknya Kaisar datang."Pricilla menelan ludah. Laticia kemudian berkata dengan suara rendah, tetapi cukup jelas untuk membuat semua orang di lorong mendengarnya."Panggil Kaisar sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaranku dan memenggal kepala wanita yang berani berdiri di hadapanku sambil berteriak seolah-olah aku adalah bawahannya."Wajah Pricilla langsung pucat. Para pengawal menundukkan kepala. Tidak ada satu pun yang berani bergerak tanpa perintah.Laticia kemudian berdiri tegak d
Melisa terdiam cukup lama. Ia tidak tahu apakah Laticia sedang benar-benar bertanya atau hanya sedang membayangkan kemungkinan yang paling buruk.Namun dari cara sang ratu mengatakannya, tidak ada sedikit pun kegembiraan di sana. Hanya rasa ingin tahu yang dingin."Yang Mulia..."Laticia menghela napas pelan dan mengambil kembali dokumen di hadapannya."Aku tidak mengatakan aku akan melakukan apa pun.""Saya tahu.""Aku hanya bertanya."Melisa mengangguk kecil. Laticia kemudian menatap keluar jendela. Langit ibu kota tampak cerah, tetapi entah mengapa suasana istana terasa jauh lebih gelap daripada sebelumnya."Selama anak itu masih ada, dia akan merasa memiliki alasan untuk bertahan."Melisa diam."Kalau suatu hari alasan itu hilang..." Laticia berhenti sejenak. "Aku hanya ingin tahu, apa yang tersisa dari dirinya."Setelah mengatakan itu, Laticia kembali menunduk dan melanjutkan pekerjaannya seolah percakapan tersebut tidak pernah terjadi.Sementara Melisa hanya berdiri di tempatnya
Carsein langsung terdiam. Pricilla berdiri di hadapannya dengan mata yang masih dipenuhi air mata. Napasnya terdengar tidak teratur, seolah semua emosi yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah begitu saja."Saya mendengarnya sendiri," katanya pelan. "Anda bahkan mengatakan akan datang ke kamar Ratu malam ini.""Itu bukan urusanmu."Jawaban Carsein terdengar datar, tetapi justru membuat wajah Pricilla semakin pucat."Bukan urusan saya?" Ia tertawa kecil, getir. "Saya mengandung anak Anda."Carsein menatap perutnya sesaat sebelum kembali menatap wajahnya."Aku tahu.""Dan saya adalah selir Anda.""Aku juga tahu.""Kalau begitu mengapa Anda masih memperlakukannya seperti itu?"Carsein mengernyit."Seperti apa?""Seolah-olah saya tidak pernah ada.""Pricilla." Suara Carsein mulai terdengar berat. "Laticia masih istriku."Pricilla terdiam."Laticia adalah Ratu Kekaisaran ini. Apa pun yang terjadi di antara kami, kedudukannya tidak berubah.""Tapi Anda memilih saya sebelumnya.""Aku tidak p
Carsein segera menyusul Laticia yang baru saja meninggalkan ruang rapat. Langkahnya terdengar semakin dekat di lorong istana hingga akhirnya pintu ruang kerja Laticia terbuka. Ia masuk tanpa mengetuk, membuat Laticia yang baru saja meletakkan beberapa dokumen di atas meja menoleh."Ada sesuatu yang terjadi?"Carsein tidak langsung menjawab. Ia menutup pintu di belakangnya, kemudian berjalan mendekat dengan wajah yang sulit dibaca. Ada ketegangan yang terlihat jelas dari sorot matanya, seolah ada sesuatu yang sejak tadi ingin ia katakan."Laticia," ucapnya akhirnya, "apa sekarang kau ingin menghancurkan semua orang?"Laticia hanya mengangkat alis. Sudut bibirnya terangkat tipis, bukan karena merasa geli, melainkan karena pertanyaan itu terdengar begitu tidak masuk akal."Untuk apa aku melakukan itu?" Laticia menatap Carsein. "Mereka semua adalah orang-orangmu."Carsein terdiam.Laticia menatapnya,"Mereka semua adalah orang-orang Anda, Yang Mulia."Carsein tetap diam."Mereka adalah pej
Carsein terdiam karena Laticia kemudian memberikan pilihan yang jauh lebih berat."Jadi pilihannya sederhana. Adili mereka secara terbuka dan biarkan rakyat melihat bahwa kau masih mampu menjaga kekaisaran."Carsein tidak mengalihkan pandangan."Atau..." Tatapan Laticia berubah dingin. "Beri mereka waktu untuk melarikan diri, menghancurkan bukti, menghubungi keluarga, dan mempersiapkan pembelaan sebelum kita sempat menyentuh mereka."Beberapa orang langsung menelan ludah. Mereka tahu persis apa yang dimaksud Laticia.Carsein pun mengetahuinya.Mereka semua adalah orang-orang yang selama ini dipilih dan dipercaya olehnya. Sebagian bahkan telah berdiri di belakang takhta Carsein sejak awal pemerintahannya. Jika mereka dihukum, maka bukan hanya jabatan mereka yang akan runtuh.Reputasi Carsein juga akan ikut terseret. Karena jika orang-orang kepercayaannya terbukti melakukan korupsi selama bertahun-tahun, rakyat tentu akan bertanya bagaimana mungkin seorang kaisar tidak mengetahuinya.Ca
Suasana di sekitar mereka langsung berubah canggung begitu nama Grand Duke Lereg disebutkan.Beberapa bangsawan yang berdiri tidak jauh dari sana saling melirik kecil sambil berpura-pura tetap melanjutkan percakapan masing-masing. Bahkan seorang viscount tua buru-buru meneguk wine-nya terlalu cepat
Laticia menatap Carsein tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Wanita itu perlahan mendongakkan wajahnya, menahan tekanan dari tatapan dingin sang kaisar yang berdiri tepat di hadapannya.“Urusan wilayah utara sudah Anda serahkan pada saya,” ucapnya tenang. “Dan sekarang Anda berpikir saya diam
Lereg menatap Laticia cukup lama. Tatapan birunya tajam dan berat, seolah sedang mencoba membaca isi pikiran wanita di hadapannya.“Apakah Anda secara tidak langsung sedang menyuruh saya memberontak?” Suara rendah itu memecah keheningan ruangan.Namun Laticia hanya tersenyum kecil. Ia duduk tenang d
“Apa kau kerasukan setan?”Laticia tertegun sebelum perlahan menghela napas, ekspresinya tetap tenang.“Yang Mulia,” ucapnya pelan, “saya serius.”Tatapan Carsein langsung berubah tajam. Ia melepaskan tangannya dari bahu Pricilla lalu berjalan mendekati Laticia perlahan.Langkahnya berhenti tepat di







