Laticia membiarkan keheningan menggantung cukup lama di antara mereka. Ia membenci kenyataan bahwa pikirannya tidak lagi setenang biasanya.Padahal lelaki di depannya tidak melakukan apa pun selain berbicara dengan jujur. Dan justru itu yang paling mengganggu.Pelan-pelan Laticia meraih kembali pena miliknya, mencoba menyibukkan diri dengan laporan yang terbuka di hadapan. Namun matanya hanya bergerak di atas tulisan tanpa benar-benar membaca isinya.Konsentrasinya sudah buyar sejak lama.“Ada banyak pekerjaan yang belum selesai,” katanya kemudian, memecah suasana yang terlalu hening. “Jadi kau tidak perlu menemaniku terus di sini.”Nada bicaranya terdengar ringan, tetapi tetap menyisakan batas yang sengaja ia bangun kembali.Lereg memiringkan kepala sedikit, memperhatikannya dengan sorot mata yang sulit ditebak. Lalu, tanpa terburu-buru, sudut bibir lelaki itu terangkat tipis.“Jadi sekarang aku mulai diusir?”Ucapan itu disampaikan setengah bercanda, namun cukup membuat Laticia meng
Read more