Siang itu, ruang tamu kediaman Mahendra terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Zahira, yang seumur hidupnya selalu dimanja dan dibanggakan, kini hanya bisa terpuruk di lantai marmer dengan pipi yang memerah bekas tamparan. Untuk pertama kalinya, ia merasakan tangan sang Papa, Mahendra, mendarat di wajahnya."Papa nampar aku?" tanya Zahira getir, suaranya parau."Itu supaya kamu sadar, Zahira!" teriak Mahendra. Maya, sang ibu, hanya bisa terisak di atas sofa. Ia tidak berani membela anaknya karena ia tahu betul, obsesi Zahira terhadap Raka telah membawa malapetaka bagi reputasi keluarga mereka.Air mata Zahira jatuh tanpa henti. "Pa... aku Zahira. Pernah aku melakukan kesalahan selama ini? Bahkan bisnis kotor itu, Papa yang melakukannya, bukan aku!""Justru itu!" bentak Mahendra. Pria itu sudah kehilangan kendali. Ia tidak peduli lagi pada harga diri anaknya. "Aku sudah menutupinya sebaik mungkin selama belasan tahun, tapi karena ulah cerobohmu menyerang Raka, kebobrokan itu digali la
Baca selengkapnya