Alya kini duduk kaku di salah satu meja kafe yang cukup tenang. Di hadapannya, Zahira tampak begitu kontras, anggun, tenang, dan memancarkan aura kepercayaan diri yang membuat Alya merasa semakin kecil."Maaf, aku harus segera pergi untuk bekerja, aku nggak bisa lama-lama," ujar Alya. Tangannya yang berada di bawah meja mulai berkeringat dingin, ia remas ujung bajunya untuk menyembunyikan kegugupan. "Kalau boleh tahu, kamu siapa? Dan apa tujuanmu mengajakku bertemu?"Zahira tersenyum tipis, sebuah gestur yang alih-alih menenangkan, justru terasa mengintimidasi. Ia mengaduk kopinya dengan gerakan anggun, lalu menyesapnya perlahan. "Maaf kalau mengganggu waktumu. Tadi aku tidak sengaja melihatmu masuk ke mobil Raka, jadi aku memutuskan untuk mengikuti kalian."Alya menegakkan punggungnya, berusaha menutupi rasa takut dengan sikap defensif. "Untuk apa kamu mengikuti kami?""Perkenalkan, aku Zahira. Calon istri Raka." Zahira mengulurkan tangan dengan mantap.Alya terdiam. Jantungnya berge
Read more