Hari libur yang seharusnya menjadi waktu bagi Alya dan para wanita desa untuk beristirahat di rumah, justru berubah menjadi kesibukan yang tak terduga. Kabar tentang keahlian Alya memangkas rambut tersebar cepat. Seolah menjadi ajang pamer bakat, rumah Nurma, yang kini sudah seperti salon mini, didatangi lebih dari tujuh wanita yang ingin merasakan sentuhan tangan terampilnya.Alya tampak sangat menikmati kesibukannya. Ia tidak merasa lelah sedikit pun. Sebaliknya, ia merasa hidup kembali saat jemarinya menari di antara helaian rambut, jauh dari rasa jenuh yang biasanya menyergap saat ia melamun. Pujian demi pujian terus mengalir, membuat senyum Alya tak pernah pudar."Jadi, kamu selama ini memang kerja di salon, Alya?" tanya salah seorang ibu sambil menatap cermin dengan takjub."Iya, kamu nggak cuma bisa potong rambut, kamu juga bisa mijit? Enak banget pijatanmu," timpal ibu yang lain dengan nada puas.Nurma, yang sejak tadi duduk di sudut ruangan, menyela dengan bangga, "Iya, Alya
続きを読む