Suara ketukan pelan terdengar di pintu kamar. "Om, liat Aya nggak ya?" tanya Dea dari balik pintu. Aya langsung keringat dingin, tubuhnya menegang. Matanya panik, tapi Om Budi cepat memberi isyarat dengan telunjuk di depan bibir, agar gadis itu diam jangan bersuara. Ia bangkit, buru-buru mengenakan sarung dan kaos, lalu melangkah ke pintu. Dengan hati-hati, Om Budi membuka pintu hanya setengah, menahan daun pintu dengan bahunya agar Dea tidak bisa melihat isi kamar. "Kenapa, Nak Dea?" tanyanya tenang, meski napasnya masih berat. Dea menatapnya sebentar, lalu buru-buru menunduk. "Eh, Om… maaf ganggu. Aya kemana ya, kok di kamarnya enggak ada.?" "Oh, anu…" Om Budi berpikir cepat. "Mungkin di kamar mandi, Biasa dia suka lama kalau lagi di sana." "Oh…" Dea mengangguk kecil
Read more