Setelah beberapa saat, Om Budi menghentikan kegiatannya, ia merasa puas setelah membuat liang milik Lia basah. Dengan pelan ia bangkit, kemudian berlutut di antara kedua paha Lia yang terlihat bergetar. Dengan tangannya yang besar, ia membuka paha gadis itu lebih lebar hingga hampir terbuka sempurna. Lia menggigit bibirnya. Ia tahu, sebentar lagi akan terjadi sesuatu yang selama ini coba ia lupakan. Om Budi menggeser tubuhnya maju. Batangnya yang sudah berdiri tegang dengan ukuran jumbo, urat-urat menonjol di sepanjang batang dan ujung yang membengkak kemerahan, kini berada tepat di depan pintu masuk Lia. Ia bisa merasakan kehangatan dari kemaluan gadis itu yang sudah basah. "Om..." bisik Lia dengan suara bergetar. "Pelan-pelan ya..." Om Budi tersenyum. Tangannya memegang pinggul Lia sambil menggesekkan ujung batangnya perlahan. Sementara Lia hanya bisa menggeliat tak karuan menerima perlakuan itu. “Om...” Lia kembali mendesah. "Tenang, Om tahu apa yang harus dilakuin,"
Read more