Luna tersentak. Walau dia tahu kebenarannya, tetap saja dia terkejut. "Itu, itu. Maaf, Lex. Aku tidak bermaksud menyakitimu."Salah tingkah, juga rasa bersalah menyergap Luna."Jangan begitu. Aku tidak menyalahkamu. Aku sendiri yang salah. Seharusnya aku turuti kata Lilo. Dia suruh aku tembak kamu.""Tapi aku terlalu takut kehilanganmu. Aku tahu kamu cuma anggap aku teman."Alex menatap intens pada Luna. Sosok yang juga tengah memandangnya. Alex tersenyum, walau terpaksa."Kaget ya.""Aku tidak tahu harus bagaimana," aku Luna terus terang."Ya sudah, begini saja. Gak perlu gimana gimana.""Kamu gak marah sama aku?""Marah, buat apa. Aku yang memulainya. Harusnya aku siap dengan konsekuensinya."Netra Luna berkaca-kaca. "Jangan menangis, nanti suamimu marah. Atau dia akan cemburu padaku."Luna mengeplak lengan Alex. Pria itu ikut tertawa. Rasanya sakit, sakit sekali. Tapi Alex tidak ingin memaksakan diri.Memaksakan agar Luna menerima dirinya. Atau memaksakan hatinya untuk menghapus
Ler mais