Home / Romansa / AWAS PAK DOSEN, JANGAN DEKAT-DEKAT! / BAB 231 OLAHRAGA PRIMITIF

Share

BAB 231 OLAHRAGA PRIMITIF

Author: sugi ria
last update publish date: 2026-08-29 20:41:22

Matahari yang bersinar melalui celah tirai membuat tidur Luna terganggu. Ketika dia menggeliat. Dia sadari seseorang tengah memeluknya.

"Tidur lagi."

Suara serak itu membuat Luna meremang.

"Kapan pulang?"

"Tadi jam enam."

Luna diam saja. Dia biarkan hangat hembus napas Alfa menerpa telinga dan lehernya.

Wanita itu melirik jam dinding di depannya. Pukul delapan, artinya Alfa baru tidur dua jam. Luna berniat pergi. Namun Alfa tak mengizinkan.

Tangan lelaki itu justru melingkari perut Luna makin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • AWAS PAK DOSEN, JANGAN DEKAT-DEKAT!   BAB 235 LUKA ITU MILIKMU

    "Terima kasih sudah memberitahu saya, Paklek.""Sudah jadi tugas kami, Nduk. Den Mas ada di kamarnya. Mungkin sedang tidur."Luna mengangguk sebelum beranjak ke bagian Dalem Inggil yang lebih dalam. Tempat paling pribadi dari peninggalan Retno Setyowati.Putri Bima menarik napas begitu sampai di depan pintu kamar utama. Pintu gebyok penuh ukiran membuat Luna berpikir, kalau dia sedang berada di masa lalu.Itu tidak penting. Yang penting sekarang adalah menemui Alfa. Memastikan keadaan pria itu baik-baik saja.Begitu dia masuk, Luna dapati Alfa terbaring di kasur mereka. Sepertinya memang tidur. Luna memeriksanya dan benar. Netra Alfa terpejam rapat dengan nafas teratur. Tidak ingin mengganggu. Luna pilih menjauh. Dia duduk di dekat jendela. Spot yang menyajikan keindahan tebing berbatu. Di bawahnya berhadapan langsung dengan samudra lepas.Debur ombak yang menghantam karang terdengar jelas. Ianya bak melodi yang membuat siapa saja terpukau. Termasuk Luna. Wanita itu perlu beberapa

  • AWAS PAK DOSEN, JANGAN DEKAT-DEKAT!   BAB 234 DIA BERHARGA UNTUKMU

    "Kamu lihat dia?"Alfa bergeming di tempatnya berdiri. Dia pandangi Ratri yang tengah duduk diam di dalam kamar perawatannya. Seperti yang Luna lihat tempo hari. Tatapan mata wanita itu kosong. Tidak ada lagi Ratri yang penuh ambisi. Tidak ada Ratri yang ber-make up tebal.Wanita di depan Aro sepenuhnya berbeda.Ratri bukan lagi wanita sombong, yang pura-pura lembut dan baik hati di hadapan banyak orang."Itu karena dia berhenti memberi tumbal. Mereka balas mengganggunya. Menuntut tumbal."Suara Nan muncul di telinga Alfa. Bersamaan dengan itu dia melihat sejumlah makhluk tidak kasat mata mengitari Ratri."Tidak akan sembuh?""Itu akibatnya berurusan dengan kami. Selalu ada konsekuensi jika kalian berurusan dengan kami. Apalagi sampai minta sesuatu, lalu mereka minta imbalan."Alfa terdiam mendengar jawaban Nan. Apapun yang dikatakan Luna sama sekali tidak masuk ke rungunya. Alfa sepenuhnya tenggelam dalam lamunannya."Alfa kamu dengar aku kan? Maafkan dia ya.""Maafkan dia? Tidak se

  • AWAS PAK DOSEN, JANGAN DEKAT-DEKAT!   BAB 233 BIKIN GAK KONSEN!

    Demi mendengar ucapan Alfa. Adrian seketika tertunduk. Dia sama sekali tidak membantah. Sepatahkatapun tak ada yang terucap.Sebab apa yang Alfa katakan benar adanya. Ibunya adalah pelakor, perebut laki orang. Perusak rumah tangga temannya sendiri.Lebih buruk lagi, Ratri turut andil dalam kematian Retno. Saat Retno sakit. Ratri justru memborbardir Retno dengan video yang menunjukkan kemesraannya dengan Adiguna. Sosok yang sangat ingin Retno temui di akhir hidupnya. Bukannya kedatangan sang suami yang Retno dapat. Tapi justru kiriman video panas antara sang suami dan temannya.Retno meninggal dalam sakit hati, patah hati juga kecewa teramat dalam.Jadi jangan salahkan Alfa jika dia teramat dendam pada yang namanya Ratri. Bahkan Adrian turut kena imbasnya. Sejak Alfa tahu permasalahan orang tuanya.Kebencian Alfa pada Adrian sangat besar. Sama kuatnya dengan yang dia rasakan pada Ratri."Jawab! Kenapa hanya diam saja! Takut ketahuan kalau kamu anak pelakor. Dan sekarang kau coba mengg

  • AWAS PAK DOSEN, JANGAN DEKAT-DEKAT!   BAB 232 MENERUSKAN JEJAK IBUMU

    Luna terhuyung. Tubuhnya bergetar. Tangannya reflek berlari ke mulut. Mencegah tangisnya pecah.Pemandangan yang saat ini dia saksikan sungguh menyedihkan. Lebih tepatnya Luna tak tega melihatnya."Sejak kapan dia begini?" Tanya Luna yang berdiri di samping Adrian. Sama sedih dengannya."Sejak sebulan lalu."Sebulan lalu persis sama dengan kejadian dia hampir dijadikan tumbal oleh Suhar. Apa ini ada hubungannya dengan rumor yang pernah dia dengar dari Alfa dan Catur. Secara tak sengaja."Karma untuk orang seperti itu pasti ada. Kita lihat saja."Kala itu Luna tidak paham. Tapi sekarang, sepertinya dia mulai mengerti."Kondisinya bagaimana? Maksudku kata dokter apa?"Adrian menggeleng. "Bilang saja dia gila. Kamu lihat sendiri, ibu seperti apa."Luna mengikuti arah pandang Adrian. Dari balik jendela kaca dia melihat Ratri tampak diam. Memandang kosong ke satu arah.Tak berapa lama bibirnya komat kamit. Entah apa yang Ratri ucapkan. Semenit kemudian, semua berubah. Ratri meraung, meman

  • AWAS PAK DOSEN, JANGAN DEKAT-DEKAT!   BAB 231 OLAHRAGA PRIMITIF

    Matahari yang bersinar melalui celah tirai membuat tidur Luna terganggu. Ketika dia menggeliat. Dia sadari seseorang tengah memeluknya."Tidur lagi." Suara serak itu membuat Luna meremang. "Kapan pulang?""Tadi jam enam."Luna diam saja. Dia biarkan hangat hembus napas Alfa menerpa telinga dan lehernya.Wanita itu melirik jam dinding di depannya. Pukul delapan, artinya Alfa baru tidur dua jam. Luna berniat pergi. Namun Alfa tak mengizinkan.Tangan lelaki itu justru melingkari perut Luna makin posesif."Aku ada janji.""Nanti saja. Aku sudah bilang Mira agar jadwalnya diundur.""Kok gitu. Nanti mereka pikir aku tidak profesional."Kata terakhir Luna ucapkan dengan mengeja. Pasalnya Alfa telah menjatuhkan ciuman kecil di bahunya yang polos. Sementara pria itu hanya mengenakan celana pendek longgar tanpa dalaman."Katanya ngantuk. Tidur lagi sana.""Mataku ngantuk. Tapi yang di bawah sana malah bangun. Bagaimana dong?""Kan semalam sudah.""Semalam ya semalam. Sekarang beda lagi."Alah

  • AWAS PAK DOSEN, JANGAN DEKAT-DEKAT!   BAB 230 AKHIR SEORANG HELEN

    Alfa berputar guna menghindari siapapun itu yang ingin menyerangnya. Begitu melihat siapa pelakunya. Alfa menyeringai."Aku sudah berbaik hati mengampunimu. Tapi kamu malah ngelunjak.""Aku tidak rela! Aku tidak mau kamu bersamanya. Kamu milikku. Sejak dulu begitu!""Sinting!" Maki Fandi tanpa ragu.Dia menggelengkan kepala melihat kelakuan sosok di depan Alfa."Helen, berapa kali kubilang. Aku tidak pernah punya rasa padamu. Aku selalu mencintai Luna. Dari dulu sampai sekarang. Selamanya, sampai maut memisahkan!""Tidak!"Helen dengan beringas menyerang. Di tangannya ada pecahan botol yang secara random dia ayunkan ke arah Alfa."Jika aku tidak bisa memilikimu. Tidak ada orang lain yang bisa melakukannya. Bahkan Luna sekalipun."Satu pukulan menghantam lengan Alfa. Pria itu hanya meringis lirih sebelum mengalihkan tatapannya ke lengannya. "Sudah puas? Anggap saja kita impas."Helen terbelalak melihat darah mengucur dari luka Alfa. Botol kaca di tangannya jatuh dengan bunyi prang nya

  • AWAS PAK DOSEN, JANGAN DEKAT-DEKAT!   BAB 7 PUASKAN AKU KALAU BEGITU

    Di tempat lain, seorang pria berperawakan tinggi besar, baru keluar dari air port. Seorang pria mengiringi langkahnya. Kaca mata hitam, sukses menyembunyikan tatapan elang sang pria. "Di mana dia?" "Jadi dosen di kota Yogyakarta." Tawa kecil menyambut jawaban sang asisten. "Main dosen-dosenan rup

  • AWAS PAK DOSEN, JANGAN DEKAT-DEKAT!   BAB 6 MANTAN BRENGSEK

    "Kita mulai materinya. Dengarkan dan simak baik-baik. Karena akan ada tugas setelah ini."Gumam keberatan, kecewa membahana di seluruh kelas. Bisa Luna lihat, Alfa sempat mengedipkan sebelah mata padanya. Gadis itu berdecak kesal. Dia ingat bagaimana semalam Alfa memasukkannya paksa ke mobil. Me

  • AWAS PAK DOSEN, JANGAN DEKAT-DEKAT!   BAB 2 DIJODOHKAN

    "Dijodohkan? Yang benar saja!" Gerutu Luna sambil mengelap piring yang baru saja dicuci. "Tidak! Itu tidak mungkin. Mana mungkin kami dijodohkan. Kak Rio sama si buaya itu pasti bohong." Luna pilih denial untuk membuat hatinya lebih tenang. Ingatannya kembali ke kejadian dua tahun lalu. Saat Al

  • AWAS PAK DOSEN, JANGAN DEKAT-DEKAT!   BAB 1 SALAH HAJAR

    "Copet!" Teriakan itu sontak membuat semua kepala menoleh ke arah yang sama. Tak berapa lama sejumlah orang mulai mengejar sesosok pria yang mengenakan kaos hitam dan celana jeans. Laki-laki yang diduga sebagai tersangka pencopet. "Kejar dia! Jangan sampai lolos! Enak saja mencopet di wilayah ki

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status