Kegelapan yang merayap tidak datang dengan suara gemuruh, melainkan dengan keheningan yang menyesakkan dada. Matahari kini hanya menyisakan tepian cahaya perak yang sangat tipis, sebuah cincin api di langit yang tampak seperti mata dewa yang sedang memicing, mengawasi setiap jengkal pergerakan energi di Pulau Naga Tidur. Arkan berdiri di puncak menara kuno, tepat di bawah kristal inti yang mulai berpendar dengan intensitas warna kuning keemasan yang berdenyut selaras dengan detak jantungnya. Di sampingnya, Aura berdiri dengan postur tubuh yang tegak, jemarinya terkunci erat dengan jemari Arkan, menjaga agar sirkulasi energi di antara mereka tetap konstan dan tidak terputus. "Arkan, tekanannya terasa semakin berat. Seolah-olah udara di sekitar kita mulai memadat menjadi besi cair," bisik Aura. Suaranya sedikit bergetar, bukan karena takut, melainkan karena besarnya beban spiritual yang sedang mereka salurkan ke dinding perisai. Arkan melirik sejenak ke a
Baca selengkapnya