LOGINRosemary tiba di kamar 504 dengan perasaan campur aduk. Pertemuannya dengan Henry tadi tidak menghasilkan apa-apa—hanya lebih banyak pertanyaan tanpa jawaban. Ia lelah. Bukan hanya secara fisik setelah seharian ujian dan mengamati, tapi juga lelah secara mental.
Ia mengunci pintu—atau setidaknya, ia memutar kuncinya dan mendengar bunyi klik. Ia terlalu lelah untuk memeriksa apakah kuncinya benar-benar berfungs
Lima hari setelah sidang, Henry datang ke Kingsley.Ia tidak menyembunyikan kedatangannya kali ini. Ia berjalan melewati koridor utama dengan langkah tenang, memberi salam singkat pada beberapa mahasiswa yang menyapanya. Langit pagi itu cerah, dan udara sudah mulai hangat. Rosemary, Benedict, Edmund, dan Oliver sudah menunggu di kamar Benedict.Tidak banyak yang mereka lakukan sambil menunggu. Beberapa buku masih terbuka di atas meja, tetapi tidak ada yang benar-benar membaca. Oliver sempat membalik dua halaman sebelum akhirnya membiarkan jarinya berhenti di sudut kertas. Edmund duduk dengan kedua tangan bertumpu di lutut, sesekali melirik ke arah pintu. Rosemary sendiri beberapa kali melihat jam.Tidak ada yang mengatakan apa yang sedang mereka tunggu. Mereka bahkan sudah tahu berita apa yang akan dibawa Henry. Tetapi selama keputusan itu belum berada di tangan mereka, semuanya masih terasa seperti sesuatu yang bisa berubah.Benedict berdiri di dekat jendela.Pagi sudah cukup terang
Semua mata tertuju ke pintu ketika nama itu disebut.Duke Ashworth masuk dengan langkah tenang, dan tidak terburu-buru. Pintu besar menutup di belakangnya dengan bunyi berat yang menggema pelan di seluruh ruangan. Ia berjalan melewati barisan kursi dengan punggung tegak, dan tidak menoleh pada siapa pun. Hanya matanya yang sempat berhenti sekejap pada Lord Lancaster, lalu bergeser ke Rosemary. Tidak lebih dari satu detik. Tapi cukup untuk membuat Rosemary merasakan hawa dingin menjalar di tengkuknya.Ashworth berhenti di tempat yang ditentukan. Ia memberi hormat pada Ratu. Wajahnya tenang.“Duke Ashworth,” kata Ratu. “Kau tahu alasan pemanggilan ini.”“Aku bisa menebaknya, Yang Mulia.” Ashworth tersenyum tipis. “Dan aku bisa mema
Ruang Dewan kerajaan jauh lebih tertutup daripada ruang audiensi biasa.Letaknya di sisi utara istana, di balik koridor yang dijaga dua penjaga yang berdiri tanpa bergerak. Pintunya tinggi, terbuat dari kayu tua dengan ukiran lambang kerajaan di bagian tengah. Begitu pintu terbuka, bau lilin dan kayu tua langsung keluar, bercampur dengan hawa dingin batu istana yang tidak pernah sepenuhnya hilang bahkan di tengah hari.Meja panjang berbentuk setengah lingkaran berdiri di tengah. Di atasnya, beberapa lilin menyala dalam tempat dari perak. Kursi-kursi tinggi mulai terisi satu per satu oleh anggota Dewan. Pakaian mereka gelap, jubah mereka panjang, dengan pin kerajaan di dada kiri. Beberapa sudah duduk dan berbicara pelan. Beberapa lagi berdiri di dekat jendela, dan menatap ke luar.Rosemary berdiri di sisi yang diperu
Edmund duduk di meja paling ujung perpustakaan.Owen datang beberapa menit kemudian dengan membawa satu buku tipis. Ia menarik kursi di seberang Edmund, membuka bukunya, lalu menatap Edmund tanpa bicara.“Sidang Dewan tinggal dua hari,” kata Edmund.Owen tidak langsung menjawab. Ia membalik halaman, tapi matanya tidak benar-benar membaca. “Ayahku harus tahu.”“Pulanglah ke rumah, sampaikan langsung.”“Dia akan bertanya apa yang harus dilakukan."“Biarkan dia di rumah. Pengawal kerajaan yang akan datang menjemputnya. Dia tidak perlu melakukan apapun selain menunggu dan bersiap.”Owen menatap Edmund. “Kapan pengawal itu datang?”“Aku tidak tahu. Tapi mereka akan datang sebelum sidang.”“Itu saja yang perlu disampaikan?”“Itu saja.”Owen menatap buku di tangannya. Jarinya masih berada di antara dua halaman yang sejak tadi ia buka. Ia akhirnya menutupnya.“Aku akan segera berangkat.”Edmund mengangguk.Owen tidak langsung berd
Cedric dipanggil pulang keesokan harinya. Ia langsung berjalan ke ruang kerja. Di dalam, Duke Ashworth sudah duduk di belakang meja. Buku catatan cokelat tua terletak di sisi mejanya, tidak jauh dari tangan kanannya.“Duduk,” kata Ashworth.Cedric menurut.Ruangan itu begitu sunyi sampai suara jarum jam di dinding terdengar jelas. Cedric bisa mencium aroma tinta dan kayu tua dari meja di hadapannya. Ia tidak tahu kenapa ayahnya membiarkannya duduk dalam diam selama itu, tetapi ia tahu lebih baik tidak memulai percakapan lebih dulu.Ashworth masih belum bicara. Ia menatap putranya selama beberapa detik, lalu membuka laci kecil di samping meja, mengeluarkan selembar kertas, dan membacanya.Baru setelah i
Pagi datang dengan cahaya yang masuk melalui celah tirai.Henry tiba di Kingsley sebelum matahari sepenuhnya naik. Ia datang tanpa kereta mencolok, hanya dengan satu orang kepercayaan yang kini sudah dikenal Benedict. Mereka masuk lewat pintu samping, menghindari ruang utama yang mulai ramai oleh mahasiswa.Rosemary, Benedict, Edmund, dan Oliver sudah menunggu di kamar Benedict. Meja sudah bersih. Kertas-kertas tugas Langston disingkirkan. Yang tersisa hanya beberapa cangkir teh yang belum tersentuh.Henry mengetuk dan Benedict membukakan pintu. Begitu pintu tertutup, Henry meletakkan sebuah map kulit tipis di atas meja.“Hasil pemeriksaan sudah keluar,” katanya.Tidak ada yang bertanya. Semuanya menunggu.Henry membuka map itu. Dua surat tampak terselip di dalamnya, tapi kini sudah dilapisi kertas pelindung tipis."Pemeriksa menemukan kecocokan. Bentuk huruf, cara menulis angka, tekanan tinta, dan tanda tangan
“Mulai,” kata Benedict, dan ia melangkah maju.Dunia di balik topeng terasa berbeda. Jaring kawat di depan mata Rosemary mengubah sosok Benedict menjadi potongan-potongan kecil—bahu bidang, lengan kokoh, ujung pedang yang mengarah lurus ke dadanya. Suara napasnya sendiri menggema di dalam topeng, l
“Ini demonstrasi sederhana,” suara Master Alden menggema. “Ingat, ini bukan duel. Hanya demonstrasi teknik menyerang dan bertahan. Lord Harrington akan menyerang. Yang Mulia Pangeran Henry akan bertahan.”“Dan kalau aku tidak bisa bertahan?” tanya Henry dengan nada bercanda, tapi matanya tidak.“Ka
Semua mata masih tertuju pada Rosemary.Ia bisa merasakannya. Puluhan pasang mata menatapnya. Ada yang penasaran. Ada yang meremehkan. Ada juga yang menunggu dengan sabar. Jantung Rosemary berdebar kencang. Darahnya berdesir di telinga. Ia sudah berdiri. Tidak bisa mundur sekarang.“Lord Sterling t
Benedict menatap tepat ke arahnya.Mata abu-abu itu menangkap tatapan Rosemary, dan untuk sesaat tidak ada yang bergerak. Air dari rambutnya yang basah menetes ke bahunya, mengalir turun ke dadanya yang bidang. Alisnya terangkat sedikit. “Kau selalu menatap orang seperti ini, Sterling?”Benedict ti







