Paginya, Rosemary terbangun dengan kepala berat dan otot-otot yang masih berteriak. Benedict sudah tidak ada di ranjangnya. Hanya selimut yang terlipat rapi dan sisa-sisa api di perapian yang sudah jadi bara. Oliver menjemputnya setelah sarapan. Dan sekarang, mereka duduk di sudut Common Room, ruang rekreasi asrama yang mulai ramai oleh mahasiswa yang tidak punya kelas pagi. Ruangan itu terasa hangat, berbeda dari koridor loteng yang selalu dingin. Perapian besar menyala penuh, dan beberapa sofa kulit berjejer mengelilinginya. Papan catur di atas meja kecil. Koran-koran tua bertumpuk di sudut. Para mahasiswa berlalu-lalang, beberapa membaca, beberapa hanya bersandar dan mengobrol. Di meja tengah, sekelompok mahasiswa sedang bermain kartu. Tawa mereka sesekali meledak—keras, penuh ejekan, tapi bukan tawa yang bersahabat. Ini tawa orang-orang yang saling mengukur kekuatan. Uang logam bertumpuk di atas meja, bertambah dan berkurang seiring kartu dibuka. Di ujung meja itu, sedikit men
Last Updated : 2026-05-10 Read more