LOGINRosemary masuk ke dalam arena anggar disusul Oliver setengah langkah di belakangnya.
Aula itu kosong. Tanpa mahasiswa dan suara pedang yang beradu, tempat itu terasa lebih besar dan lebih dingin. Lantai kayunya yang aus berkilat samar-samar terkena cahaya matahari yang masuk dari jendela-jendela tinggi. Di sudut ruangan, Master Alden sedang duduk di bangku, mengelap sebilah pedang dengan gerakan yang lambat. Ia mendongak saat mendengar langkah kaki mHenry ditarik ke berbagai arah begitu quadrille selesai.Duke Ashford ingin bicara soal aliansi politik yang sudah lama tertunda. Earl Blackwood ingin menyampaikan undangan berburu. Dua Lady tua yang namanya sudah disebutkan dua kali tapi tidak melekat di kepala Rosemary bertanya tentang kesehatan Ratu dengan cara yang sebenarnya bertanya tentang banyak hal lain. Henry menangani semuanya dengan senyum yang sama—tenang, sopan, tidak memberikan informasi apapun yang berguna bagi siapapun yang menginginkannya.Tapi sebelum ia pergi, ia menoleh pada Rosemary. “Aku akan kembali.”“Aku tidak akan hilang.”“Itu yang membuatku khawatir.”Dan ia pergi, ditarik oleh arus bangsawan yang ti
Duchess Harrington bergerak cepat—entah dari mana, entah bagaimana, dengan cara ibu-ibu yang bergerak di ruangan ramai tanpa terlihat bergerak. Benedict baru saja melangkah menjauh dari meja minuman ketika lengannya sudah dikait. Gerakan ibunya terlalu anggun untuk disebut paksaan, tapi terlalu kuat untuk disebut permintaan. “Lady Eleanor sudah menunggu.” “Ibu—” “Satu dansa. Itu saja yang kuminta. Setelah itu kau bebas kembali ke sudutmu dan menatap dinding seperti biasanya.” Benedict melirik ke arah jendela tempat wanita misterius itu berdiri. Dia sudah tidak ada di sana. Henry sudah membawanya ke lantai dansa. “Satu dansa,” ulang Duchess, dan kali ini nadanya bukan negosiasi. Di sisi lain aula, Henry menawarkan tangannya. “Kita berda
Duke Ashford sudah menunggu di kaki tangga ketika Henry masuk.Rambutnya yang mulai memutih disisir rapi, senyumnya adalah senyum tuan rumah yang tahu bahwa kehadiran pangeran malam ini akan dibicarakan orang-orang yang tidak hadir selama berminggu-minggu setelahnya. Di sampingnya, Duchess Ashford membungkuk dengan anggun.“Yang Mulia, suatu kehormatan.”Henry membalas dengan anggukan sopan. “Terima kasih atas undangannya, Duke Ashford.”Sapaan formal itu berlangsung cepat—Henry sudah terbiasa dengan protokol ini sejak kecil. Tapi ketika Duke Ashford menoleh ke arah Rosemary, percakapan berubah dari formalitas ke sesuatu yang lebih pribadi.“Dan beliau adalah …?”
Celestine masuk tanpa suara. Sepatunya yang lembut nyaris tidak terdengar di lantai kayu. Ia tidak membawa pakaian, tidak membawa buku catatan, tidak membawa apapun kecuali kesabaran yang sudah terlatih selama puluhan tahun menangani klien yang tidak yakin dengan diri mereka sendiri.“Jadi, Nona?”Rosemary masih berdiri di depan cermin. Bayangannya sendiri menatap balik—mantel lusuh, kemeja kusam, rambut pendek. Lord Edmund Sterling. Identitas yang dikenakannya setiap hari selama berbulan-bulan yang sudah begitu melekat sehingga ia kadang lupa, kapan terakhir kali ia melepaskannya sepenuhnya bahkan di dalam pikirannya sendiri.Selama ini semua identitasku dipilihkan oleh keadaan.Aku tidak pernah bertanya aku ingin menjadi siapa.
Ruangan itu sunyi setelah nama Rosemary diucapkan.Para pelayan tidak bergerak. Celestine berdiri di sudut, menunggu. Lilin-lilin di dekat cermin besar memantulkan bayangan mereka berdua—Henry dengan tangan di saku, Rosemary dengan mantel lusuh yang tiba-tiba terasa terlalu berat.Rosemary tidak menoleh.Ia masih menatap bayangannya sendiri di cermin. Rambut pendek. Rahang terkatup. Dada yang masih terlilit kain di balik kemeja.“Sejak kapan?”Pertanyaan itu keluar pelan. Tidak marah. Tidak sedih. Hanya fakta yang ingin dikonfirmasi.Henry tidak berpura-pura tidak mengerti.“Kau bisa menebak.”
Kereta berhenti di depan sebuah bangunan batu putih dengan jendela-jendela besar yang ditutup tirai sutra. Tidak ada papan nama. Hanya ukiran kecil di atas pintu—sebuah gulungan benang dan jarum.Rosemary menatap ke luar, lalu ke Henry. “Kurasa toko jas ada di jalan berikutnya.”“Memang.”“Lalu kenapa kita berhenti di sini?”Henry tersenyum. Senyum yang sudah Rosemary kenali sebagai senyum orang yang tahu lebih dulu.“Karena kau belum siap untuk toko jas.”Ia turun lebih dulu. Membuka pintu kereta untuknya. Rosemary tidak bisa menolak. Ia mengikuti, mantel lusuhnya terasa tidak cocok di depan bangunan seperti ini. Sebelum ia sempat bertanya lagi, pintu terbuka dari dalam.Seorang perempuan setengah baya dengan rambut disanggul rapi berdiri di ambang pintu. Matanya menangkap Rosemary dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Bukan tatapan menghakimi. Tapi tatapan profesional yang sudah melihat terlalu ban
Benedict sudah berada di arena latihan anggar sebelum matahari terbit. Ini kebiasaannya—selalu begitu, bahkan sebelum Rosemary muncul dalam hidupnya dan mengacaukan segalanya. Arena yang kosong dan gelap, hanya diterangi beberapa lilin yang ia nyalakan sendiri. Lantai kayu yang din
“Apa yang kau lakukan?”Suara itu bukan suara yang Rosemary kenal. Bukan suara datar yang biasa ia dengar di arena. Juga bukan suara dingin yang memotong percakapan di Ruang Santai. Ini lebih pelan, lebih re
Perjalanan kembali ke asrama terasa sangat panjang.Oliver mengoceh di samping Rosemary—tentang permen apel, tentang teh jahe, tentang betapa mengejutkannya fakta bahwa Pangeran Henry bisa tertawa seperti orang no
Hening. Tidak ada yang menjawab untuk beberapa saat. Oliver di belakang Rosemary, mulai mempertimbangkan untuk pingsan. Mungkin kalau ia jatuh sekarang, seseorang akan mengalihkan perhatian, dan ia tidak perlu menyaksikan dua orang paling berbahaya di akademi ini menatap temannya seperti ia baru s







