Home / Romansa / Suami Pengganti Yang Perkasa / Dalang Yang Sebenarnya

Share

Dalang Yang Sebenarnya

Author: Firdashe
last update publish date: 2026-07-01 23:17:55

Mobil Adjie berhenti di pinggir jalan.

Mesinnya masih menyala. Namun tangannya tidak lagi berada di kemudi.

Tatapannya terus tertuju pada layar ponsel yang masih menampilkan video ibunya.

Wanita tua itu terlihat sedang menyapu halaman rumah kecilnya. Sesekali ia berhenti untuk menyapa seorang anak kecil yang melintas di depan rumah. Senyumnya begitu tulus, sama sekali tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang mengawasinya dari kejauhan.

Adji memutar ulang video itu.

Sekali.Dua kali.Tiga k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Rumahku Itu.. Kamu

    "Dokter!"Suara Kirana memecah keheningan lantai ICU. Ia reflek berdiri sambil terus menggenggam tangan Adji yang baru saja bergerak. Air matanya tak berhenti mengalir.Beberapa detik kemudian, dua dokter dan seorang perawat bergegas masuk."Silakan mundur sebentar, Bu."pinta perawat.Kirana menggeleng panik."Dia menggenggam tangan saya... dia benar-benar menggenggam."Dokter tersenyum menenangkan."Kami akan memeriksa kondisi beliau dulu."dengan langkah berat, Kirana mundur satu langkah. Namun tatapannya tak pernah lepas dari wajah Adji.Dokter menyinari mata Adji dengan senter kecil."Pak Adji... kalau bisa mendengar saya, coba buka mata pelan-pelan."Ruangan kembali hening.Kelopak mata Adji bergetar.Sekali.Lalu perlahan terbuka.Pandangannya masih kabur.Lampu ruang ICU terasa menyilaukan. Ia mengernyit pelan sebelum mengalihkan pandangannya ke samping.Di sana...Seorang wanita sedang menangis sambil tersenyum."Kirana..."suara Adji serak. Nyaris tak terdengar.Mendengar namanya

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Tolong ,,Bangunlahh

    Malam merambat pelan.Koridor rumah sakit yang siang tadi dipenuhi langkah kaki kini berubah sunyi. Hanya terdengar bunyi mesin monitor dari setiap ruang perawatan dan langkah perawat yang sesekali melintas.Di ruang ICU. Adji terbaring tak bergerak. Selang infus terpasang di punggung tangannya. Perban putih membalut bahu kirinya yang tertembus peluru. Wajahnya tampak jauh lebih pucat daripada biasanya.Tidak ada lagi senyum hangat yang selalu menyambut Kirana. Tidak ada lagi suara lembut yang selalu memanggilnya, "Istriku."Kirana duduk di samping ranjang. Masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat di gudang. Bercak darah yang sudah mengering masih menempel di lengan bajunya.Semua orang sudah memintanya beristirahat.Pandu.Bi Ina.Mario.Bahkan dokter.Namun ia menolak.Ia sudah berjanji untuk tidak pergi kemana-mana. Bukan setelah Adji mempertaruhkan nyawanya demi dirinya.Perlahan, Kirana meraih tangan Adji yang terasa sangat dingin. Berbeda dengan tangan hangat yang selalu meng

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Jangan Tinggalkan Aku

    Dokter!"Suara Mario menggema di lorong Instalasi Gawat Darurat.Brankar yang membawa Adji melaju cepat menembus pintu otomatis rumah sakit. Beberapa tenaga medis segera mengelilinginya."Pasien laki-laki, usia tiga puluh dua tahun. Luka tembak di bahu kiri, kehilangan banyak darah!""Tekanan darah turun!""Siapkan ruang operasi!"Kirana hanya mampu memandang dari kursi rodanya. Tangannya masih dipenuhi noda darah Adji.Darah itu mulai mengering di sela-sela jarinya, tetapi ia sama sekali tidak berniat membersihkannya.Baginya...Darah itu menjadi pengingat bahwa Adji benar-benar mempertaruhkan nyawanya demi dirinya.Pintu ruang operasi tertutup. Lampu merah di atasnya menyala. Seolah menjadi garis pemisah antara harapan dan ketakutan.Kirana menundukkan kepala. Air matanya kembali jatuh, pikirannya kalut saat ini."Non..."Bi Ina yang baru tiba langsung memeluknya dari belakang.Begitu mendengar suara wanita yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri itu, pertahanan Kirana runtuh.Ia

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Semua Telah Berakhir

    Gudang tua itu dipenuhi bau mesiu. Suara hujan yang menghantam atap seng bercampur dengan napas berat orang-orang di dalamnya.Moncong pistol masih mengarah tepat ke dada Adji. Sementara Adji berdiri kokoh di depan kursi roda Kirana.Meski wajahnya mulai pucat karena kehilangan banyak darah, sedikit pun ia tidak bergeser dari tempatnya berdiri."Apa kamu pikir ,kamu bisa melindunginya dengan keadaan seperti ini Adjie ? "pria paruh baya itu menyeringai. Nadanya jelas meremehkan Adjie"Aku tidak perlu berpikir untuk menyelamatkannya."suara Adji terdengar tenang namun menusuk."Aku memang akan melindunginya.""Kamu rela mati?"Adji tersenyum tipis mendengar pertanyaan bodoh itu. "Kalau itu harga agar dia tetap hidup, aku rela untuk mati."Air mata Kirana kembali mengalir. Tangannya mencengkeram ujung kemeja Adji hingga buku-buku jarinya memutih."Adjie,jangan ngomong sembarangan !"bisiknya."Aku nggak mau hidup kalau kehilangan kamu."lanjut Kirana yang membuat Adjie menoleh sedikit.Tat

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Aku Takkan Melepasmu

    "ADJIIIIE !!"jeritan Kirana menggema memenuhi gudang.Waktu seolah terasa begitu lambat, jantung Kirana berdebar sangat kencang. Matanya membelalak saat melihat seorang pria mengangkat pistol ke arah punggung Adji yang masih berusaha melepaskan ikatan di kedua tangannya."Di belakang!"teriak Kirana sekuat tenaga pada Adjie membuat Adjie refleks menoleh.Dor!Suara tembakan memekakkan telinga.Peluru melesat begitu cepat tanpa aba-aba.Adji memutar tubuhnya secepat mungkin. Peluru itu tidak mengenai punggungnya.Namun...Duar!"Ahh!"Peluru berhasil menembus bahu kiri Adjie. Tubuhnya terdorong hingga jatuh menghantam lantai semen."ADJI!"tangisan Kirana pecah melihat kejadian di depannya. Wajahnya seketika memucat melihat darah yang mengalir deras membasahi lengan kemeja Adji.Namun pria itu masih berusaha bangkit. Dengan tangan yang masih terikat sebagian, ia berguling menghindari tembakan kedua.Dor!Peluru kembali menghantam lantai. Percikan semen beterbangan."Majuu!"teriak Pandu dar

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Tolong, Dengarkan Aku

    Klik.Suara pelatuk yang ditarik terdengar begitu jelas.Tidak ada lagi suara hujan,tidak ada lagi suara angin. Yang terdengar hanyalah napas orang-orang di dalam gudang yang berubah berat.Kirana membeku.Tatapannya terpaku pada moncong pistol yang kini menempel di pelipis Adji. Tangannya mulai gemetar hebat."Jangan..."bisiknya lirih, hampir tak terdengar.Pria paruh baya itu tersenyum tipis melihat reaksi Kirana."Kamu punya waktu satu menit."Ia mengangkat arlojinya di tangannya, lalu mulai menghitung."Mulai sekarang."Adji menatap Kirana. Tidak ada rasa takut di wajahnya.Yang ada justru kekhawatiran."Kirana."panggilnya dengan suara yang tetap tenang meski pistol menempel di kepalanya."Dengarkan aku."Air mata Kirana mengalir tanpa henti."Jangan bicara.""Dengarkan.""Tidak...""Kirana."Nada suara Adji berubah lebih tegas.Selama menikah, baru kali ini Kirana mendengar Adji berbicara dengan nada seperti itu."Untuk sekali ini, tolong dengarkan aku."Kirana menggigit bibirnya

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Antara Ego dan Hasrat

    Cahaya silau membuat Kirana terjaga. Kirana tidak bergerak, tetap membelakangi sudut ruangan.Matahari mulai menembus celah gorden, menandakan pagi sudah tiba. Kirana menahan napas saat mendengar langkah kaki Adji mendekati ranjang. Ia sengaja mengatur irama napasnya seolah masih tertidur lelap, be

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Malam Pengantin

    PYAR!!!Bunyi pecahan gelas yang menghantam lantai marmer seketika menghancurkan keheningan kamar. Kirana tersentak, napasnya langsung memburu saat menyadari tubuh bagian bawahnya oleng. Dalam hitungan detik, botol air di nakas sudah terguling, menumpahkan isinya hingga membasahi seprai dan pakaia

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Langkah

    "AAAHHHHHH!"Jeritan frustrasi itu lolos begitu saja dari tenggorokan Kirana, membelah keheningan paviliun tak lama setelah langkah kaki Adji menghilang di selasar. Wajah Kirana merah padam karena amarah yang memuncak. Dengan napas memburu, ia menyambar bantal di sampingnya dan melemparkannya ke ar

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Jatuh Cinta Padamu

    Suasana ruang makan itu mendadak hening setelah kalimat tajam Kirana menghantam Rendy. Pandu Pranawa hanya menyesap kopinya dengan tenang, seolah-olah pertikaian di depannya hanyalah musik latar yang menemani sarapan. Sudah biasa bagi Pandu melihat keluarganya saling gigit.Adji, yang masih berdi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status