"Bau antiseptik ini... membuat kepalaku mau pecah, Dokter Arlo."Krystalia memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang langsung menghadap langit Jakarta. Di balik kaca isolasi kamar VVIP, sisa badai semalam seolah menolak untuk pergi, menciptakan atmosfer pengap yang mencekat batin.Dokter Arlo melangkah mendekat dengan jas putihnya yang rapi, memeriksa botol infus Kiya dengan gerakan yang telaten. "Tekanan darahmu sudah mulai stabil, Kiya. Tapi kecemasanmu itu yang membuat monitor jantung di sampingmu berbunyi terlalu cepat.""Bagaimana aku tidak cemas?" Kiya menatap lengannya yang tertancap jarum infus dengan pandangan lelah. "Perutku memang sudah tidak senyeri kemarin, tapi rasanya ada yang salah."Arlo menyodorkan segelas kecil obat sirup dari baki perawat dengan senyuman yang menenangkan. "Minum ini dulu. Ini obat sirup untuk membantu pemulihanmu."Kiya melirik gelas kecil itu, lalu merengut. "Terima kasih, Dokter Arlo. Tapi... boleh tidak kalau jadwalku minum obat diganti sa
Read more