Drrtt .,… drrtt… ddrrttt…Arshy meletakkan majalahnya ke atas pangkuan. Ia meraih ponsel pintar itu dan menatap layarnya. Nama 'Bunda Rahayu' terpampang jelas di sana.Perasaan bersalah seketika menghantam dada Arshy. Ia sadar betul telah pergi begitu saja kemarin sore bersama Naka tanpa sempat pamit atau memeluk wanita tua yang sudah merawatnya sejak kecil itu.Arshy menggeser tombol hijau di layar, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya."Halo, Assalamu'alaikum... Bunda?" sapa Arshy lembut, berusaha menutupi rasa gugupnya."Walaikumsalam, Arshy... Kamu di mana, Nak? Kenapa kamu pergi gak bilang-bilang sama Bunda?" suara Bunda Rahayu di ujung telepon terdengar pecah, diiringi isak tangis yang begitu pilu dan menahan sesak.Hati Arshy serasa diiris sembilu mendengar tangisan itu. Dadanya seketika membatu."Bunda... Bunda jangan menangis, ya. Arshy mohon, Bun," cicit Arshy pelan, matanya mulai berkaca-kaca. Ia mengusap pipinya yang mendadak terasa dingin. "Arshy... Arshy minta maaf
Read more