Pagi harinya, sinar matahari hangat menerobos masuk melalui celah gorden kamar yang agak kusam. Saat membuka matanya, Arshy melirik ke arah ranjang di seberangnya. Ranjang milik Tasya tampak kosong dan masih tertata rapi, seolah-olah tidak pernah ditiduri semalaman.Arshy menghela napas berat. Kejadian semalam, tatapan benci Tasya, serta tuduhan kejam yang dilontarkan saudarinya itu kembali membayangi pikirannya. Namun, Arshy berusaha menepis perasaan sedih itu. Ia bergegas bangkit, mengambil handuk, lalu mandi dan merapikan diri.Setelah selesai, Arshy keluar menuju dapur untuk membantu menyajikan makanan. Di sana, Mbak Sri sedang sibuk memindahkan nasi goreng hangat ke dalam mangkuk besar."Pagi, Mbak Sri," sapa Arshy menetralkan nada suaranya agar tetap terdengar ceria.Mbak Sri menoleh dan tersenyum hangat. "Eh, pagi, Ar. Ayo sarapan dulu, ini nasi gorengnya sudah matang."Arshy mengedarkan pandangannya ke sekeliling dapur yang sepi. "Bunda mana, Mbak?""Bunda lagi berjemur di h
Read more