"Kau terlalu berani, Kael."Suara Adrian Voss memecah keheningan di kamar mewah itu, dingin dan tajam seperti silet. Meskipun Kael baru saja mencengkeram lehernya, Adrian tidak sedikit pun menunjukkan rasa takut, justru sebaliknya, sebuah senyum miring tersungging di bibir tipisnya.Kael melepaskan cengkeramannya, tubuhnya bergetar hebat saat ia mencoba menahan insting monster yang meraung-raung dalam darahnya. Ia menatap Adrian dengan kebencian yang mendalam, sementara Elena terisak di atas ranjang, memeluk perutnya yang masih terasa hangat dengan energi yang tidak wajar."Jangan pernah sentuh dia lagi," desis Kael, suaranya parau namun penuh ancaman. "Jika bayi itu adalah bagian dari diriku, maka akulah yang memegang kendali atas hidup dan matinya, bukan kau."Adrian tertawa pelan, langkah kakinya tenang saat ia mendekati meja rias untuk merapikan kerah jasnya. "Kau salah paham, Kael. Kau bukan pemiliknya, kau hanyalah donor yang paling beruntung di dunia ini."Adrian menoleh ke arah
Read more