Suasana di dalam kamar utama mansion Voss terasa begitu menyesakkan, meski wangi parfum mahal dan lilin aromaterapi mencoba menyamarkan ketegangan. Adrian, dengan ketenangan yang dibuat-buat, duduk di tepi ranjang sementara Elena masih berdiri mematung dengan gaun yang sedikit berantakan. Adrian menatap istrinya dengan sorot mata yang penuh kelembutan yang selama ini tak pernah ia tunjukkan."Kejadian di koridor tadi... aku mengerti kenapa kau terluka, Elena," ucap Adrian dengan suara rendah yang merayu. Ia meraih jemari Elena, mengusap punggung tangan istrinya dengan ibu jari secara perlahan. "Kael hanyalah alat, tapi aku mengerti bahwa penglihatanmu tentangnya sudah jauh lebih dalam dari itu."Elena menarik napas panjang, berusaha menstabilkan detak jantungnya yang masih tidak beraturan akibat guncangan emosional. Ia menatap Adrian, mencari tanda-tanda kebohongan di wajah pria itu, namun yang ia temukan hanyalah topeng suami yang begitu sempurna. Pria ini, yang biasanya dingin dan ob
Read more