Cahaya bulan menyusup malu-malu melalui celah tirai beludru kamar Elena, membasuh lantai marmer dengan pendar perak yang dingin. Namun, di dalam ruangan itu, suhu udara terasa membara, dipicu oleh napas yang memburu dan detak jantung yang beradu tak beraturan.Kael berdiri di samping tempat tidur, sosoknya yang jangkung tampak seperti siluet predator yang sedang mengawasi mangsanya. Matanya yang merah menyala berpendar di kegelapan, menatap Elena dengan intensitas yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan wanita mana pun."Kau tahu apa yang akan terjadi jika kita melangkah lebih jauh, Elena," desis Kael, suaranya parau dan sarat akan peringatan yang nyaris tak terdengar. "Adrian bisa mencium aroma pengkhianatan ini dari jarak bermil-mil jauhnya."Elena, yang sedang duduk bersandar pada kepala ranjang, hanya tersenyum tipis. Gaun tidurnya yang berbahan sutra tipis tersingkap, memperlihatkan bahu putihnya yang mulus dan tulang selangka yang menonjol indah di bawah cahaya remang."Biarka
Read more