“Kubunuh kalian semua!”Bravino mengeluarkan revolver siap pakai dari laci di sisi ranjangnya. Sekali gerakan membuat pistol itu meledak.DOR DOR DOREntah kepala siapa yang pecah, tapi darah bersimbah dimana-mana. Jantung Ivy serasa keluar dari rongga dadanya. Kembali ia berusaha berdiri, berusaha mencari sang adik satu-satunya.Eriva jatuh di sisi Damian yang tak sadarkan diri. Adiknya itu berdarah, mewarnai pakaian Eriva yang serba putih.“Er, Eri!”Ivy memangku kepala adiknya, “Er, jangan tinggalin Kakak. Kakak bersalah sama kamu.”“Iya, Kakak salah. Kakak kotor! Kakak murahan! Aku gak mau jadi adik Kakak lagi.”Ivy menggeleng, tangisnya kian pecah saat kepala Ivy terkulai ke samping. “TIDAAAAAAAAAAKKKK!”Ivy meringis, matanya terbelalak. Dadanya bergeraik naik turun karena nafas yang terputus-putus. Dari jendela yang tirainya terbuka, ia jadi tahu bila hari telah berubah jadi gelap."Sshhh."Ivy mendesis, bagian tengah tubuhnya cukup perih. Sementara tulang-tulangnya terasa linu d
Read more