LOGIN"Maaf, Tuan. Ponsel Tuan tertinggal di merci kemarin." Driver memberikan ponsel android dengan brand lama. Layarnya pun sudah retak di beberapa tempat. Saking lama dan bututnya ponsel itu, Bravino hampir saja mengira benda tersebut adalah benda peninggalan pra-sejarah. (Maapkeun, Othor agak lebay, xixixi) Bravino tak langsung meraih ponsel itu, ia sedang mengingat siapa pemiliknya karena tak mungkin ia memiliki benda sejelek itu. Bahkan ia yakin drivernya saja pasti punya ponsel yang lebih layak. Dan akhirnya ia ingat siapa pemilik sebenarnya. "Dasar ceroboh!" omelnya. Padahal dirinya lah yang tadi malam merebut ponsel Ivy dan menyembunyikannya di laci yang ada di bagian pintu pengemudi. "Kita ke kampus Tridharma!" titahnya saat mengambil ponsel itu. Ia ingat bila Ivy memiliki jadwal kuliah pagi. Di sepanjang perjalanan ia berusaha membuka pola kunci yang ada di ponsel Ivy. Tapi tak berhasil, sampai akhirnya ponsel itu memberikan jeda agar dirinya bisa mencoba lagi. Hingga ia
Kesadaran Ivy belum kembali sepenuhnya. Ia masih melayang akibat surga dunia yang kembali diciptakan Bravino di kamar pas tadi. Jadilah ia hanya mengikuti kemana langkah Bravino menuntunnya. Tapi ucapan Bravino barusan membuatnya menganga lebar. "Naik ke sini! Giliranku untuk kamu memberikanku surga dunia itu, Baby!" Ivy menggelengkan kepala, berpikir bila dirinya mungkin saja salah dengar. Tapi ia bisa melihat bila Bravino menepuk pahanya. "Baby, kamu denger kan?" Ivy mengangguk, "Tapi buat apa?" Bravino mengacak rambutnya. "Naik ke sini, nanti saya ajari! Buka dalaman kamu!" Bravino menarik tangan Ivy, sedikit memaksa karena sugar baby-nya itu masih loading. "Ssshhh, slowly, Baby. Kamu menekan milikku," ujar Bravino sambil menurunkan resleting dress yang berada di punggung Ivy. "Ki-kita mau ituan di sini?" tanya Ivy. Padahal sebenarnya ia sudah yakin akan hal itu. Tapi ia menolak untuk percaya. "Iya, Baby. Saya gak tahan kalau masih harus nunggu sampai ke hotel atau mansion
"Kamu sudah selesai belanja?" "Hah? Hmm belum. Tadi kuliahku sampai sore, jadinya belum sempat." Jantung Ivy belum berdegup dengan normal sejak tadi tiba-tiba Bravino mengungkungnya di mobil. Dan kini lelaki itu mengingatkan dirinya tentang tugas yang ia lupakan. Sebenarnya tidak benar-benar lupa, karena Ivy mengingat hal itu ketika ia sudah sampai di rumah. Hanya saja ia merasa terlalu lelah dan juga mager untuk keluar rumah lagi. Jadilah ia berniat untuk berbelanja di keesokan hari setelah kuliah paginya selesai. Bravino memutar pergelangan tangan kirinya, melirik jarum jam yang menunjukkan waktu sekarang. "Kita shopping sekarang! Biar saya temani." "Tapi ini sudah terlalu malam. Mall kan udah tutup." Bravino tak menjawab, ia hanya mengutak-atik ponsel lalu terdengar ia menyebut nama asistennya. "Astra, bilang ke butik langganan Mamaku kalau kita mau ke sana. Lima belas menit lagi sampai." Hanya itu dan Ivy yakin bila Astra mengiyakan permintaan konyol Tuannya itu. Siapa j
"Ini kan udah jam sembilan malam, tapi masih aja!" Ivy menggerutu. Ia mengancing jaketnya agar mampu melindungi tubuhnya dari sengatan hawa dingin. Tadi sore sempat hujan, dan meski sekarang sudah reda, hawa dinginnya tetap bertahan. Untung saja Eriva sudah masuk ke dalam kamar, sehingga Ivy bisa rumah tanpa harus diinterogasi terlebih dulu. Sekitar tiga puluh menit yang lalu tanpa ada aba-aba sebelumnya, Bravino malah menelfon dan memintanya langsung bersiap. Kalau Ivy tidak salah dengar, lelaki itu mengatakan bila dirinya akan datang menjemput Ivy. Padahal tadi Ivy sudah bersiap dengan baju tidur dan juga cemilannya. Kini ia memiliki tab baru dan ingin merasakan jadi seperti teman-temannya. Menonton Drakor alias drama Korea. Cerita tentang pemilik hotel yang jatuh cinta pada seorang staffnya. Jatuh cinta bukan hanya karena pegawai wanita itu cantik, tapi juga karena wanita itu pintar dan hanya wanita itu yang mampu membuatnya luluh. Sudah sejak lama Ivy ingin menikmati hal se
“Kamu bisa keluar sekarang! Ke kampus diantar driver!” Pesan bernada perintah yang sangat otoriter itu tentu saja berasal dari Bravino. Ivy yang memang sudah menunggu sedari tadi pun segera beranjak dari tempatnya duduk. Sekali lagi ia menengok ke belakang, memastikan bila tak ada barang miliknya yang tertinggal. Dan karena memang tak ada, jadilah ia keluar dari ruangan itu. Ia mendapati ruangan tempatnya memuaskan hasrat si papa gula tadi telah kosong melompong. Tak ada satu orang pun di sana. Wajah Ivy otomatis memerah saat ia mengingat apa yang tadi ia lakukan bersama Bravino di atas meja kaca tersebut. Seandainya tadi sang sugar daddy tak mendapatkan tamu dadakan, sudah pasti lelaki itu tak akan melepaskan Ivy untuk waktu yang cepat. Segera ia menggeleng, berusaha mengenyahkan pikiran nakalnya itu. "Fokus, Ivy. Fokus!" “Permisi, Nona.” “Ya?” Ivy menemukan Astra berdiri di ruangan Bravino. Lelaki berambut klimis dan kacamata itu menatap dengan datar padanya. “Tuan Bravino m
Hawa dingin Ivy rasakan sesaat setelah dia menuruti perintah Bravino. Roknya masih terpasang rapi, namun tidak dengan underwear-nya. Ivy berdiri dengan posisi yang membuatnya merasa rapuh. Dia melebarkan kedua pahanya di atas meja dan di depan pria yang menatapnya seperti predator itu. Wanita itu menggigit kuat bibirnya untuk menahan desahan yang hampir keluar dari bibirnya saat Bravino memulai aksinya. Ivy berpegangan pada ujung meja. Ujung jari kakinya menekuk ke arah dalam. Pahanya menegang, ingin menutup tapi tak mampu, karena Bravino menahannya dan sedang meningkahinya di sana. "I always like your smell. Kamu emang beda." Ivy tak mengerti apa itu pujian atau sindiran. Di rumah Ivy hanya punya sabun biasa, bukan sabun-sabun mahal seperti di rumah Bravino. Jangankan sabun, untuk makan dengan cukup gizi yang layak pun ia harus bekerja keras. Ivy tersentak, memekik dengan suara tertahan saat ia merasakan gelombang sensasi yang lembut dan perlahan berubah menjadi cepat, datang







