Share

Polos Lebih Baik

Penulis: Mrs Anggez
last update Tanggal publikasi: 2026-05-10 17:04:05

"Ivy.”

Ivy berbalik karena panggilan yang ditangkap Indera pendengaranya. Senyumnya berkembang pada si pemanggil.

“Hai, Dam. Kamu mau ke mana?”

“Aku mau ke kantor. Kamu mau ke kampus?”

Ivy menganggukkan kepala. “Yap. Aku ada kuliah pagi ini.”

Damian ikut tersenyum. Bagai mendapat mood booster, senyum manis yang Ivy berikan akan memberi banyak warna bagi harinya. Meski pekerjaan yang menumpuk banyak telah menanti.

Lelaki itu adalah pahlawan bagi Ivy dan Eri. Karena Damian lah Ivy dan adiknya itu bisa bertahan hidup dengan cukup layak hingga sekarang.

“Ayo naik. Aku anter kamu sekalian. Aku harus meeting sama klien dan itu searah dengan kampus kamu.”

Tanpa harus menunggu lama, Ivy langsung menganggukkan kepalanya. Ia naik ke dalam mobil Damian yang sudah lelaki itu bukakan pintunya dari dalam.

“Eri mana?”

“Eri udah keluar dari pagi. Dia bilang akan mendaftar ke kampus pilihannya,” jawab Ivy sembari memakai seat belt.

“Eri gak mau nyoba di kampus kamu aja? Setidaknya kalau di sana kan kamu udah tahu seluk beluk kampus kamu. Nantinya juga kamu bisa kasih banyak advice buat Eri.”

Ivy menggelengkan kepala. “Eri bilang dia mau mengambil jurusan psikologis. Itu gak ada di kampus aku.”

“Wow, anak itu ternyata mengambil jurusan yang cukup mengagumkan”

Ivy terkikik. “Justru menurut Eri, dia mengambil jurusan itu supaya gak terlalu susah belajar. Menurut dia, belajar tentang apa yang ada di otak ataupun hati manusia, juga segala hal rumit tentang kehidupan, itu lebih baik dibandingkan menghafal istilah ataupun strategi tentang bisnis manajemen.”

Damian ikut tertawa bersama dengan Ivy. Ia pun setuju. Dari dulu Eri memang paling susah kalau disuruh belajar. Sangat berkebalikan dengan Ivy.

Itu yang menyebabkan Ivy bisa berkuliah dengan beasiswa full, sedangkan Eri harus menempuh jalur umum.

Ponsel yang berdenting membuat tawa Ivy dan Eri berakhir. Ivy otomatis menelan ludah kala membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya.

“Siang ini, jam dua. Aku sudah buat janji untuk kamu dengan dokter kandungan. Pasang kontrasepsi hari ini juga!”

Ivy menghela nafas panjang. Hal itu menarik perhatian Damian yang menyetir di sampingnya.

“Chat dari siapa?”

“Hah? Oh ini, ini teman kampusku,” dusta Ivy dalam jawabannya.

Yah mau bagaimana lagi? Masa iya Ivy harus mengatakan bila sekarang dirinya bukan hanya pekerja paruh waktu dengan lima pekerjaan sekaligus. Dan hari ini akan berhenti di ke lima kerja paruh waktunya.

Melainkan ia sudah memiliki satu pekerjaan utama yang tak memiliki jam kerja tertentu karena harus sesuai dengan keinginan si pemakainya.

Apalagi kalau bukan sebagai sugar baby? Pemuas nafsu bagi lelaki yang Ivy hanya ketahui namanya saja. Bahkan usia yang tercantum dalam kontrak yang semalam Ivy tanda tangani pun lupa ia perhatikan.

Memikirkan itu saja sudah membuat Ivy merasa sangat hina. Meski mungkin sebentar lagi ia tak harus bekerja membanting tulang tanpa mengenal istirahat selain tidur malam, karena ia akan memiliki uang yang cukup dari Bravino. Setelah lelaki itu mereguk banyak kenikmatan dari dirinya.

Ponsel Ivy berdenting lagi. Kembali muncul pesan dari orang yang sama.

“Kenapa tidak menjawab padahal kamu sedang online? Aku tidak suka!”

Akhirnya Ivy mulai menarikan jari di atas huruf yang berada di keyboard. Berusaha menjawab dengan dua huruf.

“OK.”

Setelahnya Ivy kembali menghela nafas dengan berat. Itu membuat Damian makin penasaran.

“Kenapa? Kamu ada masalah? Coba cerita ke aku.”

“Ng-nggak kok. Aku gak apa-apa.”

“Terus kamu kenapa? Jangan bohong sama aku, Vy. Aku mengenal kamu bukan satu atau dua hari aja.”

“Iya, aku gak apa-apa. Aku … aku cuma malas karena teman kampusku mengabari bila kami memiliki tugas kelompok. Padahal kan hari ini aku banyak pekerjaan.”

Ivy yang bisa dihitung jari kalau berbohong, kini sangat lihai dalam merangkai kebohongan. Ivy berusaha menampilkan senyumnya, berusaha untuk terlihat baik-baik saja.

“Are you sure? Kamu tahu kan, aku akan selalu ada buat kamu. Jadi, kalau ada apa-apa atau kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa cerita ke aku,” pinta Damian lagi.

“Iya, aku tahu. Kamu memang Kakak terbaik di dunia ini.”

‘Tapi aku gak mau jadi Kakak kamu, Vy. Aku mau jadi pria-mu,’ balas Damian dalam hati. Hal itu tak ingin ia ungkapkan dengan gegabah karena takut ditolak.

Sulit merubah status “Kakak” menjadi Pacar”. Apalagi bagi mereka yang lahir dan tumbuh bersama sejak kecil.

“Ya udah. Kamu pulang jam berapa? Biar nanti aku jemput aja sekalian. Jadinya kamu kan gak capek naik kereta lagi. Gimana?”

Ivy segera menggeleng. “Gak usah Dam. Aku belum tahu selesainya jam berapa. Lagian habis ini aku juga mau kerja kok,” kilahnya.

Baru begitu saja penolakan yang Damian berikan, lelaki itu sudah merasa sangat down. Apalagi kalau sampai cintanya yang ditolak. Mungkin dia akan mencari jurang dan terjun ke dalamnya.

“Ya sudah. Tapi kalau kamu mau dijemput, jangan lupa buat hubungin aku. Okey?”

Damian menurunkan Ivy di pelataran kampus. Ivy harus bergegas agar tak terlambat. Tak terlambat dalam menyelesaikan mata kuliah dan juga tak terlambat untuk menyelesaikan perintah si Daddy.

***

“Singkirkan saja dia kalau dia tidak tahu diri. Dia harus paham sudah berurusan dengan siapa!”

Suara Bravino yang mengancam melalui telepon tak hanya menakuti teman bicara atau juga orang yang akan mendapatkan akibat dari kemarahannya.

Tapi juga pada Ivy yang sedang berdiri di ambang pintu. Setelah dari Dokter, Ivy diantarkan driver ke mansion milik Bravino sesuai dengan instruksi lelaki tersebut.

Bangunan mewah saksi bisu dimana Ivy merubah statusnya dari bersegel menjadi non segel. Dari pekerja paruh waktu biasa jadi sugar baby full time.

“Come here,” ujar Bravino saat matanya menangkap sosok mungil di depan pintu kerjanya.

Dengan takut Ivy mulai melangkah mendekat.

“Kamu udah pasang kontrasepsi?”

“Sudah.”

“Sini, jangan duduk di sana!”

Bravino menarik tangan Ivy, membuat wanita yang berusia sepuluh tahun lebih muda darinya itu duduk di pangkuan.

“Kamu pasang kontrasepsi apa? Tablet atau suntik?”

“Dokter Sonya bilang, aku lebih baik pakai yang suntik tiap bulan di tanggal yang sama. Agar tidak lupa.”

“Good. Di usia kamu sekarang kamu sedang dalam masa sangat subur. Jangan sampai lupa, jangan sampai ada monster kecil yang tumbuh di sini. Aku tidak mau punya anak!” ujar Bravino sambil meremas pelan perut Ivy.

Ivy merasakan ketegangan. Entah karena sentuhan Bravino atau karena nada suara penuh kebencian yang ia dengar dari sang sugar daddy.

“Hei jangan tegang begitu. Sekarang kamu ke atas, ke lantai dua tempat kita kemarin malam. Pakai salah satu lingerie yang ada di sana, and surprise me. Aku akan menyusul tiga puluh menit lagi setelah pekerjaanku selesai.”

Ivy langsung berdiri dan berbalik menghadap ke arah Bravino. “Ada yang aku mau bicarakan.”

“Apa?”

“Aku belum pamitan di tempatku bekerja. Dan aku … katanya kamu mau memperkerjakan aku di kantor.”

Meski memang dirinya akan menjadi sarana pemuas nafsu lelaki, tapi Ivy tetap saja menginginkan pekerjaan normal.

“Biar anak buahku yang mengurus semuanya! Kamu tinggal tunggu kabar saja kapan kamu bisa mulai bekerja di perusahaanku. Sekarang cepat lakukan apa yang aku perintahkan! Kamu tahu kan apa yang terjadi kalau sampai kamu membuatku menunggu lagi?!”

Ivy berjengkit ngeri. Memutar tubuh lalu keluar dari ruang kerja Bravino. Meninggalkan Bravino yang hanya tersenyum sangat tipis.

“Dasar anak kecil,” dengusnya geli.

***

Sementara di kamar, Ivy menatap takjub di dalam walk in closet yang ada di kamar itu. Ada satu rak khusus yang dari ujung kanan hingga ujung kiri berisi lingerie. Mulai dari yang berbahan satin, jaring-jaring hingga yang hanya berbentuk selembar kain yang berbentuk seperti saringan tahu karena saking transparannya.

Ini untuk pertama kalinya Ivy melihat semua itu secara nyata di depan matanya. Apalagi untuk memakai.

“Aku harus pakai yang mana?” monolognya kebingungan. Belum juga dipakai, ia sudah merasa sangat malu.

“Warna merah, hitam atau putih? Ungu atau pink? Kenapa banyak sekali sih,” keluhnya sembari mulai memilah.

Dan setelah beberapa lama, Ivy menjatuhkan pilihan pada lingerie merah dari bahan satin yang memiliki panjang hanya sampai menutupi seperempat pahanya. Lingerie itu didampingi dengan dalaman berwarna senada.

“Apa aku harus mandi dulu?”

Ivy meraih handuk yang ada di dekatnya. Ia pikir waktunya masih lama, jadilah ia dengan sangat berani membuka bajunya hingga tak ada satu helai kain pun yang menempel di kulitnya.

Ia merasa leluasa karena di kamar itu hanya dirinya seorang. Ivy juga penasaran bagaimana dirinya dengan pakaian seksi seperti itu.

Ivy meraih lingerie tadi, mencoba mengepaskannya di depan cermin, tanpa ingat bila ia sedang berpolos ria. Hingga satu suara menyadarkannya.

“Sepertinya aku berubah pikiran. Aku gak mau melihat kamu pakai lingerie, aku lebih suka kamu polos seperti ini.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   28 Apa Hubungan Dua Wanita Itu?

    "Sampai di dalam langsung istirahat! Jangan begadang lagi. Beberapa malam ini kamu gak cukup istirahat!"Nada Bossy itu tentu saja keluar dari mulut Bravino. Dan itu membuat Ivy merotasi bola matanya."Gara-gara siapa coba aku gak istirahat dengan cukup?" cebik Ivy dengan suara lirih."Saya masih bisa denger kamu bilang apa."Ivy berbalik lalu tersenyum manis. Sangat menggemaskan dengan kerutan di pangkal hidungnya."Ups sorry," cicit Ivy lagi.Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saat Bravino mengantar Ivy hingga ke depan rumah. Ternyata urusan di Surabaya memakan waktu cukup lama, sehingga rencana kepulangan sore pun harus tertunda.Tapi bagi Ivy itu tak jadi masalah. Karena jadi ada waktu lebih yang membuat ia bisa jalan-jalan sebentar. Tanpa Bravino tentunya, karena lelaki itu terlalu sibuk.Jadilah Ivy hanya diikuti oleh bayangan lelaki itu. Thomas dan satu lagi temannya mengikuti kemana pun Ivy melangkah.Ivy puas karena ia bisa membelikan oleh-oleh untuk Eriva, Damian jug

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   27 Ganti Rugi

    Ivy membuka matanya dengan berat hati. Ingin rasanya tidur lebih lama tapi itu tak mungkin. Yang ada ia bisa sakit kepala karena kebanyakan tidur.Dari kemarin memang hari Ivy hanya diisi dengan empat hal. Ditiduri, tidur, mandi, makan lalu ditiduri kembali. Siklus hidupnya selama di Singapura hanya berkutat pada empat aspek itu saja.Ivy mengedarkan pandangan, dan lagi-lagi kosong. Ia kembali ditinggal setelah habis-habisan ditiduri. Tapi kali ini ia tersenyum.Ingatannya kembali pada sesi bercintanya dengan Bravino. Lelaki itu selalu saja punya kejutan dalam proses beradu peluh dengannya.Seperti tadi malam. Ivy tak habis pikir bagaimana caranya Bravino memompa dirinya, saat ia berada di dalam gendongan Bravino. Bahkan itu dalam posisi sambil berjalan.Lalu Bravino menyandarkan punggung Ivy di dinding berlapis wallpaper warna coklat krem.Di sana lelaki itu melumat habis bibir Ivy sambil terus memompa. Dan saat klimaks Ivy dapatkan, Bravino malah merunduk, menghisap puncak dadanya d

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   26 Rencana Rere

    Di apartemen, Rere sedang tersenyum menatap dua belas angka di dalam kontak ponselnya. Ia memberi nama Ivy pada kontak tersebut.Rencananya meminta nomor telepon Ivy berjalan lancar. Eriva memberikannya tanpa ada drama sama sekali."Gue yakin pasti gue bisa minta tolong sama Ivy. Setidaknya mungkin gaku bisa tahu informasi tentang kamu, Bi," monolognya penuh harap.Ia melirik bagian pojok kanan atas ponselnya. Sudah pukul sepuluh malam. Harusnya belum terlalu malam untuk menghubungi Ivy.Mendadak tangan Rere bergetar. Niat dan tekad yang tadi sudah kuat menariknya mundur."Tapi gue harus bilang apa? Gue cuma kenal Ivy itupun dari cerita Raisa. Jadi gue harus bilang apa kalau dia nanya. Apa gue minta tolong Raisa dulu ya?"Rere menggeleng kuat. "Gak usah ngekhawatirin hal yang belum terjadi, Re. Cukup telfon dan hal lainnya nanti baru lo pikirin," gumamnya pada diri sendiri.Rere menekan ikon telepon berwarna hijau, dan tak lama nada sambung pun terdengar. Namun, hingga dering ke lima,

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   25 Peluang

    Ivy berdiri di depan stand mirror, memperhatikan pantulan tubuhnya di sana. Kini ia tengah sendiri, sudah mengenakan gaun berwarna hitam one shoulder.Gaun itu adalah gaun yang ia temukan di atas kasur ketika terbangun sore tadi. Dengan tubuh polos yang terbungkus selimut.Hampir dua jam ia habiskan untuk bergelut basah dengan Bravino. Ivy merasa seperti bercinta dengan lelaki yang berbeda dengan yang menyiksanya semalam.Kalau tadi malam Bravino mencium dan melumat bibirnya sampai ada bagian yang berdarah. Siang tadi, lelaki itu hanya melumatnya dengan sangat lembut tapi sangat memabukkan.Tak ada desakan dan paksaan sampai Ivy membuka mulutnya, membiarkan lidah Bravino menjelajahi isi mulutnya. Dan ia pun membalasnya dengan sama hangat juga lembutnya.Begitu juga ketika tangan dan mulut Bravino berpindah ke bagian tubuh Ivy lainnya. Membuat Ivy terlena dan lupa dengan perlakuan kasar yang Bravino berikan semalam.Sebut Ivy sebagai wanita gila yang tak punya harga diri, sebegitu muda

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   24 Penghapus Luka

    Ivy duduk di depan jendela yang menyajikan Singapura yang terlihat sangat teratur. Tak ada carut marut barisan kendaraan yang sedang berlomba ingin mengarungi jalanan. Semuanya terlihat berbaris dengan rapih dan teratur.Pohon-pohon rindang berdaun hijau sangat menyejukkan mata. Menenangkan hati yang sempat sakit seiring dengan sakit di sekujur tubuh Ivy.Dan tak jauh dari Ivy, Bravino sedang duduk bersama Astra. Membicarakan pekerjaan, dimana itu adalah tujuan utamanya ke negara ini. Entahlah sudah berapa lama, sejak Dokter selesai memeriksa kondisi Ivy dan memberinya obat penghilang rasa sakit juga vitamin.Meski begitu, sesekali sudut mata Bravino mencari tahu apa yang Ivy lakukan."Begitu saja. Nanti seperti biasa, kirim salinan dokumennya ke email saya.""Baik, Tuan."Astra kemudian pamit undur diri. Sedangkan Bravino, ia berdiri dan berniat melangkah mendekati Ivy yang masih duduk diam seperti boneka barbie hidup.Sejenak Bravino ragu, apa dirinya yang ingin mendekati Ivy adalah

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   23. Bravino=Rungkad=Ivy

    Cahaya terang dari celah tirai menembus ke dalam kelopak mata Ivy. Rasanya ia tak ingin membuka mata, mungkin lebih baik bila selamanya seperti itu. Ia tak ingin bangun hanya untuk kembali menjalani hidup yang penuh kenestapaan mengerikan ini.Perlahan Ivy membuka matanya yang terasa lengket. Akibat air mata dan sisa kotoran setelah tidur.Badannya sendiri tak terlalu lengket, karena entah di jam berapa, ia merasakan sisi ranjang yang Bravino tiduri bergerak. Ivy tahu lelaki kejam itu meninggalkannya lalu masuk ke kamar mandi.Ivy sempat menangis lagi, sedih akan nasibnya yang begitu naas dan memalukan.Lalu ketika Ivy hampir saja terlena akan letih karena kantuk juga tangisnya, ia merasa ada kain basah yang terasa hangat, menyusuri kulitnya dengan hati-hati dan lembut.Ivy tersentak, masih dengan mata yang terpejam karena terlalu takut menatap Bravino. Ia takut sugar Daddy-nya itu akan melakukan hal mengerikan lagi. Tapi kemudian lelaki itu bersuara."Kamu tidur aja, kamu pasti capek

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   Jadi Sugar Baby

    “Jadi simpananku, dan aku akan jadi sugar Daddy kamu. Kamu terlihat masih sangat muda, tapi aku menyukai tubuhmu. Kamu tidak punya pilihan lain, take it atau selamanya kamu tidak akan pernah pergi dari rumah ini dan juga tidak akan bertemu dengan adikmu!”Butuh waktu yang cukup lama untuk Ivy mence

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   Sugar Daddy

    Tidak tahu sudah berapa lama Ivy tertidur, yang ia tahu hanyalah ketika ia bangun jendela sudah menunjukkan langit yang gelap berbeda ketika tadi siang ia masuk ke dalam kamar itu."Jam berapa ini? Ya Tuhan, ini udah malam. Aku harus cepat pulang, Eri pasti khawatir dan mencariku," monolognya.Ivy

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   Perawan

    “Aku mohon… tolong berhenti,” suara Ivy pecah di antara napas yang terengah. Tangannya yang kecil mencoba mendorong dada lelaki itu namun sia-sia.Tubuh Bravino terlalu besar untuk dia lawan, pria itu benar-benar menutup seluruh ruang geraknya.Bravino mencium rambut Ivy sambil tersenyum miring, me

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   Awal Mula

    “Ivy, kau tahu ini jam berapa?!” Arivy Zaliana Muchlis, biasa dipanggil Ivy, hampir melompat karena bentakan yang ia terima baru saja. “Ma maaf, Pak.” “Minta maaf tidak akan membuat saya menghasilkan uang! Cepat kerja sana! Karena kamu, saya sudah kehilangan beberapa pesanan antar. Sekali lagi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status