Share

Jadi Sugar Baby

Author: Mrs Anggez
last update publish date: 2026-05-10 17:03:29

“Jadi simpananku, dan aku akan jadi sugar Daddy kamu. Kamu terlihat masih sangat muda, tapi aku menyukai tubuhmu. Kamu tidak punya pilihan lain, take it atau selamanya kamu tidak akan pernah pergi dari rumah ini dan juga tidak akan bertemu dengan adikmu!”

Butuh waktu yang cukup lama untuk Ivy mencerna apa yang baru saja lelaki tampan bak titisan dewa tapi sayangnya brengsek, itu katakan.

“Jangan pasang muka bodoh seperti itu. Say yes aja, biar semuanya lebih mudah.”

Kembali Ivy dibuat tercengang. Baru saja ia diminta menjadi sugar baby lelaki yang Ivy perkirakan minimal lima tahun lebih tua dari dirinya. Yang kalau dibahasakan dengan kasar, ia harus jadi pemuas nafsu lelaki itu.

Pemuas nafsu atau sama dengan pekerja se*s komersial, penjaja tubuh dan sebutan lainnya untuk profesi tersebut. Mengingat itu, Ivy langsung melayangkan penolakan.

“Syarat gila macam apa itu? Setelah apa yang kamu lakukan dengan seenaknya, sekarang kamu malah ngancam aku? Apa kamu benaran udah gila?!” teriak Ivy tidak terima.

Bravino maju dan langsung mencengkram rahang Ivy dengan kuat. Membuat Ivy meringis kesakitan karena itu.

“Aku sudah bilang, kamu tidak punya pilihan lain. Dan aku memang tidak memberi kamu pilihan, melainkan langsung menentukan apa yang harus kamu lakukan setelah ini.”

Bravino melepaskan cengkramannya dan berdecih, meremehkan Ivy. Kalau saja tadi ia tak puas dengan apa yang Ivy berikan, mungkin saja ia sudah melemparkan wanita itu kepada para anak buahnya di luar kamar. Terserah mau diapakan, ia tak akan peduli.

“Dan apa tadi? Kamu bilang aku gila? Yah, kalau kamu mau ngeliat aku menggila, aku akan dengan senang hati menunjukkannya,” desis Bravino.

Lelaki itu menarik selimut yang membungkus tubuh Ivy dengan kasar. Meski Ivy sudah menahannya, tapi tenaga wanita itu tak berarti apa-apa bagi seorang Bravino.

Bravino ingin kembali melakukannya pada Ivy, ia bahkan sudah berhasil mengungkung tubuh polos tanpa sehelai kain pun pada diri Ivy di atas tempat tidur.

“Tolong. Tolong aku.”

Ivy berteriak sekuat yang ia bisa. Kalau tadi ia mengijinkan lelaki itu menidurinya, tapi tidak dengan sekarang. Ini tak benar dan harus secepatnya dihentikan.

“Tolooooooong.”

Ivy kembali menjerit memohon pertolongan, kaki dan tangannya berusaha ia gerakkan untuk menghalau tindakan Bravino.

Bravino ingin menampar Ivy agar wanita itu mau diam dan tak menyulitkannya, tapi ia mendapatkan ide yang lebih baik dari itu. Lebih lembut tapi ia yakin akan lebih manjur.

Dengan kedua tangan, Bravino menahan tangan Ivy ke atas. Sedang kaki wanita ia tahan dengan pahanya. Sempat terdistraksi akan bagian depan Ivy yang membusung tapi ia tahu mana yang seharusnya harus ia prioritaskan sekarang.

“Kalau kamu terus melawan, aku akan memerintahkan orang untuk menculik adik kamu, dan kamu tidak akan bertemu dia lagi untuk selamanya!”

Perlawanan Ivy seketika terhenti. Ancaman itu berhasil membuatnya takut.

Ia rela mati demi adiknya. Tidak ingin sampai adiknya yang jadi korban hanya karena ia yang tak sanggup menuruti permintaan lelaki pemerkaos gila ini.

Bravino tersenyum miring. Ia mengerti bila ancamannya itu sangat berpengaruh, membuatnya merasa menang.

“Jadi apa yang mau kamu pilih?” tanya Bravino lagi.

Ivy masih diam, otaknya bekerja dengan sangat keras. Ini bukan keputusan mudah baginya.

“Come on, Baby. Aku gak punya waktu banyak untuk ini semua,” lirih Bravino yang membuat Ivy bergidik ketakutan.

Bravino menjulurkan lidah, menyapa kulit leher hingga dada bagian atas Ivy. Menciptakan titik-titk kecil yang menonjol di atas permukaan Ivy.

“What, Beb? Tell me now. Kamu sudah cukup tahu kalau aku bukan orang yang sabar, bukan?”

Air mata Ivy mengalir. Ia harus mengambil keputusan yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya. Yah, pasti akan ia sesali.

“A-aku mau,” jawab Ivy dengan lirih.

“Mau apa? Yang jelas!” geram Bravino yang otomatis membuat Ivy bergidik ngeri.

“Ma-mau jadi sugar baby kamu,” sahut Ivy dengan air mata yang mengalir. Ia sama sekali tak menyangka bila dia akan menjual dirinya sendiri, secara sadar.

Bravino tersenyum miring. “Pilihan yang tepat. Setelah ini kamu tidak akan pernah menyesali keputusan kamu.”

“Ta-tapi aku mau minta satu hal.”

“What?”

“Tolong jangan lakuin ini ke aku lagi. Punyaku masih sakit banget. Dan … Dan aku harus segera pulang, adikku sendirian di rumah,” cicit Ivy dengan terbata-bata. Ia takut kalau-kalau tangan besar Bravino mendarat di pipinya lagi.

Melihat wajah Ivy yang memelas, membuat Bravino tak tega. Ia bangkit, mengambil selimut yang sudah tergeletak menggenaskan di lantai. Benda itu ia lemparkan ke atas tubuh Ivy.

“Oke, kamu mandi dulu. Nanti baju kamu yang baru akan ditaruh ART di atas tempat tidur. Habis ini kamu harus tanda tangan perjanjian untuk jadi simpananku.”

Hati Ivy mencelos, kata simpanan, sugar daddy atau sugar baby itu membuatnya merasa sangat hina.

Andai saja ia tak terlambat, atau sekalian saja tidak mengantarkan makanan ke mansion terkutuk ini. Lebih baik ia dipecat, dari pada ia harus menjual dirinya sendiri.

Sungguh menyedihkan.

Ivy mengangguk. Ia pun hanya mengikuti Bravino melalui mata, ketika lelaki itu masuk ke sebuah ruangan dan keluar lagi setelah berpakaian lengkap.

“Cepat! Jangan bikin aku menunggu lagi!” titah Bravino yang membuat Ivy langsung berjalan dengan selimut yang mengelilingi tubuhnya. Menahan sakit pada bagian bawahnya.

Bravino mendelik kesal, menarik nafas dan membuangnya cukup kasar. Ia sebenarnya malas untuk berurusan dengan perempuan.

Setelah Ivy masuk ke kamar mandi ia berpindah ke ruang kerjanya, ia memerintahkan orang untuk mengantarkan baju buat Ivy, dan menghubungi Jhon untuk memakinya karena ia sampai salah meniduri orang.

Puas memaki, Bravino menghubungi orang untuk mencari tahu tentang kehidupan Ivy. Hal itu bukan hal yang sulit bagi Bravino. Tak perlu menunggu lama, ia sudah bisa mendapatkan apa yang ia mau.

Matanya menatap serius pada setiap informasi mengenai Arivy Zaliana Muchlis, wanita yang baru saja ia renggut mahkotanya secara paksa.

Melihat kekurangan Ivy dari segi ekonomi membuat Bravino menemukan celah di mana ia bisa mengikat wanita sesuka hatinya.

Bravino belum tahu ia akan membuat Ivy menjadi simpanannya dalam jangka waktu panjang atau pendek. Karena memang hal ini pun adalah kali pertama ia lakukan.

Sebelumnya ia hanya berhubungan satu kali dengan tiap wanita yang ia bayar.

Alasannya adalah karena semua rasa wanita bayaran itu sama saja.

Sedangkan Ivy terasa sangat berbeda. Bravino merasa miliknya sangat cocok dengan milik Ivy, seakan milik Ivy tercipta hanya untuknya. Hanya satu kali bersatu, tapi mampu membuatnya terus terbayang.

Bravino kembali ke kamarnya. Di sana ia mendapati Ivy sedang duduk di atas sofa dengan pakaian yang baru. Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas ketika melihat pakaian yang ia pesan sangat cocok untuk wanita itu.

“Ini. Baca dan kemudian tanda tangani!”

Ivy meraih dokumen yang Bravino berikan. Matanya mulai membaca identitasnya yang sangat lengkap di halaman pertama, entah dari mana lelaki itu menemukannya.

Lalu di bawahnya ada beberapa pasal yang sembilan puluh persen adalah kewajibannya sebagai simpanan alias baby-nya sang papa gula.

“Intinya, kamu harus siap sedia kalau aku membutuhkan kamu. Jadwal rutinnya adalah setiap weekend, tapi tidak tertutup kemungkinan aku butuh kamu di weekday. Nanti akan aku hubungi, dan tidak ada alasan untuk kamu menolak.”

Bravino menjeda ucapannya, ia butuh melihat reaksi wanita yang masih duduk di tempatnya.

“Hubungan ini akan menjadi rahasia dan kalau sampai ini terbongkar, kamu akan dimasukkan ke dalam penjara. Setelah ini kamu juga dilarang untuk bekerja, karena aku yang akan memenuhi semua kebutuhan kamu juga kehidupan adik kamu termasuk kuliahnya. Kalau kamu pintar dan aku puas, tidak tertutup kemungkinan aku akan memberikan bonus yang jumlahnya tak pernah kamu bayangkan sebelumnya. Aku sangat menghargai pekerjaan tiap orang sesuai dengan value juga effortnya.”

Ivy menatap Bravino. Ingin mencoba apa ia masih bisa bernegosiasi dengan lelaki itu.

“Tapi, aku juga masih kuliah. Dan kalau aku sama sekali tidak bekerja, nanti orang atau adikku akan mempertanyakan aku mendapat uang dari mana. Kamu bilang hubungan kita ini adalah rahasia bukan?”

Bravino berpikir, yang Ivy katakan memang tak ada salahnya. Setelah menghela nafas, ia lalu berkata. “Oke, kamu boleh kuliah, dan untuk masalah bekerja, hanya boleh di satu tempat saja.”

Ivy tersenyum lebar, membuat matanya yang hitam bening itu berbinar. “Terima kasih, Tuan.”

“Tapi kamu harus bekerja di perusahaanku. Sebagai asisten pribadiku. Ini adalah keputusan final dan aku tak mau diganggu gugat. Dan satu lagi, kamu tidak boleh jatuh cinta sama aku, aku benci hubungan dan perasaan menjijikkan seperti itu! Hubungan kita hanya terbatas dalam masalah ranjang jadi jangan pernah melibatkan hati di dalamnya.”

Akhirnya Ivy hanya bisa menganggukkan kepala untuk semua yang Bravino katakan. Lagi pula ia tak punya pilihan lain, bukan?

Masalah hati? Ia pun tidak pernah kepikiran untuk jatuh hati pada lelaki kasar, tidak bermoral dan bossy seperti Bravino.

“Oke, sekarang aku antar kamu pulang. Jangan coba-coba lari dariku, karena aku pasti akan menemukan kamu bahkan di ujung dunia sekalipun!”

Tanpa memberitahukan alamatnya, Bravino berhasil mengantarkan Ivy tepat di depan rumah wanita itu.

“Besok anak buahku akan menjemput kamu untuk memasang alat kontrasepsi bulanan. Aku tidak suka memakai pelapis karet itu!”

Ivy mengangguk lagi, dan terkejut ketika mendapati Bravino mengecup pelipisnya. Apalagi karena lelaki itu berucap dengan nada rendah, “Good night, Beb.”

Ivy turun dari mobil dan menatap mobil Bravino yang bergerak menjauh. Dan ketika memasuki rumah, ia mendapati Eri sedang makan besar. Artinya makan dengan banyak makanan mewah yang beraneka ragam.

“Hai, Kak. Aku gak tahu kalau kamu udah pindah tempat kerja. Ini tempat kerja Kakak yang baru ya?”

“Maksud kamu apa, Er?”

“Yah ini. Tadi pas aku baru mau minta tolong Bang Dami untuk nyariin Kakak, karena Kakak belum pulang dan gak bisa aku hubungi, ada orang yang mengantarkan makanan, katanya ini dari Kakak. Makanan ini juga katanya dari restoran tempat Kakak bekerja.”

Ivy mengedarkan pandangan pada lima atau mungkin lebuh jenis makanan di atas meja makan butut miliknya.

“Kalau tiap hari seperti ini, meskipun makanan sisa dari restoran, kita bisa gendut, Kak. Makanannya enak-enak, gizi kita juga akan tercukupi,” jelas Eriva dengan wajah ceria.

Tak lama kemudian ponsel Ivy berdenting, tanda ada pesan dari seseorang.

“Makan lah yang banyak. Kamu butuh itu semua agar bugar dan siap melayaniku. Lebih baik lagi kalau setelah makan kamu langsung beristirahat. Good night, Baby.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   28 Apa Hubungan Dua Wanita Itu?

    "Sampai di dalam langsung istirahat! Jangan begadang lagi. Beberapa malam ini kamu gak cukup istirahat!"Nada Bossy itu tentu saja keluar dari mulut Bravino. Dan itu membuat Ivy merotasi bola matanya."Gara-gara siapa coba aku gak istirahat dengan cukup?" cebik Ivy dengan suara lirih."Saya masih bisa denger kamu bilang apa."Ivy berbalik lalu tersenyum manis. Sangat menggemaskan dengan kerutan di pangkal hidungnya."Ups sorry," cicit Ivy lagi.Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saat Bravino mengantar Ivy hingga ke depan rumah. Ternyata urusan di Surabaya memakan waktu cukup lama, sehingga rencana kepulangan sore pun harus tertunda.Tapi bagi Ivy itu tak jadi masalah. Karena jadi ada waktu lebih yang membuat ia bisa jalan-jalan sebentar. Tanpa Bravino tentunya, karena lelaki itu terlalu sibuk.Jadilah Ivy hanya diikuti oleh bayangan lelaki itu. Thomas dan satu lagi temannya mengikuti kemana pun Ivy melangkah.Ivy puas karena ia bisa membelikan oleh-oleh untuk Eriva, Damian jug

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   27 Ganti Rugi

    Ivy membuka matanya dengan berat hati. Ingin rasanya tidur lebih lama tapi itu tak mungkin. Yang ada ia bisa sakit kepala karena kebanyakan tidur.Dari kemarin memang hari Ivy hanya diisi dengan empat hal. Ditiduri, tidur, mandi, makan lalu ditiduri kembali. Siklus hidupnya selama di Singapura hanya berkutat pada empat aspek itu saja.Ivy mengedarkan pandangan, dan lagi-lagi kosong. Ia kembali ditinggal setelah habis-habisan ditiduri. Tapi kali ini ia tersenyum.Ingatannya kembali pada sesi bercintanya dengan Bravino. Lelaki itu selalu saja punya kejutan dalam proses beradu peluh dengannya.Seperti tadi malam. Ivy tak habis pikir bagaimana caranya Bravino memompa dirinya, saat ia berada di dalam gendongan Bravino. Bahkan itu dalam posisi sambil berjalan.Lalu Bravino menyandarkan punggung Ivy di dinding berlapis wallpaper warna coklat krem.Di sana lelaki itu melumat habis bibir Ivy sambil terus memompa. Dan saat klimaks Ivy dapatkan, Bravino malah merunduk, menghisap puncak dadanya d

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   26 Rencana Rere

    Di apartemen, Rere sedang tersenyum menatap dua belas angka di dalam kontak ponselnya. Ia memberi nama Ivy pada kontak tersebut.Rencananya meminta nomor telepon Ivy berjalan lancar. Eriva memberikannya tanpa ada drama sama sekali."Gue yakin pasti gue bisa minta tolong sama Ivy. Setidaknya mungkin gaku bisa tahu informasi tentang kamu, Bi," monolognya penuh harap.Ia melirik bagian pojok kanan atas ponselnya. Sudah pukul sepuluh malam. Harusnya belum terlalu malam untuk menghubungi Ivy.Mendadak tangan Rere bergetar. Niat dan tekad yang tadi sudah kuat menariknya mundur."Tapi gue harus bilang apa? Gue cuma kenal Ivy itupun dari cerita Raisa. Jadi gue harus bilang apa kalau dia nanya. Apa gue minta tolong Raisa dulu ya?"Rere menggeleng kuat. "Gak usah ngekhawatirin hal yang belum terjadi, Re. Cukup telfon dan hal lainnya nanti baru lo pikirin," gumamnya pada diri sendiri.Rere menekan ikon telepon berwarna hijau, dan tak lama nada sambung pun terdengar. Namun, hingga dering ke lima,

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   25 Peluang

    Ivy berdiri di depan stand mirror, memperhatikan pantulan tubuhnya di sana. Kini ia tengah sendiri, sudah mengenakan gaun berwarna hitam one shoulder.Gaun itu adalah gaun yang ia temukan di atas kasur ketika terbangun sore tadi. Dengan tubuh polos yang terbungkus selimut.Hampir dua jam ia habiskan untuk bergelut basah dengan Bravino. Ivy merasa seperti bercinta dengan lelaki yang berbeda dengan yang menyiksanya semalam.Kalau tadi malam Bravino mencium dan melumat bibirnya sampai ada bagian yang berdarah. Siang tadi, lelaki itu hanya melumatnya dengan sangat lembut tapi sangat memabukkan.Tak ada desakan dan paksaan sampai Ivy membuka mulutnya, membiarkan lidah Bravino menjelajahi isi mulutnya. Dan ia pun membalasnya dengan sama hangat juga lembutnya.Begitu juga ketika tangan dan mulut Bravino berpindah ke bagian tubuh Ivy lainnya. Membuat Ivy terlena dan lupa dengan perlakuan kasar yang Bravino berikan semalam.Sebut Ivy sebagai wanita gila yang tak punya harga diri, sebegitu muda

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   24 Penghapus Luka

    Ivy duduk di depan jendela yang menyajikan Singapura yang terlihat sangat teratur. Tak ada carut marut barisan kendaraan yang sedang berlomba ingin mengarungi jalanan. Semuanya terlihat berbaris dengan rapih dan teratur.Pohon-pohon rindang berdaun hijau sangat menyejukkan mata. Menenangkan hati yang sempat sakit seiring dengan sakit di sekujur tubuh Ivy.Dan tak jauh dari Ivy, Bravino sedang duduk bersama Astra. Membicarakan pekerjaan, dimana itu adalah tujuan utamanya ke negara ini. Entahlah sudah berapa lama, sejak Dokter selesai memeriksa kondisi Ivy dan memberinya obat penghilang rasa sakit juga vitamin.Meski begitu, sesekali sudut mata Bravino mencari tahu apa yang Ivy lakukan."Begitu saja. Nanti seperti biasa, kirim salinan dokumennya ke email saya.""Baik, Tuan."Astra kemudian pamit undur diri. Sedangkan Bravino, ia berdiri dan berniat melangkah mendekati Ivy yang masih duduk diam seperti boneka barbie hidup.Sejenak Bravino ragu, apa dirinya yang ingin mendekati Ivy adalah

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   23. Bravino=Rungkad=Ivy

    Cahaya terang dari celah tirai menembus ke dalam kelopak mata Ivy. Rasanya ia tak ingin membuka mata, mungkin lebih baik bila selamanya seperti itu. Ia tak ingin bangun hanya untuk kembali menjalani hidup yang penuh kenestapaan mengerikan ini.Perlahan Ivy membuka matanya yang terasa lengket. Akibat air mata dan sisa kotoran setelah tidur.Badannya sendiri tak terlalu lengket, karena entah di jam berapa, ia merasakan sisi ranjang yang Bravino tiduri bergerak. Ivy tahu lelaki kejam itu meninggalkannya lalu masuk ke kamar mandi.Ivy sempat menangis lagi, sedih akan nasibnya yang begitu naas dan memalukan.Lalu ketika Ivy hampir saja terlena akan letih karena kantuk juga tangisnya, ia merasa ada kain basah yang terasa hangat, menyusuri kulitnya dengan hati-hati dan lembut.Ivy tersentak, masih dengan mata yang terpejam karena terlalu takut menatap Bravino. Ia takut sugar Daddy-nya itu akan melakukan hal mengerikan lagi. Tapi kemudian lelaki itu bersuara."Kamu tidur aja, kamu pasti capek

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   12. Ilmu Baru

    Kesadaran Ivy belum kembali sepenuhnya. Ia masih melayang akibat surga dunia yang kembali diciptakan Bravino di kamar pas tadi. Jadilah ia hanya mengikuti kemana langkah Bravino menuntunnya. Tapi ucapan Bravino barusan membuatnya menganga lebar. "Naik ke sini! Giliranku untuk kamu memberikanku sur

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   08. Claudia

    Hawa dingin Ivy rasakan sesaat setelah dia menuruti perintah Bravino. Roknya masih terpasang rapi, namun tidak dengan underwear-nya. Ivy berdiri dengan posisi yang membuatnya merasa rapuh. Dia melebarkan kedua pahanya di atas meja dan di depan pria yang menatapnya seperti predator itu. Wanita itu

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   07. Tugas Pertama Ivy di Kantor

    “Kubunuh kalian semua!”Bravino mengeluarkan revolver siap pakai dari laci di sisi ranjangnya. Sekali gerakan membuat pistol itu meledak.DOR DOR DOREntah kepala siapa yang pecah, tapi darah bersimbah dimana-mana. Jantung Ivy serasa keluar dari rongga dadanya. Kembali ia berusaha berdiri, berusaha

  • Terjerat Cintanya Papa Gula   06. Puncak

    Bravino menyugar rambutnya ke belakang. Harinya cukup berat karena saingan bisnisnya mulai melalui jalan yang ia benci. Benci karena ia pasti harus menggunakan cara kotor untuk menyingkirkan saingannya itu.Bravino butuh distraksi. Distraksi yang menyenangkan juga menenangkan.Dengan langkah tegap d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status