تسجيل الدخول"Ivy.”Ivy berbalik karena panggilan yang ditangkap Indera pendengaranya. Senyumnya berkembang pada si pemanggil.“Hai, Dam. Kamu mau ke mana?”“Aku mau ke kantor. Kamu mau ke kampus?”Ivy menganggukkan kepala. “Yap. Aku ada kuliah pagi ini.”Damian ikut tersenyum. Bagai mendapat mood booster, senyum manis yang Ivy berikan akan memberi banyak warna bagi harinya. Meski pekerjaan yang menumpuk banyak telah menanti.Lelaki itu adalah pahlawan bagi Ivy dan Eri. Karena Damian lah Ivy dan adiknya itu bisa bertahan hidup dengan cukup layak hingga sekarang.“Ayo naik. Aku anter kamu sekalian. Aku harus meeting sama klien dan itu searah dengan kampus kamu.”Tanpa harus menunggu lama, Ivy langsung menganggukkan kepalanya. Ia naik ke dalam mobil Damian yang sudah lelaki itu bukakan pintunya dari dalam.“Eri mana?”“Eri udah keluar dari pagi. Dia bilang akan mendaftar ke kampus pilihannya,” jawab Ivy sembari memakai seat belt.“Eri gak mau nyoba di kampus kamu aja? Setidaknya kalau di sana kan ka
“Jadi simpananku, dan aku akan jadi sugar Daddy kamu. Kamu terlihat masih sangat muda, tapi aku menyukai tubuhmu. Kamu tidak punya pilihan lain, take it atau selamanya kamu tidak akan pernah pergi dari rumah ini dan juga tidak akan bertemu dengan adikmu!”Butuh waktu yang cukup lama untuk Ivy mencerna apa yang baru saja lelaki tampan bak titisan dewa tapi sayangnya brengsek, itu katakan.“Jangan pasang muka bodoh seperti itu. Say yes aja, biar semuanya lebih mudah.”Kembali Ivy dibuat tercengang. Baru saja ia diminta menjadi sugar baby lelaki yang Ivy perkirakan minimal lima tahun lebih tua dari dirinya. Yang kalau dibahasakan dengan kasar, ia harus jadi pemuas nafsu lelaki itu.Pemuas nafsu atau sama dengan pekerja se*s komersial, penjaja tubuh dan sebutan lainnya untuk profesi tersebut. Mengingat itu, Ivy langsung melayangkan penolakan.“Syarat gila macam apa itu? Setelah apa yang kamu lakukan dengan seenaknya, sekarang kamu malah ngancam aku? Apa kamu benaran udah gila?!” teriak Iv
Tidak tahu sudah berapa lama Ivy tertidur, yang ia tahu hanyalah ketika ia bangun jendela sudah menunjukkan langit yang gelap berbeda ketika tadi siang ia masuk ke dalam kamar itu."Jam berapa ini? Ya Tuhan, ini udah malam. Aku harus cepat pulang, Eri pasti khawatir dan mencariku," monolognya.Ivy menoleh ke samping, dan di sana sudah kosong. Tangannya mencoba meraba sisi kain itu.Sudah dingin, itu berarti lelaki tadi sudah cukup lama meninggalkan ranjang. Nafas panjang yang melegakan langsung Ivy lakukan.Kembali Ivy mencoba bangun dari tempat tidur. Kali ini mungkin ia bisa benar-benar pergi.Namun gerakan pertamanya lagi-lagi harus tertunda. Ivy meringis kesakitan ketika ia merasakan perih di antara kedua pahanya juga kedua pergelangan tangannya.Rasa sakit nan ngilu itu membuatnya nyaris tak mampu bergerak. Apa memang rasanya sesakit ini?Tapi dulu ia sempat mendengar obrolan teman kerjanya di klub. Berbicara tentang betapa mereka menikmati setiap momen percintaan bersama kekasih
“Aku mohon… tolong berhenti,” suara Ivy pecah di antara napas yang terengah. Tangannya yang kecil mencoba mendorong dada lelaki itu namun sia-sia.Tubuh Bravino terlalu besar untuk dia lawan, pria itu benar-benar menutup seluruh ruang geraknya.Bravino mencium rambut Ivy sambil tersenyum miring, mengamati wajah Ivy dengan tatapan seduktif. Sekaligus menakutkan di waktu yang sama.Hawa panas dari tubuh Bravino membuat Ivy ikut merasakannya. Suhu tubuh lelaki itu di atas rata-rata. Sesekali Ivy bergidik saat deru nafas Bravino menerpa kulitnya.Ivy menggeleng ketakutan, namun detik berikutnya wanita itu berteriak keras saat sebuah tarikan kasar merenggut semua pelindung yang ia kenakan.Ivy merintih ketakutan dengan air mata yang kembali berlinang. “Jangan… aku mohon,” ucap Ivy, suaranya tercekat di tenggorokan. “Aku takut.”Gadis itu memeluk tubuhnya sendiri saat tidak ada lagi pelindung yang menutupi tubuhnya. Berusaha menutupi, meski sebenarnya sia-sia.Bravino mengangkat wajahnya. D
“Ivy, kau tahu ini jam berapa?!” Arivy Zaliana Muchlis, biasa dipanggil Ivy, hampir melompat karena bentakan yang ia terima baru saja. “Ma maaf, Pak.” “Minta maaf tidak akan membuat saya menghasilkan uang! Cepat kerja sana! Karena kamu, saya sudah kehilangan beberapa pesanan antar. Sekali lagi kamu terlambat, saya akan langsung memecatmu!” Ivy menutup matanya ketika mendapatkan omelan yang diselingi air liur yang menyembur dari mulut Pak Slamet. Musim hujan membuatnya mengalami kendala untuk sampai ke tempat kerja paruh waktu ke tiga di hari ini. Ia yang mengandalkan kendaraan umum, tak bisa bergerak sendiri sehingga harus mengikuti jadwal kereta api yang suka berubah-ubah. “Iya, Pak. Siap laksanakan.” Ivy bergerak dengan cepat. Gadis berusia dua puluh dua tahun itu bergegas menghampiri dapur untuk mengambil pesanan yang baru saja selesai dibuat. “Dapat sapaan yang bagus ya?” tanya Mawar, salah satu staff bagian kasir, dengan nada mengejek pada Ivy. Tapi Ivy mengabaik







