Mikha sudah siap dengan job-nya. Berdandan cantik, duduk anteng di meja rias. Di belakangnya, Rara bertindak sebagai hairstylist, bergantian. Rara memegang catokan, Mikha mau diluruskan rambutnya.“Njrit, pegel gue tiap catok elu, Mikh. Akuin aja sih udah, rambut lo kribo.” Rara mengeluh, sudah setengah jam baru sebagian yang lurus.“Enak aja kribo, keriting ya rambut gue.”“Sama aja!”Rara meneruskan kerjanya, Mikha memoles pipi dengan blush on warna pink, membuatnya lebih segar. Lipstick dia pulas warna merah menyala, kontras dengan kulit eksotisnya yang berkilau.“Badai banget lu, Mikh.” Rara tidak segan melontarkan pujian pada temannya yang memang cantik itu.“Demi Ra, demi.. demi om potensial,” canda Mikha.“Gue doa’in, om lo ganteng ya. Nggak pelit, jadi lo bisa traktir gue kain bali.”“Pekara kain Bali doang, kudu dapat om kaya,” gurau Mikha tertawa geli.Rara juga ikut berdandan, soal make up Mikha memang jagonya. Dia menyerahkan itu pada ahlinya. Dengan gerakan cepat, Mikha m
최신 업데이트 : 2026-05-12 더 보기