ログインErick meringis, kusut melanda saat sang bos mulai uring-uringan. Hanya kesalahan kecil, dia menyewa jasa wanita untuk dijadikan plus one bagi sang bos. Sialnya, bos tidak suka karena wanita itu terlalu pendiam.
‘Kemarin agresif salah. Sekarang pendiam, makin salah.’ Erick mendesah, bosnya ini maunya apa sih.
“Siap bos, saya akan mencari yang lain,” kata Erick.
Kama menatap asistennya, “Kau bisa kerja tidak. Mencari wanita saja tidak bisa, padahal kau hanya tinggal membayar dan memberinya arahan!” omel Kama pada asistennya.
Erick mengangguk, mengaku salah saja jangan membantah nanti jadi panjang. Pikiran Erick kini mulai menyortir wanita mana yang memenuhi kriteria pak bos.
“Kemana wanita kemarin. Siapa namanya?” Erick merengutkan kening, berpikir. “Hmm, Mikha.. ya itu namanya. Dia, hmm sepertinya ada klien, pak.” Erick memberikan alasan, karena Kama sendiri yang meminta ganti. Kenapa sekarang malah menanyakan wanita itu.“Klien?” beo Kama.
Ah Kama lupa, Mikha gadis panggilan. Sudah tentu kerjanya menemani klien. Tapi Kama tidak suka, apa dolar yang dia berikan kemarin kurang. Belum lagi bayaran yang sudah dia gelontorkan kea gen Mikha, jumlahnya sangat banyak sekali, ratusan juga.
“Iya pak. Besok pagi saya akan carikan lagi pak. Pak Kama mau yang bagaimana?” tanyanya biar tidak salah.
“Shit Erick! Kau pikir aku predator!”
Salah lagi.
Okelah suka-suka Kama saja, bos besar beda pemirsa.
“Cari tahu tentang Mikha!”
Hah! * *Mikha mendongak kaget saat melihat sosok Kama melangkah masuk ke lobi hotel kecil tempatnya bekerja. Sinar matahari siang yang menyilaukan seolah tak mampu menghalau bayang-bayang masa lalu yang kembali muncul.
Wajah Kama yang dingin dengan senyum sinis masih terpatri jelas di ingatan Mikha—pria itu yang pernah melemparkan uang seadanya sebagai penghinaan, membuat harga dirinya remuk berkeping-keping.
"Mau apa?" suara Mikha keluar dengan nada ketus, bibirnya menipis dan matanya menatap tajam ke arah tamu yang tak diundang itu. Tubuhnya tegap, tapi dadanya berdebar cepat, tanda kegelisahan yang tak mudah disembunyikan.
Kama mengernyit, menatap Mikha dengan tatapan menyelidik, seolah mencoba membaca apa yang tersembunyi di balik ketusnya. "Sedang tidak menerima klien?" tanyanya santai, suaranya rendah dan penuh arti.
Mikha merasakan sesuatu di hatinya tersinggung—meski tahu itu memang bagian dari pekerjaannya, tapi kata-kata Kama seperti jarum yang menusuk, menampar rasa malu yang dulu pernah ia rasakan. "Ada, dan anda menganggu!" jawabnya cepat, berusaha menutup celah keraguan dan ketidaknyamanan.
Tanpa permisi, Kama tertawa kecil, suara itu menggema di ruang lobby yang sunyi. Ia melangkah maju, melewati Mikha dan masuk ke kamar hotel yang selama ini menjadi saksi bisu perjuangan Mikha.
Di balik pintu yang tertutup, Kama menatap Mikha dengan campuran penasaran dan kekaguman yang sulit dijelaskan. Meski pernah menyakitinya, wajah cantik Mikha yang mahal selalu menghantui pikirannya, terpatri di benak seperti lukisan indah yang tak bisa ia hapus.
Malam yang mereka habiskan bersama tak pernah lepas dari ingatan Kama, membuatnya terus kembali—tanpa tahu pasti apa yang sebenarnya ia cari.
“Kalau tidak ada kepentingan, silakan keluar. Saya mau tidur!” ketus Mikha, dia sedang enak tidur. Sementara Rara pergi dengan klien baru. Katanya menemani makan siang. Mikha diajak, tapi dia terlalu malas.
Kama duduk di kursi menatap Mikha yang berbeda dari malam itu. Wajah tanpa make up yang malah semakin terlihat kecantikannya. Dan satu hal yang membuat Kama menelan ludah selain leher jenjang dan tanktop yang memperlihatkan bagian dada yang menyumbul, adalah rambut hitam Mikha yang keriting panjang.
Cantik, eksotis.
Merasa diperhatikan Mikha mengikat rambutnya, asal. Tidak ada lipstick, heels. Tapi cara dia berdiri tegak dan membalas ucapan Kama, tanpa drama, bikin dia kelihatan mahal sendiri.
Kama udah lihat banyak “plus one”. Yang heboh, yang nempel, yang matanya cuma ngitung nol di transferan.
Mikha beda.
Santai. Tapi tegas.
“Mikha.”
Mikha menoleh. Tidak buru-buru. Jalan pelan ke arah Kama, berhenti 2 langkah. Jaga jarak profesional. Dapat Kama lihat kaki panjang Mikha melambai ke arahnya minta untuk dibelai.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Mikha. Suara datar, nggak merendah, nggak sok akrab.
Kama perhatikan. 22 tahun, tapi tidak ada gugup di mata itu. Tidak ada harap-harap cemas. Padahal bayaran 100 juta sehari sudah masuk rekeningnya.
Ya Kama mencari tahu tentang Mikha, bukan 26 tapi 22 tahun, usia yang masih sangat muda. 100 juta, nominal yang Rrick bayar untuk Mikha yang diterima agennya.
Kama senyum tipis.
“Temani saya selama di Bali,” katanya pelan, namun ada nada memerintah di sana.
Mikha tersenyum sinis, tidak langsung jawab. Dia tatap Kama seperkian detik. “Sorry, saya menolak!”
Cetas! Harga diri Kama sekarang yang dicabik-cabik Mikha.Kama tersenyum geli, karma dibayar kontan.
“100 juta tanpa agen.”
What! Maksudnya gimana.. itu nominal banyak sekali bagi Mikha, dan tanpa agen. Apa jangan-jangan bayaran Mikha kemarin malam segitu. Tapi kenapa dia hanya menerima 10 juta. Ah sialan! Mikha gengsi, tapi dia penasaran juga. “Maksudnya tanpa agen?” akhirnya dia bertanya.“Ya, asistenku memberikan 100 juta. Jika saya langsung ke kamu, maka kamu yang menerima uang itu, full!”
Sial!
Mikha dikerjain temannya Rara. Dari 100 juta, kenapa dia tidak 50, setengahnya. Setidaknya agen itu masih menerima untung banyak.10 juta yang dia terima, belum untuk sewa gaun, tas dan sepatu.
Mikha hanya mendapat kisaran delapan juta saja, dari hasil kencan sebagai plus one.
“Sebagai apa, om? Plus one lagi?” tanya Mikha, mulai berubah pikiran.
“Hmm..” Kama menjawab dengan deheman.
“Hanya untuk menemani saja kan? Kalau lebih dari itu, di luar kontrak,” jawab Mikha tenang.
Tegas. Tidak membuka celah.
Tapi tidak ketus. Justru karena tenang, jadi menusuk.
Kama ketawa pelan. Pertama kali hari itu. Mengeluarkan sebatang rokok dari jas dan menyalakannya. Tidak peduli kamar itu dilarang merokok. Hei, Kama bahkan bisa membeli hotel bintang tiga ini.
“Bagaimana?” tanya Kama, yakin Mikha menerimanya.
“200 juta satu hari. Sudah termasuk transport, gaun, sepatu dan tas saya, om.” Penawaran Mikha. Jadi Kama tidak perlu memikirkan penampilan Mikha.
Kama menatap Mikha, tidak tajam hanya datar saja. Professional sekali, pikir Kama.
Dengan suara beratnya, Kama berkata. “500 juta dan saya boleh menyentuhmu!”
Degh! Kini giliran Mikha yang terkejut akan penawaran Kama.Menyentuh, maksudnya gimana yah?
Namun Mikha pandai negosiasi. Berdiri bersender di meja rias, melipat kedua tangan di dada. Mikha membalas dengan tenang, mulai bernego kembali.
“Hanya sentuhan ringan saja. Kalau mau sebuah kecupan, bisa saja..” Mikha sok mahal. Memainkan jari kuku yang cantik dengan nail art pink eye cat. “Tapi 10 juta tiap kecupan. Bagaimana?”
Asap putih mengepul keluar dari mulut Kama, menyimpulkan senyum tipis di bibir.
“Komersial sekali.”
“Iya, saya kerja Om. Bukan sumbangan!”Mau cepat kaya rupanya Mikha.
“Menginap?”
“Boleh, tambah 10 juta lagi. Deal or no deal? Saya banyak kerjaan, Om.” Sombong sekali Mikha ini.
Mau syukur tidak mau, ya paksa.
Lagipula, Mikha inginnya Kama menolak. Makanya dia memberikan tawaran yang mahal.
“Deal!” **
Mikha mengeratkan selimut di dadanya, usai percintaannya dengan Paizani Kama Kanigara, sugar Daddy kesayangannya. Menyunggingkan senyum menggemaskan, Mikha menggigit bibir bawahnya teringat bagaimana Kama menerjangnya dari ruang tamu menuju kamar, dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.Kama yang menaiki tubuhnya, memberikan kecupan sehangat sutra. Begitu lembut hingga Mikha hanya bisa memejamkan matanya, tatapan Kama yang penuh damba padanya. Membuat Mikha tertunduk lemas, sugar daddynya ini tidak kaleng-kaleng pesonanya.Kini, sugar daddynya itu tengah berdiri dengan ponsel di tangan seraya melihat pemandangan malam di apartemen mewah mereka yang terletak di lantai 25.Kama berdiri dengan wibawa yang tak bisa dibantah, meski usianya sudah di akhir empat puluhan, tapi justru di situlah letak pesonanya. Rambut hitam pekat yang kini diselingi warna perak di sekitaran pelipis, tidak banyak. Tapi justru itu yang membuat pemilik perusahaan teknologi, FnB dan perhotelan itu terlihat se
Mikha melangkah masuk ke ruang kuliah dengan langkah pelan, matanya masih sembab akibat kurang tidur. Kemarin dia terpaksa bolos kuliah, karena Om nakalnya tidak berhenti mengajarnya dengan kenikmatan dunia. Tapi tidak masalah, selesainya Mikha diberi hadiah mewah. Sebuah kalung dengan liontin bunga, cantik sekali.Tiba-tiba, suara tawa cempreng memecah keheningan. Vio muncul bersama tiga gadis yang selalu menempel bak parasite, lengkap dengan senyum sok cantik mereka."Ada yang bolos nih, dua hari nggak kuliah Kerja rodi banget nih," sindir Citra, salah satu dayang-dayang Vio, sambil melirik tajam ke arah Mikha.Vio ikut tertawa, suaranya penuh ejekan, "Buat apa sih?”Priska, salah satu dari mereka tidak ketinggalan. “Tuntutan hiudp kali, Cit. Kalau nggak banting tulang begitu, mau makan apa coba?"“Kalau buat makan, kalau cuma buat gaya fashion kelas atas tapi nggak sampai atas gimana,” celetuk Citra lagi mneyindir keras.“Pengan nggak nethink, tapi kok nggak bisa!” Priska tertawa s
Esok paginya, Mikha sudah berkutat di dapur minimalis apartemen mewah Kama. Aroma harum mentega yang meleleh di atas wajan memenuhi dapur, aroma yang memubuat orang tergoda. Mikha berdiri santai mengenakan kemeja putih longgar, dengan cekatan mengocok telur dan menyiapkan roti tawar. Sarapan yang sangat sederhana—hanya scrambled eggs gurih dan roti panggang hangat—tapi cukuplah untuk memulai hari di apartemen megah berlantai tinggi tersebut.Di tempat ini, Mikha memang tak perlu pusing memikirkan hal-hal rumit. Segala kebutuhan hidupnya, mulai dari bahan makanan segar yang selalu diisi ulang, tagihan bulanan, hingga fasilitas kelas atas, semuanya sudah terjamin dengan sempurna.Saat Mikha sedang membalik roti panggangnya, dua lengan kekar tiba-tiba melingkar lembut di pinggangnya dari belakang. Kehangatan langsung menyapu punggung Mikha saat Kama menyandarkan dagunya di bahu wanita itu."Selamat pagi," bisik Kama dengan suara serak khas bangun tidur, menyapa tepat di dekat telinga Mik
Aroma parfum mahal dan pendingin udara toko barang mewah di pusat perbelanjaan kelas atas siang itu tak mampu meredakan rasa heran Rara. Di depannya, Mikha santai menunjuk dua tas kulit edisi terbatas dan tiga pasang sepatu hak tinggi tanpa sekali pun melihat label harga.“Wangi nggak?” tanyanya pada Rara yang lihat kanan kiri, bingung mau beli apa. Karena harganya tidak ngotak, kalau menurut Rara.“Wangilah, semerbak. Parfum mahal,” celetuk Rara polos.Mikha tersenyum, lalu memanggil pelayan di dekatnya. "Mbak, tolong dibungkus semua ya," ujar Mikha pada pelayan toko sambil menyodorkan kartu kredit berwarna hitam mengilap.“Eh gila Mikha, definisi kaya mendadak ini mah.” Rara sampai geleng kepala.Rara menatap tumpukan kantong belanjaan berlogo desainer dunia itu dengan mata membelalak. "Mikha, kamu kesurupan apa gimana, sih? Ini kalau ditotal bisa buat bayar uang muka rumah! Sayang tahu,” desis Rara.“Santai sih,” ujar Mikha tertawa pelan sambil merapikan gaun sutranya.“Sumpah ya s
Mikha semakin menegang, usai jari Kama masuk ke dalam inti tubuhnya. Kama, pria itu hanya tersenyum manis dan menggoda.“Kamu sudah basah,” bisik Kama, masih sempat menggigit telinga Mikha.“Om..” Mikha menahan seluruh gairah yang kini menyelimutinya.“Kau menyukainya, Mikha.” Kama semakin gencar menggoda, satu jari ia gerakkan maju mundur, berhasil membuat menekan lengan Kama dengan kuat.“Om-uhh..”Malu Mikha mendengar suaranya sendiri. Terdengar seperti putus asa, ingin semuanya berakhir dengan nikmat.Ketika tangan Kama bermain di bawah sana, mulutnya sibuk menyesap dua gunung dengan pucuk berwarna pink itu. Kama menggila, dia menyukai ini. Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.“Mikha..”Mikha menggelinjang, dia disiksa atas bawah. Sapuan lidah Kama sangat hangat di dadanya, tangan Mikha meremaskan rambut Kama, kuat.“Om-“ teriakan Mikha terputus ketika Kama mengeluarkan jarinya.“Mau apa Mikha.. katakan padaku,” bisik Kama menggoda.“Om Mikha nggak kuat.”“Tidak kuat apa?” ta
Malam itu, di dalam apartemen mewah dengan pemandangan gemerlap kota, Mikha berdiri kaku di pinggir ranjang. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan suara jarum jam yang seolah mengejek keraguannya. Di sudut matanya, tumpukan tagihan rumah sakit ibunya dan biaya terbayang dengan sangat jelas. Mikha butuh uang—bukan dalam hitungan minggu, melainkan besok pagi.Dan Kama, pria matang dengan setelan jas mahal dan wangi kayu cendana yang tenang, adalah satu-satunya pelariannya.Sebagai sugar baby, Mikha tahu betul konsekuensi dari perjanjian tak tertulis ini. Kama telah mentransfer sejumlah uang yang lebih dari cukup untuk menyelesaikan seluruh masalah finansialnya sore tadi. Jadi, ketika Kama melangkah mendekat setelah melepas jasnya, Mikha memejamkan mata. Ia sudah bersiap menyerahkan kepemilikan tubuhnya sebagai bentuk pambayaran yang pantas."Mikha," panggil Kama, suaranya dalam dan pelan, memecah hening.Mikha memaksakan senyum, jarinya yang gemetar mulai meraih kancing kemejanya
Bottom of FormKuliah selesai. Koridor Gedung B penuh mahasiswa yang buru-buru pulang. Mikha berjalan pelan, buku tebal Strategi Bisnis dipeluk di dada. Wajah tegas, judes, tapi langkahnya tenang.Tidak buru-buru, tidak menoleh kiri kanan.Tidak perlu tebar pesona, tapi bisa dipastikan semua mata me
Kama menatap Mikha dengan tatapan penuh arti di bawah cahaya lampu remang ballroom hotel yang mewah. Gaun sutra hitam yang membalut tubuh ramping Mikha seolah menambah aura misterius dan memikatnya. Kulit cokelat eksotis Mikha berkilau lembut, memancarkan keindahan yang tak perlu berlebihan.Beberap
Mikha duduk di kursi bar yang remang, sorot matanya tajam menatap Kama yang tengah asyik berbincang dengan rekan bisnisnya. Ia harus menyingkir sejenak, karena akan ada pembicaraan khusus antara Kama dengan kliennya, yang juga membawa wanita. Mikha berbincang santai dengan beberapa wanita yang menj
Mikha sudah siap dengan job-nya. Berdandan cantik, duduk anteng di meja rias. Di belakangnya, Rara bertindak sebagai hairstylist, bergantian. Rara memegang catokan, Mikha mau diluruskan rambutnya.“Njrit, pegel gue tiap catok elu, Mikh. Akuin aja sih udah, rambut lo kribo.” Rara mengeluh, sudah set







