แชร์

5. Temani Saya Selama di Bali!

ผู้เขียน: Miss Nonce
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-12 17:50:09

Erick meringis, kusut melanda saat sang bos mulai uring-uringan. Hanya kesalahan kecil, dia menyewa jasa wanita untuk dijadikan plus one bagi sang bos. Sialnya, bos tidak suka karena wanita itu terlalu pendiam.

‘Kemarin agresif salah. Sekarang pendiam, makin salah.’ Erick mendesah, bosnya ini maunya apa sih.

“Siap bos, saya akan mencari yang lain,” kata Erick.

Kama menatap asistennya, “Kau bisa kerja tidak. Mencari wanita saja tidak bisa, padahal kau hanya tinggal membayar dan memberinya arahan!” omel Kama pada asistennya.

Erick mengangguk, mengaku salah saja jangan membantah nanti jadi panjang. Pikiran Erick kini mulai menyortir wanita mana yang memenuhi kriteria pak bos.

“Kemana wanita kemarin. Siapa namanya?”

Erick merengutkan kening, berpikir. “Hmm, Mikha.. ya itu namanya. Dia, hmm sepertinya ada klien, pak.” Erick memberikan alasan, karena Kama sendiri yang meminta ganti. Kenapa sekarang malah menanyakan wanita itu.

“Klien?” beo Kama.

Ah Kama lupa, Mikha gadis panggilan. Sudah tentu kerjanya menemani klien. Tapi Kama tidak suka, apa dolar yang dia berikan kemarin kurang. Belum lagi bayaran yang sudah dia gelontorkan kea gen Mikha, jumlahnya sangat banyak sekali, ratusan juga.

“Iya pak. Besok pagi saya akan carikan lagi pak. Pak Kama mau yang bagaimana?” tanyanya biar tidak salah.

“Shit Erick! Kau pikir aku predator!”

Salah lagi.

Okelah suka-suka Kama saja, bos besar beda pemirsa.

“Cari tahu tentang Mikha!”

Hah!

*

*

Mikha mendongak kaget saat melihat sosok Kama melangkah masuk ke lobi hotel kecil tempatnya bekerja. Sinar matahari siang yang menyilaukan seolah tak mampu menghalau bayang-bayang masa lalu yang kembali muncul.

Wajah Kama yang dingin dengan senyum sinis masih terpatri jelas di ingatan Mikha—pria itu yang pernah melemparkan uang seadanya sebagai penghinaan, membuat harga dirinya remuk berkeping-keping.

"Mau apa?" suara Mikha keluar dengan nada ketus, bibirnya menipis dan matanya menatap tajam ke arah tamu yang tak diundang itu. Tubuhnya tegap, tapi dadanya berdebar cepat, tanda kegelisahan yang tak mudah disembunyikan.

Kama mengernyit, menatap Mikha dengan tatapan menyelidik, seolah mencoba membaca apa yang tersembunyi di balik ketusnya. "Sedang tidak menerima klien?" tanyanya santai, suaranya rendah dan penuh arti.

Mikha merasakan sesuatu di hatinya tersinggung—meski tahu itu memang bagian dari pekerjaannya, tapi kata-kata Kama seperti jarum yang menusuk, menampar rasa malu yang dulu pernah ia rasakan. "Ada, dan anda menganggu!" jawabnya cepat, berusaha menutup celah keraguan dan ketidaknyamanan.

Tanpa permisi, Kama tertawa kecil, suara itu menggema di ruang lobby yang sunyi. Ia melangkah maju, melewati Mikha dan masuk ke kamar hotel yang selama ini menjadi saksi bisu perjuangan Mikha.

Di balik pintu yang tertutup, Kama menatap Mikha dengan campuran penasaran dan kekaguman yang sulit dijelaskan. Meski pernah menyakitinya, wajah cantik Mikha yang mahal selalu menghantui pikirannya, terpatri di benak seperti lukisan indah yang tak bisa ia hapus.

Malam yang mereka habiskan bersama tak pernah lepas dari ingatan Kama, membuatnya terus kembali—tanpa tahu pasti apa yang sebenarnya ia cari.

“Kalau tidak ada kepentingan, silakan keluar. Saya mau tidur!” ketus Mikha, dia sedang enak tidur. Sementara Rara pergi dengan klien baru. Katanya menemani makan siang. Mikha diajak, tapi dia terlalu malas.

Kama duduk di kursi menatap Mikha yang berbeda dari malam itu. Wajah tanpa make up yang malah semakin terlihat kecantikannya. Dan satu hal yang membuat Kama menelan ludah selain leher jenjang dan tanktop yang memperlihatkan bagian dada yang menyumbul, adalah rambut hitam Mikha yang keriting panjang.

Cantik, eksotis.

Merasa diperhatikan Mikha mengikat rambutnya, asal. Tidak ada lipstick, heels. Tapi cara dia berdiri tegak dan membalas ucapan Kama, tanpa drama, bikin dia kelihatan mahal sendiri.

Kama udah lihat banyak “plus one”. Yang heboh, yang nempel, yang matanya cuma ngitung nol di transferan.

Mikha beda.

Santai. Tapi tegas.

“Mikha.”

Mikha menoleh. Tidak buru-buru. Jalan pelan ke arah Kama, berhenti 2 langkah. Jaga jarak profesional. Dapat Kama lihat kaki panjang Mikha melambai ke arahnya minta untuk dibelai.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Mikha. Suara datar, nggak merendah, nggak sok akrab.

Kama perhatikan. 22 tahun, tapi tidak ada gugup di mata itu. Tidak ada harap-harap cemas. Padahal bayaran 100 juta sehari sudah masuk rekeningnya.

Ya Kama mencari tahu tentang Mikha, bukan 26 tapi 22 tahun, usia yang masih sangat muda. 100 juta, nominal yang Rrick bayar untuk Mikha yang diterima agennya.

Kama senyum tipis.

“Temani saya selama di Bali,” katanya pelan, namun ada nada memerintah di sana.

Mikha tersenyum sinis, tidak langsung jawab. Dia tatap Kama seperkian detik. “Sorry, saya menolak!”

Cetas!

Harga diri Kama sekarang yang dicabik-cabik Mikha.

Kama tersenyum geli, karma dibayar kontan.

“100 juta tanpa agen.”

What!

Maksudnya gimana.. itu nominal banyak sekali bagi Mikha, dan tanpa agen. Apa jangan-jangan bayaran Mikha kemarin malam segitu. Tapi kenapa dia hanya menerima 10 juta. Ah sialan!

Mikha gengsi, tapi dia penasaran juga.

“Maksudnya tanpa agen?” akhirnya dia bertanya.

“Ya, asistenku memberikan 100 juta. Jika saya langsung ke kamu, maka kamu yang menerima uang itu, full!”

Sial!

Mikha dikerjain temannya Rara. Dari 100 juta, kenapa dia tidak 50, setengahnya. Setidaknya agen itu masih menerima untung banyak.

10 juta yang dia terima, belum untuk sewa gaun, tas dan sepatu.

Mikha hanya mendapat kisaran delapan juta saja, dari hasil kencan sebagai plus one.

“Sebagai apa, om? Plus one lagi?” tanya Mikha, mulai berubah pikiran.

“Hmm..” Kama menjawab dengan deheman.

“Hanya untuk menemani saja kan? Kalau lebih dari itu, di luar kontrak,” jawab Mikha tenang.

Tegas. Tidak membuka celah.

Tapi tidak ketus. Justru karena tenang, jadi menusuk.

Kama ketawa pelan. Pertama kali hari itu. Mengeluarkan sebatang rokok dari jas dan menyalakannya. Tidak peduli kamar itu dilarang merokok. Hei, Kama bahkan bisa membeli hotel bintang tiga ini.

“Bagaimana?” tanya Kama, yakin Mikha menerimanya.

“200 juta satu hari. Sudah termasuk transport, gaun, sepatu dan tas saya, om.” Penawaran Mikha. Jadi Kama tidak perlu memikirkan penampilan Mikha.

Kama menatap Mikha, tidak tajam hanya datar saja. Professional sekali, pikir Kama.

Dengan suara beratnya, Kama berkata. “500 juta dan saya boleh menyentuhmu!”

Degh!

Kini giliran Mikha yang terkejut akan penawaran Kama.

Menyentuh, maksudnya gimana yah?

Namun Mikha pandai negosiasi. Berdiri bersender di meja rias, melipat kedua tangan di dada. Mikha membalas dengan tenang, mulai bernego kembali.

“Hanya sentuhan ringan saja. Kalau mau sebuah kecupan, bisa saja..” Mikha sok mahal. Memainkan jari kuku yang cantik dengan nail art pink eye cat. “Tapi 10 juta tiap kecupan. Bagaimana?”

Asap putih mengepul keluar dari mulut Kama, menyimpulkan senyum tipis di bibir.

“Komersial sekali.”

“Iya, saya kerja Om. Bukan sumbangan!”

Mau cepat kaya rupanya Mikha.

“Menginap?”

“Boleh, tambah 10 juta lagi. Deal or no deal? Saya banyak kerjaan, Om.” Sombong sekali Mikha ini.

Mau syukur tidak mau, ya paksa.

Lagipula, Mikha inginnya Kama menolak. Makanya dia memberikan tawaran yang mahal.

“Deal!” **

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   11. Sentuhan Pertama Kama (21+)

    Malam itu, di dalam apartemen mewah dengan pemandangan gemerlap kota, Mikha berdiri kaku di pinggir ranjang. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan suara jarum jam yang seolah mengejek keraguannya. Di sudut matanya, tumpukan tagihan rumah sakit ibunya dan biaya terbayang dengan sangat jelas. Mikha butuh uang—bukan dalam hitungan minggu, melainkan besok pagi.Dan Kama, pria matang dengan setelan jas mahal dan wangi kayu cendana yang tenang, adalah satu-satunya pelariannya.Sebagai sugar baby, Mikha tahu betul konsekuensi dari perjanjian tak tertulis ini. Kama telah mentransfer sejumlah uang yang lebih dari cukup untuk menyelesaikan seluruh masalah finansialnya sore tadi. Jadi, ketika Kama melangkah mendekat setelah melepas jasnya, Mikha memejamkan mata. Ia sudah bersiap menyerahkan kepemilikan tubuhnya sebagai bentuk pambayaran yang pantas."Mikha," panggil Kama, suaranya dalam dan pelan, memecah hening.Mikha memaksakan senyum, jarinya yang gemetar mulai meraih kancing kemejanya

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   10. Aku Menjual Batasanku - Sebuah Kesepakatan dengan Kama

    Setengah jam kemudian, motor berhenti di depan rumah sakit. Mikha segera turun. Begitu memasuki lobi, aroma khas antiseptik langsung menyambutnya. Tempat yang kini terasa seperti rumah keduanya. Langkahnya otomatis menuju lift, lalu ke lantai tujuh.Ruang perawatan penyakit dalam. Di depan kamar nomor 712, Mikha berhenti sejenak.Menghapus sisa emosi di wajahnya, menarik senyum. Lalu membuka pintu."Mama..."Seorang wanita paruh baya yang terbaring di ranjang langsung menoleh.Wajahnya pucat.Tubuhnya kurus.Namun senyumnya selalu hangat."Mikha."Seketika hati Mikha mencair. Semua kemarahan yang dibawanya dari kampus perlahan menghilang. Mikha menghampiri ranjang dan mencium tangan ibunya."Gimana hari ini?" tanya Mikha berusaha ceria seperti biasanya."Mama baik, nak.""Itu jawaban setiap hari."Ibunya tertawa kecil. "Karena memang Mama lebih baik."Mikha menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Tangannya menggenggam tangan sang ibu.Hangat.Rapuh.Dan menjadi alasan terbesar Mik

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   9. Bersedia Dibooking

    Mikhayla Bintari berlari menuruni tangga gedung fakultas begitu dosen menutup kelas sore itu. Tas ranselnya bergoyang di punggung, sementara jemarinya sibuk mengecek waktu di ponsel.Setengah jam lagi jam besuk ibunya di rumah sakit berakhir.Dan malam ini, sebelum pukul tujuh, ia juga harus sudah berada di apartemen Kama.Pria yang menjadi sugar daddy-nya itu sudah mengirim pesan sejak siang."Dinner di apartemen. Jangan telat."Singkat. Dingin. Khas Kama.Tidak mau telat, ini ATM berjalan Mikha. Nanti merajuk, dia yang repot.Mikha mengembuskan napas panjang. Hidupnya terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir. Kuliah, rumah sakit, lalu apartemen Kama. Begitu terus setiap hari.“Begini banget sih hidup sugar baby,” gumam Mikha sedikit mengeluh.Saat berjalan cepat melintasi koridor kampus yang mulai sepi, tiba-tiba seorang mahasiswa laki-laki menubrak punggungnya cukup keras.Bruk!"Aduh!"Mikha hampir kehilangan keseimbangan ketika seorang mahasiswa laki-laki buru-buru mundur."Ma

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   8, Executive Package

    Keheningan kembali memenuhi kamar mandi, Mikha sudah selesai menggosok punggung Kama. Sekarang ia duduk di kursi kecil dekat bathtub sambil memainkan ponselnya.Sesekali melirik saldo rekeningmya, kebiasaan orang miskin yang mendadak kaya."Kau menginap malam ini." Suara Kama terdengar begitu saja.Mikha yang sedang menghitung bunga deposito hampir menjatuhkan ponselnya."Hah?""Menginap."Mikha menoleh. Kama masih santai di dalam bathtub.Seolah baru saja meminta tambahan sendok, bukan meminta seorang wanita menginap.Mikha langsung memasang ekspresi pebisnis."Om." Suara manjanya mulai terdengar manis di telinga Kama."Hm.""Itu layanan premium."Kama menatapnya, tatapan datar. Tatapan yang biasanya membuat bawahan perusahaan berkeringat. Sayangnya Mikha kebal, yang penting rekeningnya gemuk."Premium?""Iya."Kama tertawa sinis, "Kau sedang menjual paket?""Tentu."Mikha berdiri lalu menghitung dengan jari. "Temenin makan, satu paket. Temenin ngobrol, paket regular-""Kalau mengina

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   7. Benci, Dendam, dan Seorang Sugar Daddy

    Bottom of FormKuliah selesai. Koridor Gedung B penuh mahasiswa yang buru-buru pulang. Mikha berjalan pelan, buku tebal Strategi Bisnis dipeluk di dada. Wajah tegas, judes, tapi langkahnya tenang.Tidak buru-buru, tidak menoleh kiri kanan.Tidak perlu tebar pesona, tapi bisa dipastikan semua mata memandang padanya. Mikha mahasiswa cantik, jurusan bisnis memang sudah dikenal di kalangan mahasiswa lainnya.Dari arah berlawanan, Viola Debby datang. Berjalan kelewat santai dengan dua dayang-dayangnya Priska dan Citra. Entah apa yang mereka bicarakan sambil tertawa cekikikan tidak jelas. Tas Chanel nyantol di bahu, HP di tangan. Tidak melihat depan.Bugh..Tabrakan kecil. Buku Mikha menyenggol bahu Vio. Kopi di tangan Vio tumpah ke blouse putih yang ia kenakan.Vio berhenti mendadak. Lihat noda di baju. Langsung meledak.Arkh..“Anjin*! Lo buta apa, hah?!”Mikha berhenti, tidak panik. Tidak angkat suara, hanya menatatap Vio, tenang.“Jalan lihat ke depan, lo. Kopinya mahal, sayang kalau keb

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   6. Gadis Bayaran Om Kama

    Kama menatap Mikha dengan tatapan penuh arti di bawah cahaya lampu remang ballroom hotel yang mewah. Gaun sutra hitam yang membalut tubuh ramping Mikha seolah menambah aura misterius dan memikatnya. Kulit cokelat eksotis Mikha berkilau lembut, memancarkan keindahan yang tak perlu berlebihan.Beberapa teman Kama tak henti memuji, “Gadismu cantik sekali,” suara mereka terdengar berbisik penuh kekaguman.Kama hanya membalas dengan senyum tipis, lalu dengan langkah ringan mendekat, meraih tangan Mikha dan mengajaknya berdansa.Mikha yang sedang berdiri di dekat stand minuman terkejut, namun juga tak kuasa menolaknya. “Om ngagetin deh,” bisiknya dan menerima tangan Kama.Di tengah irama musik yang mengalun lembut, Kama mencondongkan tubuhnya ke dekat telinga Mikha, suaranya berbisik hangat namun penuh peringatan, “Jangan terlalu lama tersenyum. Semua orang akan mengira kamu menggoda pria mereka.”Tatapan Mikha membeku sekejap, matanya melebar karena terkejut. Dia tidak pernah bermaksud sepe

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   4. Menyentil Harga Diri Mikha

    Mikha duduk di kursi bar yang remang, sorot matanya tajam menatap Kama yang tengah asyik berbincang dengan rekan bisnisnya. Ia harus menyingkir sejenak, karena akan ada pembicaraan khusus antara Kama dengan kliennya, yang juga membawa wanita. Mikha berbincang santai dengan beberapa wanita yang menj

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   3. Plus One om Duda

    Mikha sudah siap dengan job-nya. Berdandan cantik, duduk anteng di meja rias. Di belakangnya, Rara bertindak sebagai hairstylist, bergantian. Rara memegang catokan, Mikha mau diluruskan rambutnya.“Njrit, pegel gue tiap catok elu, Mikh. Akuin aja sih udah, rambut lo kribo.” Rara mengeluh, sudah set

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   2. Sugar Daddy Potensial

    Masih di Beach Club, Seminyak-Bali.“Kesana saja yuk,” ajak Mikha, lebih baik mereka cari angin dulu.Toh mereka sampai minggu depan di Bali, jadi aman kalau hari ini mereka tidak dapat mangsa.Mikha berdiri tegap di tepi pantai, angin laut menerbangkan helai rambut keritingnya yang terurai panjang

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   1. Cari Mangsa = Cowok Tajir

    “Ra, yakin aman?” tanya Mika mendadak gugup masuk ke sebuah beach club di Bali.Biasanya dia rajin ke night club, tapi berbeda. Jika biasanya bersenang-senang, kali ini dia akan mencari mangsa.“Amanlah,” ujar Rara, teman malam Mika.“Lo yakin kan, nggak ada yang kenal kita?” sambung Mikha lagi, ma

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status