Share

2. Sugar Daddy Potensial

Penulis: Miss Nonce
last update Tanggal publikasi: 2026-05-11 15:16:02

Masih di Beach Club, Seminyak-Bali.

“Kesana saja yuk,” ajak Mikha, lebih baik mereka cari angin dulu.

Toh mereka sampai minggu depan di Bali, jadi aman kalau hari ini mereka tidak dapat mangsa.

Mikha berdiri tegap di tepi pantai, angin laut menerbangkan helai rambut keritingnya yang terurai panjang hingga punggung. Sungguh eksotis gadis bernama Mikhayla Bintari.

Wajahnya yang tajam cenderung judes memberi kesan angkuh, dengan hidung mancung dan bibir tebal memancarkan aura dingin, tegas dan mahal. Seolah tak ada yang mampu menembus benteng keseriusannya. Bandana oranye yang melingkar di kepalanya menambah sentuhan berani pada penampilannya yang bak patung hidup, tubuhnya ramping dan berlekuk bak gitar Spanyol, memancarkan kepercayaan diri yang sulit diabaikan.

Di sampingnya, Rara tersenyum lembut, wajahnya yang manis dan ramah seakan menyambut hangat sinar mentari pagi. Dress putih yang dikenakannya menambah kesan anggun tanpa harus berlebihan, kontras dengan kesan jutek Mikha. Matanya yang berbinar penuh keceriaan sesekali menatap Mikha, berusaha melunakkan ketegasan sahabatnya itu. Bersama, mereka bagai dua sisi yang berbeda dari keindahan pantai—Mikha yang memikat dengan aura kuat dan Rara yang menenangkan dengan kelembutan alami.

“Itu gimana Ra, yang dipinggir pantai,” kata Mikha menunjuk tiga orang pria dengan dagunya.

Namun, Rara hanya membalas dengan senyum tipis yang tak sampai ke matanya, sementara Mikha dengan santai mengalihkan pandangannya, artinya NO bagi Rara.

“Itu tuh, yang duduk sama cewek-cewek.”

“Nggak ya Mikh. Banyak monyetnya, gila!”

Kembali Mikha dan Rara mengedarkan pandangan mereka. “Lo lihat mereka? Bule itu kayaknya baik, tapi... biasa aja sih,” kata Mikha sambil mencondongkan badan, matanya menelusuri sekelompok pria di seberang jalan.

Rara mengangkat alis, “Dari tampang sih mereka cuma bisa traktir kopi, bukan traktir hidup.” Mikha tertawa geli mendengar perumpamaan Rara.

Mikha menepuk bahu Rara pelan, “Kalau begitu, yang itu gimana?” Ia menunjuk ke arah sekumpulan pria yang tampak lebih berani dan glamor, dengan jam tangan mengkilap dan ponsel mahal di tangan mereka.

Rara menggeleng pelan, senyum kecil terukir di bibirnya tapi penuh keyakinan, “Mereka juga cuma pamer, paling cuma duit di kantong yang tipis. Gue nggak mau buang waktu sama yang setengah-setengah.”

Mikha dan Rara dengan masalahnya masing-masing.

Satu solusinya, uang!

Keduanya tertawa kecil, saling bertukar pandang penuh rencana. Mereka tahu apa yang mereka inginkan—pria dengan dompet tebal, yang bisa menjanjikan masa depan bukan sekadar janji manis tanpa isi. Di antara keramaian itu, mereka tetap berdiri teguh dengan pilihan mereka, menunggu pria yang benar-benar pantas.

Lampu disko berputar cepat, menyinari lantai dansa yang penuh orang bergerak mengikuti irama musik. Rara, dengan dress putih yang mengalun lembut di tubuhnya, ikut bergoyang tanpa memikirkan sekitarnya. Tangannya yang memegang gelas berisi minuman tiba-tiba tersenggol oleh tubuh seorang wanita berkelas yang mengenakan gaun hitam panjang, membuat isi gelas itu tumpah, menodai dress wanita tersebut.

Arhkk.. Shit!

Teriakan disertai makian membuat semua mata menoleh ke arah mereka.

“Oh no,” gumam Mikha dalam hati.

Gelas Rara menyenggol seorang wanita yang juga sedang bergoyang, tanpa mereka tahu. "Di mana matamu?!" suara wanita itu meledak, tajam dan penuh kemarahan. Matanya menatap Rara dengan dingin, bibirnya mengerucut seperti siap melontarkan hinaan berikutnya.

Rara yang awalnya terkejut, hendak meminta maaf dengan suara gemetar. Namun, bentakan itu membuatnya meradang. Ia menarik napas panjang, menatap balik dengan tatapan penuh keberanian meski hatinya sedikit berdebar.

“Ini nggak sengaja ya. Lagi situ ngapain dekat-dekat saja,” balas Rara yang memang dikenal berani.

“Kamu kira ini beach club milik Nenek moyangmu, huh!”

“Kalau ini milik Nenek moyangku, kamu nggak bakalan bisa masuk!” balasan Rara membuat wanita itu makin kesal.

Wanita berparas angkuh melangkat mendekat, menunjuk Rara dengan jari telunjuknya. “Sialan kamu. Berani benar sama aku! Jelas kamu yang salah, joget bawa-bawa minum. Norak, kampungan!”

Rara meradang dibilang demikian, apa wanita ini tidak tahu jika Rara adalah anak gaul di klub malam.

Mikha turut membela Rara, karena wanita itu ternyata tidak sendirian. Sudah ada tiga wanita yang datang menghampiri, diyakini mereka teman dari wanita yang ribut dengan Rara.

"Kamu saja jogednya kaya orang sakit! Minggir-minggir terus!" suara Mikha yang berdiri di samping Rara muncul sebagai penengah, mencoba meredakan ketegangan. Ia melangkah maju, meletakkan tangan di bahu Rara dengan lembut, berharap temannya  itu bisa menenangkan diri.

Rara merasakan denyut kemarahan yang menggelegak dalam dadanya, tapi juga sedikit lega karena ada Mikha yang membelanya. Tatapan mereka bertemu lagi, masing-masing menyimpan amarah yang belum sepenuhnya hilang, sementara musik yang menggema tak bisa meredam gemuruh emosi di antara mereka.

Pertengkaran mereka diakhiri dengan keduanya di usir dari beach club, karena menganggu kenyamanan pengunjung yang lain.

“Sialan!” maki Rara, kesal karena harus terusir keluar.

“Udah sih santai. Pindah aja deh,” tukas Mikha tak ambil pusing.

*

*

Mikha dan Rara berakhir di kamar hotel sederhana yang mereka sewa. Rara sedang pergi, ada janji dengan temannya. Mikha memilih istirahat di kamar, karena nanti malam mereka akan kembali ke beach club.

Tadi malam sudah pindah tempat, tapi masih saja belum menemukan mangsa yang spekta.

“Halo, iya bu..” Mikha menerima panggilan telepon, ternyata dari orang yang ia bayar untuk menjaga sang Mama di rumah sakit.

“Oh ya, bagus dong. Iya.. nanti aku seminggu lagi baru balik, lagi ada kerjaan..”

“Oke, makasih ya Bu. Sudah mau jaga Mama, nanti aku transfer.”

Tuttt..

Sambungan telepon dimatikan dari Bu Mila. Bersyukur ada orang baik yang mau membantunya, meski juga ia bayar.

Mikha mendesah, operasi mamanya sudah di depan mata dan ia belum dapat biayanya.

“Maa, maafin Mikha ya.”

Mikha tahu mamanya tidak akan setuju, dia cari uang dengan cara seperti ini. Tapi Mikha bisa apa, dia belum lulus kuliah. Bahkan banyak uang kuliah yang menunggak, sampai pinjam sana sini. Mikha harus jadi sarjana seperti yang mamanya mau.

Ceklek..

Suara pintu dibuka, Rara masuk dengan wajah sumringahnya.

“Mikh… Cihuyyy gue bawa dapat kbar bagus nih.”

Tidak mengucap salam, langsung masuk dan memeluk Mikha saking senangnya.

“Apaan? Lo abis ketemu sugar daddy berperut buncit,” sarkas Mikha pada teman sefrekuensinya itu.

Rere tertawa lebar, lalu memukul pelan lengan temannya. “Yaa sebelas dua belas sih. Sama-sama sugar Daddy, tapi perut buncit atau nggak, gue belum tahu sih, Mikh.”

Mikha menatap Rere dengan setengah heran, setengah malas. “Gue harus ngapain, yang jelas apah!”

"Tugas lo cuma nemenin dia selama jamuan kok," kata Rere sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding, ekspresinya santai tapi ada nada mendesak di suaranya. "Ya kalau nggak di restoran, ya di club sih."

Mikha mengerutkan kening, tapi tak melontarkan pertanyaan lain. "Bayarannya gimana?" suaranya datar, menunjukkan kalau itu satu-satunya hal yang menarik perhatiannya saat ini.

Rere mengangkat bahu, tersenyum tipis. "Oke kok. Tenang aja ini sugar daddy potensial, Mikh. Permalam, lo dikasih lima juta. Gimana?"

Mikha mendelik, matanya menyipit sedikit. "Kecil banget, Ra." Nada suaranya penuh sinis, menandakan rasa malas yang mulai merayap. Ia tahu betul uang segitu tidak sebanding dengan repotnya harus menemani klien yang mungkin sok sibuk dan rewel.

"Kan dipotong f*e sama teman gue, Mikh," Rere menimpali cepat, mencoba meyakinkan. "Lo mau nggak? Soalnya gue juga ada kerjaan lain, nemenin sugar Daddy juga."

Mikha menatap Rere beberapa detik, lalu menghembuskan napas panjang. Ada keengganan yang sulit disembunyikan di wajahnya, tapi di balik itu juga ada kebutuhan yang tak bisa diabaikan. Ia mengangguk pelan, menerima tawaran itu dengan sikap pasrah. Momen itu seolah menegaskan bahwa di balik gengsi, kenyataan kadang memaksa seseorang untuk berkompromi dengan apa yang ada. **

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   19. Panggilan Rahasia Dari Kota Mode

    Kama memenuhi janjinya mengajak Mikha jalan-jalan berdua di Paris, Perancis. Belanja menjadi destinasi pilihan Mikha ketika Kama mengajaknya keluar hotel. Angin sore Paris berhembus lembut, membawa aroma kopi hangat dari kafe-kafe pinggir jalan di kawasan Rue Saint-Honoré. Bagi kebanyakan orang, tempat ini adalah surga dunia. Deretan butik jenama mewah dunia berjejer rapi, memamerkan kemewahan yang sanggup membuat mata siapa saja terbelalak.Dan di sinilah Mikha sekarang—berjalan anggun dengan tangan kiri menenteng tiga kantong belanjaan berukuran besar dari butik desainer ternama, sementara tangan kanannya menggandeng lengan kokoh Paizani Kama Kanigara.Kama menepati janjinya. Apapun yang Mikha tunjuk, berapapun harganya, pria matang itu tidak pernah melarang. Kartu kredit black card miliknya bergesek mulus tanpa butuh waktu lama. Bagi Kama, uang bukanlah masalah besar jika itu bisa membuat sugar baby kesayangannya tersenyum puas.“Bagus tidak?” tanyanya pada Kama.Di tangan Mikha du

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   18. Batas Seorang Simpanan

    Mikha menggeliat kala merasakan hentakan di atas ranjang. Membuka mata yang sepat, ia melihat Kama duduk di tepi ranjang seraya mengancingkan kemeja diujung tangannya.“Beb..”Kama menoleh, tersenyum tipis. “Tidur saja, kalau masih mengantuk.”Mikha beranjak duduk dengan pelan, matanya masih mengantuk efek semalam tidak bisa tidur.“Beb, sudah mau jalan?”“Humm..”Kama berdiri lalu memakai jasnya. Mikha melirik, diatas meja sudah siap sarapan pagi di Kota Paris.“Kamu yang siapin sarapannya?”“Humm, kamu sarapan di sini saja.”“Oke,” sahut Mikha.Kama lalu mengambil ponselnya, menoleh ke Mikha. “Hari ini kamu di kamar saja.”“Kenapa? Kan aku mau jalan-jalan,” kata Mikha.“Besok saya temani, hari ini dikamar.”“Babe_”“Menurut Mikha,” potong Kama tegas.Mikha bisa apa selain manyun, dia mengangguk patuh. Kama mendekat dan membelai rambutnya.“Good girl,” ucapnya dan mengecup kening Mikha lembut.Tanpa pamit Kama meninggalkan kamar, Mikha hanya menatap punggung pria itu hingga menghilan

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   17. Kehangatan Semu di Kota Paris

    Baru kali ini Mikha keluar negeri dan naik pesawat pribadi, dengan fasilitas lengkap. Semua ada, Mikha sampai terpukau. Sekaya apa sugar Daddy-nya ini, hingga memiliki pesawat pribadi.Saat ini Mikha berada di sebuah suite room hotel mewah di Kota Paris, dengan pemandangan indah. Duh, rasanya Mikha tidak sabar untuk jalan-jalan berdua dengan Kama. Di luar negeri tidak ada yang mengenal mereka, Mikha rasa harusnya aman ya. Sayangnya, baru hari pertama Kama menyuruh tinggal di hotel saja.Kama baru saja keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi satin hitam yang agak terbuka di dada. Rambutnya masih sedikit basah, menyebarkan aroma sandalwood dan expensive taste yang langsung memenuhi ruangan suite Le Meurice.Mikha yang sedang duduk bersila di pinggir tempat tidur, mendadak tidak fokus. Matanya tanpa sadar memindai penampilan Kama.Gila ya, batin Mikha gusar. Udah tau gue lagi ngambek, dia malah pamer tembok dada sama papan gilasan premium begitu. Mana itu bahu lebar penopang masa depan

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   16. Kunjungan Kenegaraan di Istana Merah Muda

    Mikha mengeratkan selimut di dadanya, usai percintaannya dengan Paizani Kama Kanigara, sugar Daddy kesayangannya. Menyunggingkan senyum menggemaskan, Mikha menggigit bibir bawahnya teringat bagaimana Kama menerjangnya dari ruang tamu menuju kamar, dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.Kama yang menaiki tubuhnya, memberikan kecupan sehangat sutra. Begitu lembut hingga Mikha hanya bisa memejamkan matanya, tatapan Kama yang penuh damba padanya. Membuat Mikha tertunduk lemas, sugar daddynya ini tidak kaleng-kaleng pesonanya.Kini, sugar daddynya itu tengah berdiri dengan ponsel di tangan seraya melihat pemandangan malam di apartemen mewah mereka yang terletak di lantai 25.Kama berdiri dengan wibawa yang tak bisa dibantah, meski usianya sudah di akhir empat puluhan, tapi justru di situlah letak pesonanya. Rambut hitam pekat yang kini diselingi warna perak di sekitaran pelipis, tidak banyak. Tapi justru itu yang membuat pemilik perusahaan teknologi, FnB dan perhotelan itu terlihat se

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   15. Alasan Menjadi Sugar Baby

    Mikha melangkah masuk ke ruang kuliah dengan langkah pelan, matanya masih sembab akibat kurang tidur. Kemarin dia terpaksa bolos kuliah, karena Om nakalnya tidak berhenti mengajarnya dengan kenikmatan dunia. Tapi tidak masalah, selesainya Mikha diberi hadiah mewah. Sebuah kalung dengan liontin bunga, cantik sekali.Tiba-tiba, suara tawa cempreng memecah keheningan. Vio muncul bersama tiga gadis yang selalu menempel bak parasite, lengkap dengan senyum sok cantik mereka."Ada yang bolos nih, dua hari nggak kuliah Kerja rodi banget nih," sindir Citra, salah satu dayang-dayang Vio, sambil melirik tajam ke arah Mikha.Vio ikut tertawa, suaranya penuh ejekan, "Buat apa sih?”Priska, salah satu dari mereka tidak ketinggalan. “Tuntutan hiudp kali, Cit. Kalau nggak banting tulang begitu, mau makan apa coba?"“Kalau buat makan, kalau cuma buat gaya fashion kelas atas tapi nggak sampai atas gimana,” celetuk Citra lagi mneyindir keras.“Pengan nggak nethink, tapi kok nggak bisa!” Priska tertawa s

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   14. Sarapan Mikha (21+)

    Esok paginya, Mikha sudah berkutat di dapur minimalis apartemen mewah Kama. Aroma harum mentega yang meleleh di atas wajan memenuhi dapur, aroma yang memubuat orang tergoda. Mikha berdiri santai mengenakan kemeja putih longgar, dengan cekatan mengocok telur dan menyiapkan roti tawar. Sarapan yang sangat sederhana—hanya scrambled eggs gurih dan roti panggang hangat—tapi cukuplah untuk memulai hari di apartemen megah berlantai tinggi tersebut.Di tempat ini, Mikha memang tak perlu pusing memikirkan hal-hal rumit. Segala kebutuhan hidupnya, mulai dari bahan makanan segar yang selalu diisi ulang, tagihan bulanan, hingga fasilitas kelas atas, semuanya sudah terjamin dengan sempurna.Saat Mikha sedang membalik roti panggangnya, dua lengan kekar tiba-tiba melingkar lembut di pinggangnya dari belakang. Kehangatan langsung menyapu punggung Mikha saat Kama menyandarkan dagunya di bahu wanita itu."Selamat pagi," bisik Kama dengan suara serak khas bangun tidur, menyapa tepat di dekat telinga Mik

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   7. Benci, Dendam, dan Seorang Sugar Daddy

    Bottom of FormKuliah selesai. Koridor Gedung B penuh mahasiswa yang buru-buru pulang. Mikha berjalan pelan, buku tebal Strategi Bisnis dipeluk di dada. Wajah tegas, judes, tapi langkahnya tenang.Tidak buru-buru, tidak menoleh kiri kanan.Tidak perlu tebar pesona, tapi bisa dipastikan semua mata me

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   6. Gadis Bayaran Om Kama

    Kama menatap Mikha dengan tatapan penuh arti di bawah cahaya lampu remang ballroom hotel yang mewah. Gaun sutra hitam yang membalut tubuh ramping Mikha seolah menambah aura misterius dan memikatnya. Kulit cokelat eksotis Mikha berkilau lembut, memancarkan keindahan yang tak perlu berlebihan.Beberap

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   5. Temani Saya Selama di Bali!

    Erick meringis, kusut melanda saat sang bos mulai uring-uringan. Hanya kesalahan kecil, dia menyewa jasa wanita untuk dijadikan plus one bagi sang bos. Sialnya, bos tidak suka karena wanita itu terlalu pendiam.‘Kemarin agresif salah. Sekarang pendiam, makin salah.’ Erick mendesah, bosnya ini mauny

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   4. Menyentil Harga Diri Mikha

    Mikha duduk di kursi bar yang remang, sorot matanya tajam menatap Kama yang tengah asyik berbincang dengan rekan bisnisnya. Ia harus menyingkir sejenak, karena akan ada pembicaraan khusus antara Kama dengan kliennya, yang juga membawa wanita. Mikha berbincang santai dengan beberapa wanita yang menj

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status