MasukMasih di Beach Club, Seminyak-Bali.
“Kesana saja yuk,” ajak Mikha, lebih baik mereka cari angin dulu.
Toh mereka sampai minggu depan di Bali, jadi aman kalau hari ini mereka tidak dapat mangsa.
Mikha berdiri tegap di tepi pantai, angin laut menerbangkan helai rambut keritingnya yang terurai panjang hingga punggung. Sungguh eksotis gadis bernama Mikhayla Bintari.
Wajahnya yang tajam cenderung judes memberi kesan angkuh, dengan hidung mancung dan bibir tebal memancarkan aura dingin, tegas dan mahal. Seolah tak ada yang mampu menembus benteng keseriusannya. Bandana oranye yang melingkar di kepalanya menambah sentuhan berani pada penampilannya yang bak patung hidup, tubuhnya ramping dan berlekuk bak gitar Spanyol, memancarkan kepercayaan diri yang sulit diabaikan.
Di sampingnya, Rara tersenyum lembut, wajahnya yang manis dan ramah seakan menyambut hangat sinar mentari pagi. Dress putih yang dikenakannya menambah kesan anggun tanpa harus berlebihan, kontras dengan kesan jutek Mikha. Matanya yang berbinar penuh keceriaan sesekali menatap Mikha, berusaha melunakkan ketegasan sahabatnya itu. Bersama, mereka bagai dua sisi yang berbeda dari keindahan pantai—Mikha yang memikat dengan aura kuat dan Rara yang menenangkan dengan kelembutan alami.
“Itu gimana Ra, yang dipinggir pantai,” kata Mikha menunjuk tiga orang pria dengan dagunya.
Namun, Rara hanya membalas dengan senyum tipis yang tak sampai ke matanya, sementara Mikha dengan santai mengalihkan pandangannya, artinya NO bagi Rara.
“Itu tuh, yang duduk sama cewek-cewek.”
“Nggak ya Mikh. Banyak monyetnya, gila!”
Kembali Mikha dan Rara mengedarkan pandangan mereka. “Lo lihat mereka? Bule itu kayaknya baik, tapi... biasa aja sih,” kata Mikha sambil mencondongkan badan, matanya menelusuri sekelompok pria di seberang jalan.
Rara mengangkat alis, “Dari tampang sih mereka cuma bisa traktir kopi, bukan traktir hidup.” Mikha tertawa geli mendengar perumpamaan Rara.
Mikha menepuk bahu Rara pelan, “Kalau begitu, yang itu gimana?” Ia menunjuk ke arah sekumpulan pria yang tampak lebih berani dan glamor, dengan jam tangan mengkilap dan ponsel mahal di tangan mereka.
Rara menggeleng pelan, senyum kecil terukir di bibirnya tapi penuh keyakinan, “Mereka juga cuma pamer, paling cuma duit di kantong yang tipis. Gue nggak mau buang waktu sama yang setengah-setengah.”
Mikha dan Rara dengan masalahnya masing-masing.
Satu solusinya, uang!
Keduanya tertawa kecil, saling bertukar pandang penuh rencana. Mereka tahu apa yang mereka inginkan—pria dengan dompet tebal, yang bisa menjanjikan masa depan bukan sekadar janji manis tanpa isi. Di antara keramaian itu, mereka tetap berdiri teguh dengan pilihan mereka, menunggu pria yang benar-benar pantas.
Lampu disko berputar cepat, menyinari lantai dansa yang penuh orang bergerak mengikuti irama musik. Rara, dengan dress putih yang mengalun lembut di tubuhnya, ikut bergoyang tanpa memikirkan sekitarnya. Tangannya yang memegang gelas berisi minuman tiba-tiba tersenggol oleh tubuh seorang wanita berkelas yang mengenakan gaun hitam panjang, membuat isi gelas itu tumpah, menodai dress wanita tersebut.
Arhkk.. Shit!
Teriakan disertai makian membuat semua mata menoleh ke arah mereka.“Oh no,” gumam Mikha dalam hati.
Gelas Rara menyenggol seorang wanita yang juga sedang bergoyang, tanpa mereka tahu. "Di mana matamu?!" suara wanita itu meledak, tajam dan penuh kemarahan. Matanya menatap Rara dengan dingin, bibirnya mengerucut seperti siap melontarkan hinaan berikutnya.
Rara yang awalnya terkejut, hendak meminta maaf dengan suara gemetar. Namun, bentakan itu membuatnya meradang. Ia menarik napas panjang, menatap balik dengan tatapan penuh keberanian meski hatinya sedikit berdebar.
“Ini nggak sengaja ya. Lagi situ ngapain dekat-dekat saja,” balas Rara yang memang dikenal berani.
“Kamu kira ini beach club milik Nenek moyangmu, huh!”
“Kalau ini milik Nenek moyangku, kamu nggak bakalan bisa masuk!” balasan Rara membuat wanita itu makin kesal.Wanita berparas angkuh melangkat mendekat, menunjuk Rara dengan jari telunjuknya. “Sialan kamu. Berani benar sama aku! Jelas kamu yang salah, joget bawa-bawa minum. Norak, kampungan!”
Rara meradang dibilang demikian, apa wanita ini tidak tahu jika Rara adalah anak gaul di klub malam.
Mikha turut membela Rara, karena wanita itu ternyata tidak sendirian. Sudah ada tiga wanita yang datang menghampiri, diyakini mereka teman dari wanita yang ribut dengan Rara.
"Kamu saja jogednya kaya orang sakit! Minggir-minggir terus!" suara Mikha yang berdiri di samping Rara muncul sebagai penengah, mencoba meredakan ketegangan. Ia melangkah maju, meletakkan tangan di bahu Rara dengan lembut, berharap temannya itu bisa menenangkan diri.
Rara merasakan denyut kemarahan yang menggelegak dalam dadanya, tapi juga sedikit lega karena ada Mikha yang membelanya. Tatapan mereka bertemu lagi, masing-masing menyimpan amarah yang belum sepenuhnya hilang, sementara musik yang menggema tak bisa meredam gemuruh emosi di antara mereka.
Pertengkaran mereka diakhiri dengan keduanya di usir dari beach club, karena menganggu kenyamanan pengunjung yang lain.
“Sialan!” maki Rara, kesal karena harus terusir keluar.
“Udah sih santai. Pindah aja deh,” tukas Mikha tak ambil pusing.*
*
Mikha dan Rara berakhir di kamar hotel sederhana yang mereka sewa. Rara sedang pergi, ada janji dengan temannya. Mikha memilih istirahat di kamar, karena nanti malam mereka akan kembali ke beach club.
Tadi malam sudah pindah tempat, tapi masih saja belum menemukan mangsa yang spekta.
“Halo, iya bu..” Mikha menerima panggilan telepon, ternyata dari orang yang ia bayar untuk menjaga sang Mama di rumah sakit.
“Oh ya, bagus dong. Iya.. nanti aku seminggu lagi baru balik, lagi ada kerjaan..”
“Oke, makasih ya Bu. Sudah mau jaga Mama, nanti aku transfer.” Tuttt.. Sambungan telepon dimatikan dari Bu Mila. Bersyukur ada orang baik yang mau membantunya, meski juga ia bayar.Mikha mendesah, operasi mamanya sudah di depan mata dan ia belum dapat biayanya.
“Maa, maafin Mikha ya.” Mikha tahu mamanya tidak akan setuju, dia cari uang dengan cara seperti ini. Tapi Mikha bisa apa, dia belum lulus kuliah. Bahkan banyak uang kuliah yang menunggak, sampai pinjam sana sini. Mikha harus jadi sarjana seperti yang mamanya mau.Ceklek..
Suara pintu dibuka, Rara masuk dengan wajah sumringahnya.
“Mikh… Cihuyyy gue bawa dapat kbar bagus nih.”
Tidak mengucap salam, langsung masuk dan memeluk Mikha saking senangnya.
“Apaan? Lo abis ketemu sugar daddy berperut buncit,” sarkas Mikha pada teman sefrekuensinya itu.Rere tertawa lebar, lalu memukul pelan lengan temannya. “Yaa sebelas dua belas sih. Sama-sama sugar Daddy, tapi perut buncit atau nggak, gue belum tahu sih, Mikh.”
Mikha menatap Rere dengan setengah heran, setengah malas. “Gue harus ngapain, yang jelas apah!”
"Tugas lo cuma nemenin dia selama jamuan kok," kata Rere sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding, ekspresinya santai tapi ada nada mendesak di suaranya. "Ya kalau nggak di restoran, ya di club sih."
Mikha mengerutkan kening, tapi tak melontarkan pertanyaan lain. "Bayarannya gimana?" suaranya datar, menunjukkan kalau itu satu-satunya hal yang menarik perhatiannya saat ini.
Rere mengangkat bahu, tersenyum tipis. "Oke kok. Tenang aja ini sugar daddy potensial, Mikh. Permalam, lo dikasih lima juta. Gimana?"
Mikha mendelik, matanya menyipit sedikit. "Kecil banget, Ra." Nada suaranya penuh sinis, menandakan rasa malas yang mulai merayap. Ia tahu betul uang segitu tidak sebanding dengan repotnya harus menemani klien yang mungkin sok sibuk dan rewel.
"Kan dipotong f*e sama teman gue, Mikh," Rere menimpali cepat, mencoba meyakinkan. "Lo mau nggak? Soalnya gue juga ada kerjaan lain, nemenin sugar Daddy juga."
Mikha menatap Rere beberapa detik, lalu menghembuskan napas panjang. Ada keengganan yang sulit disembunyikan di wajahnya, tapi di balik itu juga ada kebutuhan yang tak bisa diabaikan. Ia mengangguk pelan, menerima tawaran itu dengan sikap pasrah. Momen itu seolah menegaskan bahwa di balik gengsi, kenyataan kadang memaksa seseorang untuk berkompromi dengan apa yang ada. **
Mikhayla Bintari berlari menuruni tangga gedung fakultas begitu dosen menutup kelas sore itu. Tas ranselnya bergoyang di punggung, sementara jemarinya sibuk mengecek waktu di ponsel.Setengah jam lagi jam besuk ibunya di rumah sakit berakhir.Dan malam ini, sebelum pukul tujuh, ia juga harus sudah berada di apartemen Kama.Pria yang menjadi sugar daddy-nya itu sudah mengirim pesan sejak siang."Dinner di apartemen. Jangan telat."Singkat. Dingin. Khas Kama.Tidak mau telat, ini ATM berjalan Mikha. Nanti merajuk, dia yang repot.Mikha mengembuskan napas panjang. Hidupnya terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir. Kuliah, rumah sakit, lalu apartemen Kama. Begitu terus setiap hari.“Begini banget sih hidup sugar baby,” gumam Mikha sedikit mengeluh.Saat berjalan cepat melintasi koridor kampus yang mulai sepi, tiba-tiba seorang mahasiswa laki-laki menubrak punggungnya cukup keras.Bruk!"Aduh!"Mikha hampir kehilangan keseimbangan ketika seorang mahasiswa laki-laki buru-buru mundur."Ma
Keheningan kembali memenuhi kamar mandi, Mikha sudah selesai menggosok punggung Kama. Sekarang ia duduk di kursi kecil dekat bathtub sambil memainkan ponselnya.Sesekali melirik saldo rekeningmya, kebiasaan orang miskin yang mendadak kaya."Kau menginap malam ini." Suara Kama terdengar begitu saja.Mikha yang sedang menghitung bunga deposito hampir menjatuhkan ponselnya."Hah?""Menginap."Mikha menoleh. Kama masih santai di dalam bathtub.Seolah baru saja meminta tambahan sendok, bukan meminta seorang wanita menginap.Mikha langsung memasang ekspresi pebisnis."Om." Suara manjanya mulai terdengar manis di telinga Kama."Hm.""Itu layanan premium."Kama menatapnya, tatapan datar. Tatapan yang biasanya membuat bawahan perusahaan berkeringat. Sayangnya Mikha kebal, yang penting rekeningnya gemuk."Premium?""Iya."Kama tertawa sinis, "Kau sedang menjual paket?""Tentu."Mikha berdiri lalu menghitung dengan jari. "Temenin makan, satu paket. Temenin ngobrol, paket regular-""Kalau mengina
Bottom of FormKuliah selesai. Koridor Gedung B penuh mahasiswa yang buru-buru pulang. Mikha berjalan pelan, buku tebal Strategi Bisnis dipeluk di dada. Wajah tegas, judes, tapi langkahnya tenang.Tidak buru-buru, tidak menoleh kiri kanan.Tidak perlu tebar pesona, tapi bisa dipastikan semua mata memandang padanya. Mikha mahasiswa cantik, jurusan bisnis memang sudah dikenal di kalangan mahasiswa lainnya.Dari arah berlawanan, Viola Debby datang. Berjalan kelewat santai dengan dua dayang-dayangnya Priska dan Citra. Entah apa yang mereka bicarakan sambil tertawa cekikikan tidak jelas. Tas Chanel nyantol di bahu, HP di tangan. Tidak melihat depan.Bugh..Tabrakan kecil. Buku Mikha menyenggol bahu Vio. Kopi di tangan Vio tumpah ke blouse putih yang ia kenakan.Vio berhenti mendadak. Lihat noda di baju. Langsung meledak.Arkh..“Anjin*! Lo buta apa, hah?!”Mikha berhenti, tidak panik. Tidak angkat suara, hanya menatatap Vio, tenang.“Jalan lihat ke depan, lo. Kopinya mahal, sayang kalau keb
Kama menatap Mikha dengan tatapan penuh arti di bawah cahaya lampu remang ballroom hotel yang mewah. Gaun sutra hitam yang membalut tubuh ramping Mikha seolah menambah aura misterius dan memikatnya. Kulit cokelat eksotis Mikha berkilau lembut, memancarkan keindahan yang tak perlu berlebihan.Beberapa teman Kama tak henti memuji, “Gadismu cantik sekali,” suara mereka terdengar berbisik penuh kekaguman.Kama hanya membalas dengan senyum tipis, lalu dengan langkah ringan mendekat, meraih tangan Mikha dan mengajaknya berdansa.Mikha yang sedang berdiri di dekat stand minuman terkejut, namun juga tak kuasa menolaknya. “Om ngagetin deh,” bisiknya dan menerima tangan Kama.Di tengah irama musik yang mengalun lembut, Kama mencondongkan tubuhnya ke dekat telinga Mikha, suaranya berbisik hangat namun penuh peringatan, “Jangan terlalu lama tersenyum. Semua orang akan mengira kamu menggoda pria mereka.”Tatapan Mikha membeku sekejap, matanya melebar karena terkejut. Dia tidak pernah bermaksud sepe
Erick meringis, kusut melanda saat sang bos mulai uring-uringan. Hanya kesalahan kecil, dia menyewa jasa wanita untuk dijadikan plus one bagi sang bos. Sialnya, bos tidak suka karena wanita itu terlalu pendiam.‘Kemarin agresif salah. Sekarang pendiam, makin salah.’ Erick mendesah, bosnya ini maunya apa sih.“Siap bos, saya akan mencari yang lain,” kata Erick.Kama menatap asistennya, “Kau bisa kerja tidak. Mencari wanita saja tidak bisa, padahal kau hanya tinggal membayar dan memberinya arahan!” omel Kama pada asistennya.Erick mengangguk, mengaku salah saja jangan membantah nanti jadi panjang. Pikiran Erick kini mulai menyortir wanita mana yang memenuhi kriteria pak bos.“Kemana wanita kemarin. Siapa namanya?”Erick merengutkan kening, berpikir. “Hmm, Mikha.. ya itu namanya. Dia, hmm sepertinya ada klien, pak.” Erick memberikan alasan, karena Kama sendiri yang meminta ganti. Kenapa sekarang malah menanyakan wanita itu.“Klien?” beo Kama.Ah Kama lupa, Mikha gadis panggilan. Sudah te
Mikha duduk di kursi bar yang remang, sorot matanya tajam menatap Kama yang tengah asyik berbincang dengan rekan bisnisnya. Ia harus menyingkir sejenak, karena akan ada pembicaraan khusus antara Kama dengan kliennya, yang juga membawa wanita. Mikha berbincang santai dengan beberapa wanita yang menjadi pasangan klien Kama.Setelah selesai, mereka dipanggil. Duduk dengan anggun di samping para bos besar. Kini acara lebih santai, pesta minum. Ada juga yang ke lantai dansa, menari melepas penat.Dengan suara lembut dan manja, Mikha menyapa, "Om, mau tambah minum?" Kama hanya menoleh sebentar lalu menggeleng, tanpa melepas pandangan dari lawan bicaranya.Mikha tahu, perhatian Kama lebih tertuju pada urusan bisnis daripada dirinya. Namun ia tak patah semangat. Ia harus bisa membuat Kama memilihnya lagi jika ada acara butuh plus one.Saat pembicaraan semakin serius, Mikha dengan sengaja menggeser tubuhnya mendekat dan mengelus pelan paha Kama. Sentuhan itu begitu ringan, tapi cukup membuat K
Mikha sudah siap dengan job-nya. Berdandan cantik, duduk anteng di meja rias. Di belakangnya, Rara bertindak sebagai hairstylist, bergantian. Rara memegang catokan, Mikha mau diluruskan rambutnya.“Njrit, pegel gue tiap catok elu, Mikh. Akuin aja sih udah, rambut lo kribo.” Rara mengeluh, sudah set
“Ra, yakin aman?” tanya Mika mendadak gugup masuk ke sebuah beach club di Bali.Biasanya dia rajin ke night club, tapi berbeda. Jika biasanya bersenang-senang, kali ini dia akan mencari mangsa.“Amanlah,” ujar Rara, teman malam Mika.“Lo yakin kan, nggak ada yang kenal kita?” sambung Mikha lagi, ma







