Share

8, Executive Package

Author: Miss Nonce
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-20 16:10:04

Keheningan kembali memenuhi kamar mandi, Mikha sudah selesai menggosok punggung Kama. Sekarang ia duduk di kursi kecil dekat bathtub sambil memainkan ponselnya.

Sesekali melirik saldo rekeningmya, kebiasaan orang miskin yang mendadak kaya.

"Kau menginap malam ini." Suara Kama terdengar begitu saja.

Mikha yang sedang menghitung bunga deposito hampir menjatuhkan ponselnya.

"Hah?"

"Menginap."

Mikha menoleh. Kama masih santai di dalam bathtub.

Seolah baru saja meminta tambahan sendok, bukan meminta
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   13. Sugar Baby dan Sugar Daddy

    Aroma parfum mahal dan pendingin udara toko barang mewah di pusat perbelanjaan kelas atas siang itu tak mampu meredakan rasa heran Rara. Di depannya, Mikha santai menunjuk dua tas kulit edisi terbatas dan tiga pasang sepatu hak tinggi tanpa sekali pun melihat label harga.“Wangi nggak?” tanyanya pada Rara yang lihat kanan kiri, bingung mau beli apa. Karena harganya tidak ngotak, kalau menurut Rara.“Wangilah, semerbak. Parfum mahal,” celetuk Rara polos.Mikha tersenyum, lalu memanggil pelayan di dekatnya. "Mbak, tolong dibungkus semua ya," ujar Mikha pada pelayan toko sambil menyodorkan kartu kredit berwarna hitam mengilap.“Eh gila Mikha, definisi kaya mendadak ini mah.” Rara sampai geleng kepala.Rara menatap tumpukan kantong belanjaan berlogo desainer dunia itu dengan mata membelalak. "Mikha, kamu kesurupan apa gimana, sih? Ini kalau ditotal bisa buat bayar uang muka rumah! Sayang tahu,” desis Rara.“Santai sih,” ujar Mikha tertawa pelan sambil merapikan gaun sutranya.“Sumpah ya s

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   12. Menuntaskan Hasrat (21+)

    Mikha semakin menegang, usai jari Kama masuk ke dalam inti tubuhnya. Kama, pria itu hanya tersenyum manis dan menggoda.“Kamu sudah basah,” bisik Kama, masih sempat menggigit telinga Mikha.“Om..” Mikha menahan seluruh gairah yang kini menyelimutinya.“Kau menyukainya, Mikha.” Kama semakin gencar menggoda, satu jari ia gerakkan maju mundur, berhasil membuat menekan lengan Kama dengan kuat.“Om-uhh..”Malu Mikha mendengar suaranya sendiri. Terdengar seperti putus asa, ingin semuanya berakhir dengan nikmat.Ketika tangan Kama bermain di bawah sana, mulutnya sibuk menyesap dua gunung dengan pucuk berwarna pink itu. Kama menggila, dia menyukai ini. Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.“Mikha..”Mikha menggelinjang, dia disiksa atas bawah. Sapuan lidah Kama sangat hangat di dadanya, tangan Mikha meremaskan rambut Kama, kuat.“Om-“ teriakan Mikha terputus ketika Kama mengeluarkan jarinya.“Mau apa Mikha.. katakan padaku,” bisik Kama menggoda.“Om Mikha nggak kuat.”“Tidak kuat apa?” ta

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   11. Sentuhan Pertama Kama (21+)

    Malam itu, di dalam apartemen mewah dengan pemandangan gemerlap kota, Mikha berdiri kaku di pinggir ranjang. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan suara jarum jam yang seolah mengejek keraguannya. Di sudut matanya, tumpukan tagihan rumah sakit ibunya dan biaya terbayang dengan sangat jelas. Mikha butuh uang—bukan dalam hitungan minggu, melainkan besok pagi.Dan Kama, pria matang dengan setelan jas mahal dan wangi kayu cendana yang tenang, adalah satu-satunya pelariannya.Sebagai sugar baby, Mikha tahu betul konsekuensi dari perjanjian tak tertulis ini. Kama telah mentransfer sejumlah uang yang lebih dari cukup untuk menyelesaikan seluruh masalah finansialnya sore tadi. Jadi, ketika Kama melangkah mendekat setelah melepas jasnya, Mikha memejamkan mata. Ia sudah bersiap menyerahkan kepemilikan tubuhnya sebagai bentuk pambayaran yang pantas."Mikha," panggil Kama, suaranya dalam dan pelan, memecah hening.Mikha memaksakan senyum, jarinya yang gemetar mulai meraih kancing kemejanya

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   10. Aku Menjual Batasanku - Sebuah Kesepakatan dengan Kama

    Setengah jam kemudian, motor berhenti di depan rumah sakit. Mikha segera turun. Begitu memasuki lobi, aroma khas antiseptik langsung menyambutnya. Tempat yang kini terasa seperti rumah keduanya. Langkahnya otomatis menuju lift, lalu ke lantai tujuh.Ruang perawatan penyakit dalam. Di depan kamar nomor 712, Mikha berhenti sejenak.Menghapus sisa emosi di wajahnya, menarik senyum. Lalu membuka pintu."Mama..."Seorang wanita paruh baya yang terbaring di ranjang langsung menoleh.Wajahnya pucat.Tubuhnya kurus.Namun senyumnya selalu hangat."Mikha."Seketika hati Mikha mencair. Semua kemarahan yang dibawanya dari kampus perlahan menghilang. Mikha menghampiri ranjang dan mencium tangan ibunya."Gimana hari ini?" tanya Mikha berusaha ceria seperti biasanya."Mama baik, nak.""Itu jawaban setiap hari."Ibunya tertawa kecil. "Karena memang Mama lebih baik."Mikha menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Tangannya menggenggam tangan sang ibu.Hangat.Rapuh.Dan menjadi alasan terbesar Mik

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   9. Bersedia Dibooking

    Mikhayla Bintari berlari menuruni tangga gedung fakultas begitu dosen menutup kelas sore itu. Tas ranselnya bergoyang di punggung, sementara jemarinya sibuk mengecek waktu di ponsel.Setengah jam lagi jam besuk ibunya di rumah sakit berakhir.Dan malam ini, sebelum pukul tujuh, ia juga harus sudah berada di apartemen Kama.Pria yang menjadi sugar daddy-nya itu sudah mengirim pesan sejak siang."Dinner di apartemen. Jangan telat."Singkat. Dingin. Khas Kama.Tidak mau telat, ini ATM berjalan Mikha. Nanti merajuk, dia yang repot.Mikha mengembuskan napas panjang. Hidupnya terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir. Kuliah, rumah sakit, lalu apartemen Kama. Begitu terus setiap hari.“Begini banget sih hidup sugar baby,” gumam Mikha sedikit mengeluh.Saat berjalan cepat melintasi koridor kampus yang mulai sepi, tiba-tiba seorang mahasiswa laki-laki menubrak punggungnya cukup keras.Bruk!"Aduh!"Mikha hampir kehilangan keseimbangan ketika seorang mahasiswa laki-laki buru-buru mundur."Ma

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   8, Executive Package

    Keheningan kembali memenuhi kamar mandi, Mikha sudah selesai menggosok punggung Kama. Sekarang ia duduk di kursi kecil dekat bathtub sambil memainkan ponselnya.Sesekali melirik saldo rekeningmya, kebiasaan orang miskin yang mendadak kaya."Kau menginap malam ini." Suara Kama terdengar begitu saja.Mikha yang sedang menghitung bunga deposito hampir menjatuhkan ponselnya."Hah?""Menginap."Mikha menoleh. Kama masih santai di dalam bathtub.Seolah baru saja meminta tambahan sendok, bukan meminta seorang wanita menginap.Mikha langsung memasang ekspresi pebisnis."Om." Suara manjanya mulai terdengar manis di telinga Kama."Hm.""Itu layanan premium."Kama menatapnya, tatapan datar. Tatapan yang biasanya membuat bawahan perusahaan berkeringat. Sayangnya Mikha kebal, yang penting rekeningnya gemuk."Premium?""Iya."Kama tertawa sinis, "Kau sedang menjual paket?""Tentu."Mikha berdiri lalu menghitung dengan jari. "Temenin makan, satu paket. Temenin ngobrol, paket regular-""Kalau mengina

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   7. Benci, Dendam, dan Seorang Sugar Daddy

    Bottom of FormKuliah selesai. Koridor Gedung B penuh mahasiswa yang buru-buru pulang. Mikha berjalan pelan, buku tebal Strategi Bisnis dipeluk di dada. Wajah tegas, judes, tapi langkahnya tenang.Tidak buru-buru, tidak menoleh kiri kanan.Tidak perlu tebar pesona, tapi bisa dipastikan semua mata me

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   6. Gadis Bayaran Om Kama

    Kama menatap Mikha dengan tatapan penuh arti di bawah cahaya lampu remang ballroom hotel yang mewah. Gaun sutra hitam yang membalut tubuh ramping Mikha seolah menambah aura misterius dan memikatnya. Kulit cokelat eksotis Mikha berkilau lembut, memancarkan keindahan yang tak perlu berlebihan.Beberap

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   5. Temani Saya Selama di Bali!

    Erick meringis, kusut melanda saat sang bos mulai uring-uringan. Hanya kesalahan kecil, dia menyewa jasa wanita untuk dijadikan plus one bagi sang bos. Sialnya, bos tidak suka karena wanita itu terlalu pendiam.‘Kemarin agresif salah. Sekarang pendiam, makin salah.’ Erick mendesah, bosnya ini mauny

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   4. Menyentil Harga Diri Mikha

    Mikha duduk di kursi bar yang remang, sorot matanya tajam menatap Kama yang tengah asyik berbincang dengan rekan bisnisnya. Ia harus menyingkir sejenak, karena akan ada pembicaraan khusus antara Kama dengan kliennya, yang juga membawa wanita. Mikha berbincang santai dengan beberapa wanita yang menj

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status