Home / Young Adult / Dekapan Hangat Papa Rivalku / 7. Benci, Dendam, dan Seorang Sugar Daddy

Share

7. Benci, Dendam, dan Seorang Sugar Daddy

Author: Miss Nonce
last update publish date: 2026-06-20 00:31:38

Bottom of Form

Kuliah selesai. Koridor Gedung B penuh mahasiswa yang buru-buru pulang. Mikha berjalan pelan, buku tebal Strategi Bisnis dipeluk di dada. Wajah tegas, judes, tapi langkahnya tenang.Tidak buru-buru, tidak menoleh kiri kanan.

Tidak perlu tebar pesona, tapi bisa dipastikan semua mata memandang padanya. Mikha mahasiswa cantik, jurusan bisnis memang sudah dikenal di kalangan mahasiswa lainnya.

Dari arah berlawanan, Viola Debby datang. Berjalan kelewat santai dengan dua dayang-dayangnya Priska dan Citra. Entah apa yang mereka bicarakan sambil tertawa cekikikan tidak jelas. Tas Chanel nyantol di bahu, HP di tangan. Tidak melihat depan.

Bugh..

Tabrakan kecil. Buku Mikha menyenggol bahu Vio. Kopi di tangan Vio tumpah ke blouse putih yang ia kenakan.

Vio berhenti mendadak. Lihat noda di baju. Langsung meledak.

Arkh..

“Anjin*! Lo buta apa, hah?!”

Mikha berhenti, tidak panik. Tidak angkat suara, hanya menatatap Vio, tenang.

“Jalan lihat ke depan, lo. Kopinya mahal, sayang kalau kebuang.”

Nada Mikha datar. Tapi kata “sayang kalau kebuang” kena. Sindiran halus: lo lebih peduli baju daripada orang.

Vio langsung naik pitam.

“Lo sengaja kan?! Dari tadi gue liat lo natap gue!” membuang gelas kopi ke tanah, lalu maju melangkah ke arah depan Mikha.

Mikha masih tenang. Malah senyum tipis, sinis.

“Sengaja? Capek, Vio. Tidak semua hal di dunia ini tentang lo.”

Itu. Satu kalimat. Menohok.

Vio yang bar-bar langsung merasa direndahkan.

“Gila lo! Minta maaf!” Vio dorong buku Mikha pakai punggung tangan. Keras, hingga buku milha terjatuh.

Mikha masih diam dua detik. Menatap Vio dari atas ke bawah, seperti sedang menyaksikan anak SD tantrum.

“Anak kecil juga tahu kalau jatuhin barang orang itu tidak sopan. Apa papah lo tidak ngajarin?”

Kena lagi. Vio tidak bisa jawab. Bar-bar-nya keluar penuh.

Tangan Vio dengan cepat menyambar rambut Mikha yang diikat kuncir.

Mikha tidak teriak. Tidak memaki. Refleks saja tangan kirinya naik, menjambak balik rambut Vio. Tapi tetap tenang. Tidak ada jeritan, hanya tarikan kuat dan tatapan dingin.

Koridor riuh.

“Kurang ajar!” pekik Vio terkejut akan gerakan cepat Mikha.

“Siapa lo, sampai gue harus takut sama lo,” balas Mikha tetap tenang.

“Pisahin! Pisahin!”

Priska dan Citra langsung menyempil melerai.

“Eh eh udah dong, nanti dilihat dosen,” ujar Citra dengan tangan mencoba melepaskan tangan Mikha di rambut Vio.

Vio teriak-teriak sambil jambak: “Lepas! Gue benci lo, Mikha!”

Mikha tidak jawab teriakan. Cuma tatap mata Vio, deket banget, pelan:

“Benci? Capek ya hidupnya, Vio. Harus benci orang terus biar merasa unggul.”

Itu bisikan. Tidak didengar orang lain. Tapi cukup buat bikin tangan Vio gemetar.

Priska berhasil menarik Mikha. Citra menarik Vio. Keduanya masih saling tatap.

Vio napas ngos-ngosan, rambut acak-acakan, muka merah. Bar-bar habis.

“Gue benci lo! Benci!”

Mikha diam. Rambut berantakan, tapi sikap tetap tegak. Tidak ada teriakan, tidak ada makian. Cuma satu kalimat, pelan, tapi ngebekas:

“Bagus. Setidaknya lo konsisten. Dari dulu sampe sekarang, cuma bisa benci tanpa tahu kenapa.”

Diam.

Mahasiswa lain yang menyaksikan keributan keduanya yang entah sudah keberapa kali ini, diam seribu bahasa. Karena tamparan Mikha bukan pakai tangan, melainkan pakai kata-kata.  

Mereka juga penasaran apa yang menyebabkan dua gadis cantik ini selalu ribut jika bertemu. Padahal sama-sama satu jurusan dan satu Angkatan, mungkin dendam di masa lalu, pikir mereka.

Vio tidak bisa balas. Bar-bar-nya mentok. Cuma bisa nyolot.

Mikha membetulkan kuncir yang berantakan. Jalan pergi. Tenang, tegas dan mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Seolah tidak terjadi apa-apa barusan.

Vio ditahan Priska, masih ngos-ngosan.

“Sudah Vi, kalau dosen lewat. Malas ah dipanggil terus, bosen gue.”

Citra mengangguk setuju, “Iya Vi, dosen juga sudah bosan kali. Kita-kita lagi yang dipanggil.”

“Diam lo berdua,” sentak Vio kasar, kedua temannya hanya bisa menghela napas dan geleng kepala saja.

Keduanya juga tidak tahu ada tragedy apa antara Vio dan Mikha di masa lalu. Yang mereka tahu, hanya keduanya satu sekolah jenjang SMP. Lalu bertemu lagi di kampus yang sama. Sejak masih jadi Maba sampai sudah ditengah semester, keduanya ribut terus jika bertemu. Ada saja alasan yang bisa menjadi bahan ribut keduanya.

“Serius lo benci dia kenapa sih?” tanya Citra, si kalem yang menjadi besti Vio di kampus.

Vio tidak jawab. Hanya metatap punggung Mikha yang makin jauh.

Karena dia sendiri juga tidak tahu, yang dia ingat sejak SMP dia benci melihat Mikha yang selalu menjadi pusat perhatian.

Dia cuma tahu: kalau diam lawan Mikha, dia kalah.

Dan Vio benci kalah.

Alasan benci? Tidak ada yang tahu.

Tapi yang jelas: Mikha tenang, menohok.

Vio bar-bar, meledak.

Dan keduanya tidak ada yang mau ngaku kalah.

*

*

Mikha melangkah masuk ke dalam apartemen mewah itu dengan langkah ringan, senyum cerah terpancar di wajahnya. Maklum, sejak kenal Om Kama, rekening Mikha menggendut seketika.

Pulang dari Bali, mereka baru bertemu satu kali. Karena Kama sangat sibuk dengan pekerjaannya, dan Mikha tidak pernah sekalipun bertanya apa pekerjaan Kama. Mikha tidak peduli yang penting dompet tebal dan rekening gendut.

Klik

Pintu terbuka, Mikha sudah tahu password yang diberikan Kama. Apartemen ini begitu besar, Mikha sudah pernah datang kesini. Ada pelayan yang akan membersihkan apartemen seminggu tiga kali, dan lemari es penuh dengan makanan.

Apartemen yang luas dan mewah, Mikha bisa bayangkan sebagus apa rumah Kama jika apartemennya saja sudah mewah begini. Apartemen ini adalah tempat mereka memadu kasih, karena Kama tidak mau bermain di dalam hotel.

Meski jadi sugar baby, mereka belum melakukan hal jauh. Hanya sebatas ciuman, entah Kama yang tidak mau atau tidak bernafsu pada Mikha.

Beberapa menit menunggu, sugar Daddy kesayangan Mikha datang. Senyum sudah langsung on di bibir, seperti sudah tersetting otomatis jika melihat pria aroma dolar.

"Halo, Om," sapanya lembut sambil mendekat, mengusap dada Kama dengan gerakan lembut.

Kama?

hanya melirik lalu berjalan menuju sofa, yang diikuti si centil.

“Capek ya baru pulang.” Pertanyaan yang menurut Kama tidak penting, maka tidak akan dia jawab.

Mikha duduk di pangkuan Kama. Bermanja pada Kama adalah aturan tertulis di kontrak, tapi jangan ada rengekan yang membuat sugar Daddy pusing saja.

Tangan terampil mulai membuka dasi yang melilit leher pria itu. Om Kama hanya mengangguk pelan ketika Mikha bertanya, "Om mau mandi?" tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya.

Dengan cekatan, Mikha menuju kamar mandi dan mulai mengisi bathube dengan air hangat yang mengepul. Suasana hening terjaga, hanya suara air yang mengalir dan detak jantung Mikha yang terasa lebih keras dari biasanya.

Sementara pikirannya justru mengembara ke mana-mana. ‘Sumpah ini sugar Daddy gue ganteng banget.. gimana istrinya ya yang bisa nyentuh itu perut kotak-kotak setiap hari,’ pikir Mikha.

Mikha melirik ke arah pintu kamar mandi.

'Ini sugar daddy ganteng banget.'

Wajah tampan, bahu lebar, tubuh atletis, suara berat. Dan yang pasti memiliki isi  rekening yang mungkin bisa membeli satu gedung kampusnya.

Kadang Mikha merasa hidup tidak adil.

Ada orang yang harus memilih antara bayar kos atau makan.

Ada juga yang seperti Kama.

Tampan, kaya, tinggi dan menyebalkan sekaligus. Lengkap!

Ketika Kama masuk ke kamar mandi, Mikha buru-buru memasang wajah profesionalnya lagi. Tidak boleh terlihat sedang menghina klien dalam hati, itu melanggar etika kerja.

Kama duduk di dalam bathtub dengan ekspresi datar seperti biasa. Sementara Mikha berdiri di belakangnya.

Menyiapkan sabun, lalu mulai menggosok punggung pria itu perlahan.

Ruangan kembali sunyi. Hanya suara air dan keheningan khas Kama yang entah kenapa selalu terasa menekan. Pria itu tidak bicara, Mikha juga tidak bicara.

Namun ada sesuatu yang selalu membuatnya tidak nyaman setiap kali berada terlalu dekat dengan Kama.

Bukan karena takut.

Bukan juga karena malu.

Melainkan karena pria itu terlalu sulit dibaca.

Kadang Mikha merasa dirinya hanya main-main dengan seorang miliarder dingin.

Kadang...

Ia merasa sedang duduk terlalu dekat dengan monster yang sedang tidur.

Dan yang lebih mengerikan lagi?

Ia mulai terbiasa berada di dekat monster itu. **

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   16. Kunjungan Kenegaraan di Istana Merah Muda

    Mikha mengeratkan selimut di dadanya, usai percintaannya dengan Paizani Kama Kanigara, sugar Daddy kesayangannya. Menyunggingkan senyum menggemaskan, Mikha menggigit bibir bawahnya teringat bagaimana Kama menerjangnya dari ruang tamu menuju kamar, dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.Kama yang menaiki tubuhnya, memberikan kecupan sehangat sutra. Begitu lembut hingga Mikha hanya bisa memejamkan matanya, tatapan Kama yang penuh damba padanya. Membuat Mikha tertunduk lemas, sugar daddynya ini tidak kaleng-kaleng pesonanya.Kini, sugar daddynya itu tengah berdiri dengan ponsel di tangan seraya melihat pemandangan malam di apartemen mewah mereka yang terletak di lantai 25.Kama berdiri dengan wibawa yang tak bisa dibantah, meski usianya sudah di akhir empat puluhan, tapi justru di situlah letak pesonanya. Rambut hitam pekat yang kini diselingi warna perak di sekitaran pelipis, tidak banyak. Tapi justru itu yang membuat pemilik perusahaan teknologi, FnB dan perhotelan itu terlihat se

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   15. Alasan Menjadi Sugar Baby

    Mikha melangkah masuk ke ruang kuliah dengan langkah pelan, matanya masih sembab akibat kurang tidur. Kemarin dia terpaksa bolos kuliah, karena Om nakalnya tidak berhenti mengajarnya dengan kenikmatan dunia. Tapi tidak masalah, selesainya Mikha diberi hadiah mewah. Sebuah kalung dengan liontin bunga, cantik sekali.Tiba-tiba, suara tawa cempreng memecah keheningan. Vio muncul bersama tiga gadis yang selalu menempel bak parasite, lengkap dengan senyum sok cantik mereka."Ada yang bolos nih, dua hari nggak kuliah Kerja rodi banget nih," sindir Citra, salah satu dayang-dayang Vio, sambil melirik tajam ke arah Mikha.Vio ikut tertawa, suaranya penuh ejekan, "Buat apa sih?”Priska, salah satu dari mereka tidak ketinggalan. “Tuntutan hiudp kali, Cit. Kalau nggak banting tulang begitu, mau makan apa coba?"“Kalau buat makan, kalau cuma buat gaya fashion kelas atas tapi nggak sampai atas gimana,” celetuk Citra lagi mneyindir keras.“Pengan nggak nethink, tapi kok nggak bisa!” Priska tertawa s

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   14. Sarapan Mikha (21+)

    Esok paginya, Mikha sudah berkutat di dapur minimalis apartemen mewah Kama. Aroma harum mentega yang meleleh di atas wajan memenuhi dapur, aroma yang memubuat orang tergoda. Mikha berdiri santai mengenakan kemeja putih longgar, dengan cekatan mengocok telur dan menyiapkan roti tawar. Sarapan yang sangat sederhana—hanya scrambled eggs gurih dan roti panggang hangat—tapi cukuplah untuk memulai hari di apartemen megah berlantai tinggi tersebut.Di tempat ini, Mikha memang tak perlu pusing memikirkan hal-hal rumit. Segala kebutuhan hidupnya, mulai dari bahan makanan segar yang selalu diisi ulang, tagihan bulanan, hingga fasilitas kelas atas, semuanya sudah terjamin dengan sempurna.Saat Mikha sedang membalik roti panggangnya, dua lengan kekar tiba-tiba melingkar lembut di pinggangnya dari belakang. Kehangatan langsung menyapu punggung Mikha saat Kama menyandarkan dagunya di bahu wanita itu."Selamat pagi," bisik Kama dengan suara serak khas bangun tidur, menyapa tepat di dekat telinga Mik

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   13. Sugar Baby dan Sugar Daddy

    Aroma parfum mahal dan pendingin udara toko barang mewah di pusat perbelanjaan kelas atas siang itu tak mampu meredakan rasa heran Rara. Di depannya, Mikha santai menunjuk dua tas kulit edisi terbatas dan tiga pasang sepatu hak tinggi tanpa sekali pun melihat label harga.“Wangi nggak?” tanyanya pada Rara yang lihat kanan kiri, bingung mau beli apa. Karena harganya tidak ngotak, kalau menurut Rara.“Wangilah, semerbak. Parfum mahal,” celetuk Rara polos.Mikha tersenyum, lalu memanggil pelayan di dekatnya. "Mbak, tolong dibungkus semua ya," ujar Mikha pada pelayan toko sambil menyodorkan kartu kredit berwarna hitam mengilap.“Eh gila Mikha, definisi kaya mendadak ini mah.” Rara sampai geleng kepala.Rara menatap tumpukan kantong belanjaan berlogo desainer dunia itu dengan mata membelalak. "Mikha, kamu kesurupan apa gimana, sih? Ini kalau ditotal bisa buat bayar uang muka rumah! Sayang tahu,” desis Rara.“Santai sih,” ujar Mikha tertawa pelan sambil merapikan gaun sutranya.“Sumpah ya s

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   12. Menuntaskan Hasrat (21+)

    Mikha semakin menegang, usai jari Kama masuk ke dalam inti tubuhnya. Kama, pria itu hanya tersenyum manis dan menggoda.“Kamu sudah basah,” bisik Kama, masih sempat menggigit telinga Mikha.“Om..” Mikha menahan seluruh gairah yang kini menyelimutinya.“Kau menyukainya, Mikha.” Kama semakin gencar menggoda, satu jari ia gerakkan maju mundur, berhasil membuat menekan lengan Kama dengan kuat.“Om-uhh..”Malu Mikha mendengar suaranya sendiri. Terdengar seperti putus asa, ingin semuanya berakhir dengan nikmat.Ketika tangan Kama bermain di bawah sana, mulutnya sibuk menyesap dua gunung dengan pucuk berwarna pink itu. Kama menggila, dia menyukai ini. Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.“Mikha..”Mikha menggelinjang, dia disiksa atas bawah. Sapuan lidah Kama sangat hangat di dadanya, tangan Mikha meremaskan rambut Kama, kuat.“Om-“ teriakan Mikha terputus ketika Kama mengeluarkan jarinya.“Mau apa Mikha.. katakan padaku,” bisik Kama menggoda.“Om Mikha nggak kuat.”“Tidak kuat apa?” ta

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   11. Sentuhan Pertama Kama (21+)

    Malam itu, di dalam apartemen mewah dengan pemandangan gemerlap kota, Mikha berdiri kaku di pinggir ranjang. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan suara jarum jam yang seolah mengejek keraguannya. Di sudut matanya, tumpukan tagihan rumah sakit ibunya dan biaya terbayang dengan sangat jelas. Mikha butuh uang—bukan dalam hitungan minggu, melainkan besok pagi.Dan Kama, pria matang dengan setelan jas mahal dan wangi kayu cendana yang tenang, adalah satu-satunya pelariannya.Sebagai sugar baby, Mikha tahu betul konsekuensi dari perjanjian tak tertulis ini. Kama telah mentransfer sejumlah uang yang lebih dari cukup untuk menyelesaikan seluruh masalah finansialnya sore tadi. Jadi, ketika Kama melangkah mendekat setelah melepas jasnya, Mikha memejamkan mata. Ia sudah bersiap menyerahkan kepemilikan tubuhnya sebagai bentuk pambayaran yang pantas."Mikha," panggil Kama, suaranya dalam dan pelan, memecah hening.Mikha memaksakan senyum, jarinya yang gemetar mulai meraih kancing kemejanya

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   6. Gadis Bayaran Om Kama

    Kama menatap Mikha dengan tatapan penuh arti di bawah cahaya lampu remang ballroom hotel yang mewah. Gaun sutra hitam yang membalut tubuh ramping Mikha seolah menambah aura misterius dan memikatnya. Kulit cokelat eksotis Mikha berkilau lembut, memancarkan keindahan yang tak perlu berlebihan.Beberap

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   5. Temani Saya Selama di Bali!

    Erick meringis, kusut melanda saat sang bos mulai uring-uringan. Hanya kesalahan kecil, dia menyewa jasa wanita untuk dijadikan plus one bagi sang bos. Sialnya, bos tidak suka karena wanita itu terlalu pendiam.‘Kemarin agresif salah. Sekarang pendiam, makin salah.’ Erick mendesah, bosnya ini mauny

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   4. Menyentil Harga Diri Mikha

    Mikha duduk di kursi bar yang remang, sorot matanya tajam menatap Kama yang tengah asyik berbincang dengan rekan bisnisnya. Ia harus menyingkir sejenak, karena akan ada pembicaraan khusus antara Kama dengan kliennya, yang juga membawa wanita. Mikha berbincang santai dengan beberapa wanita yang menj

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   3. Plus One om Duda

    Mikha sudah siap dengan job-nya. Berdandan cantik, duduk anteng di meja rias. Di belakangnya, Rara bertindak sebagai hairstylist, bergantian. Rara memegang catokan, Mikha mau diluruskan rambutnya.“Njrit, pegel gue tiap catok elu, Mikh. Akuin aja sih udah, rambut lo kribo.” Rara mengeluh, sudah set

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status