เข้าสู่ระบบBottom of Form
Kuliah selesai. Koridor Gedung B penuh mahasiswa yang buru-buru pulang. Mikha berjalan pelan, buku tebal Strategi Bisnis dipeluk di dada. Wajah tegas, judes, tapi langkahnya tenang.Tidak buru-buru, tidak menoleh kiri kanan.
Tidak perlu tebar pesona, tapi bisa dipastikan semua mata memandang padanya. Mikha mahasiswa cantik, jurusan bisnis memang sudah dikenal di kalangan mahasiswa lainnya.
Dari arah berlawanan, Viola Debby datang. Berjalan kelewat santai dengan dua dayang-dayangnya Priska dan Citra. Entah apa yang mereka bicarakan sambil tertawa cekikikan tidak jelas. Tas Chanel nyantol di bahu, HP di tangan. Tidak melihat depan.
Bugh..
Tabrakan kecil. Buku Mikha menyenggol bahu Vio. Kopi di tangan Vio tumpah ke blouse putih yang ia kenakan.
Vio berhenti mendadak. Lihat noda di baju. Langsung meledak.
Arkh..
“Anjin*! Lo buta apa, hah?!”
Mikha berhenti, tidak panik. Tidak angkat suara, hanya menatatap Vio, tenang.
“Jalan lihat ke depan, lo. Kopinya mahal, sayang kalau kebuang.”
Nada Mikha datar. Tapi kata “sayang kalau kebuang” kena. Sindiran halus: lo lebih peduli baju daripada orang.
Vio langsung naik pitam.
“Lo sengaja kan?! Dari tadi gue liat lo natap gue!” membuang gelas kopi ke tanah, lalu maju melangkah ke arah depan Mikha.
Mikha masih tenang. Malah senyum tipis, sinis.
“Sengaja? Capek, Vio. Tidak semua hal di dunia ini tentang lo.”
Itu. Satu kalimat. Menohok.
Vio yang bar-bar langsung merasa direndahkan.
“Gila lo! Minta maaf!” Vio dorong buku Mikha pakai punggung tangan. Keras, hingga buku milha terjatuh.
Mikha masih diam dua detik. Menatap Vio dari atas ke bawah, seperti sedang menyaksikan anak SD tantrum.
“Anak kecil juga tahu kalau jatuhin barang orang itu tidak sopan. Apa papah lo tidak ngajarin?”
Kena lagi. Vio tidak bisa jawab. Bar-bar-nya keluar penuh.
Tangan Vio dengan cepat menyambar rambut Mikha yang diikat kuncir.
Mikha tidak teriak. Tidak memaki. Refleks saja tangan kirinya naik, menjambak balik rambut Vio. Tapi tetap tenang. Tidak ada jeritan, hanya tarikan kuat dan tatapan dingin.
Koridor riuh.
“Kurang ajar!” pekik Vio terkejut akan gerakan cepat Mikha.
“Siapa lo, sampai gue harus takut sama lo,” balas Mikha tetap tenang.
“Pisahin! Pisahin!”
Priska dan Citra langsung menyempil melerai.
“Eh eh udah dong, nanti dilihat dosen,” ujar Citra dengan tangan mencoba melepaskan tangan Mikha di rambut Vio.
Vio teriak-teriak sambil jambak: “Lepas! Gue benci lo, Mikha!”
Mikha tidak jawab teriakan. Cuma tatap mata Vio, deket banget, pelan:
“Benci? Capek ya hidupnya, Vio. Harus benci orang terus biar merasa unggul.”
Itu bisikan. Tidak didengar orang lain. Tapi cukup buat bikin tangan Vio gemetar.
Priska berhasil menarik Mikha. Citra menarik Vio. Keduanya masih saling tatap.
Vio napas ngos-ngosan, rambut acak-acakan, muka merah. Bar-bar habis.
“Gue benci lo! Benci!”
Mikha diam. Rambut berantakan, tapi sikap tetap tegak. Tidak ada teriakan, tidak ada makian. Cuma satu kalimat, pelan, tapi ngebekas:
“Bagus. Setidaknya lo konsisten. Dari dulu sampe sekarang, cuma bisa benci tanpa tahu kenapa.”
Diam.
Mahasiswa lain yang menyaksikan keributan keduanya yang entah sudah keberapa kali ini, diam seribu bahasa. Karena tamparan Mikha bukan pakai tangan, melainkan pakai kata-kata.
Mereka juga penasaran apa yang menyebabkan dua gadis cantik ini selalu ribut jika bertemu. Padahal sama-sama satu jurusan dan satu Angkatan, mungkin dendam di masa lalu, pikir mereka.
Vio tidak bisa balas. Bar-bar-nya mentok. Cuma bisa nyolot.
Mikha membetulkan kuncir yang berantakan. Jalan pergi. Tenang, tegas dan mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Seolah tidak terjadi apa-apa barusan.
Vio ditahan Priska, masih ngos-ngosan.
“Sudah Vi, kalau dosen lewat. Malas ah dipanggil terus, bosen gue.”
Citra mengangguk setuju, “Iya Vi, dosen juga sudah bosan kali. Kita-kita lagi yang dipanggil.” “Diam lo berdua,” sentak Vio kasar, kedua temannya hanya bisa menghela napas dan geleng kepala saja.Keduanya juga tidak tahu ada tragedy apa antara Vio dan Mikha di masa lalu. Yang mereka tahu, hanya keduanya satu sekolah jenjang SMP. Lalu bertemu lagi di kampus yang sama. Sejak masih jadi Maba sampai sudah ditengah semester, keduanya ribut terus jika bertemu. Ada saja alasan yang bisa menjadi bahan ribut keduanya.
“Serius lo benci dia kenapa sih?” tanya Citra, si kalem yang menjadi besti Vio di kampus.
Vio tidak jawab. Hanya metatap punggung Mikha yang makin jauh.
Karena dia sendiri juga tidak tahu, yang dia ingat sejak SMP dia benci melihat Mikha yang selalu menjadi pusat perhatian.
Dia cuma tahu: kalau diam lawan Mikha, dia kalah.
Dan Vio benci kalah.
Alasan benci? Tidak ada yang tahu.
Tapi yang jelas: Mikha tenang, menohok.
Vio bar-bar, meledak.
Dan keduanya tidak ada yang mau ngaku kalah.
*
*
Mikha melangkah masuk ke dalam apartemen mewah itu dengan langkah ringan, senyum cerah terpancar di wajahnya. Maklum, sejak kenal Om Kama, rekening Mikha menggendut seketika.
Pulang dari Bali, mereka baru bertemu satu kali. Karena Kama sangat sibuk dengan pekerjaannya, dan Mikha tidak pernah sekalipun bertanya apa pekerjaan Kama. Mikha tidak peduli yang penting dompet tebal dan rekening gendut.
Klik
Pintu terbuka, Mikha sudah tahu password yang diberikan Kama. Apartemen ini begitu besar, Mikha sudah pernah datang kesini. Ada pelayan yang akan membersihkan apartemen seminggu tiga kali, dan lemari es penuh dengan makanan.
Apartemen yang luas dan mewah, Mikha bisa bayangkan sebagus apa rumah Kama jika apartemennya saja sudah mewah begini. Apartemen ini adalah tempat mereka memadu kasih, karena Kama tidak mau bermain di dalam hotel.
Meski jadi sugar baby, mereka belum melakukan hal jauh. Hanya sebatas ciuman, entah Kama yang tidak mau atau tidak bernafsu pada Mikha.
Beberapa menit menunggu, sugar Daddy kesayangan Mikha datang. Senyum sudah langsung on di bibir, seperti sudah tersetting otomatis jika melihat pria aroma dolar.
"Halo, Om," sapanya lembut sambil mendekat, mengusap dada Kama dengan gerakan lembut.
Kama?
hanya melirik lalu berjalan menuju sofa, yang diikuti si centil.“Capek ya baru pulang.” Pertanyaan yang menurut Kama tidak penting, maka tidak akan dia jawab.
Mikha duduk di pangkuan Kama. Bermanja pada Kama adalah aturan tertulis di kontrak, tapi jangan ada rengekan yang membuat sugar Daddy pusing saja.
Tangan terampil mulai membuka dasi yang melilit leher pria itu. Om Kama hanya mengangguk pelan ketika Mikha bertanya, "Om mau mandi?" tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
Dengan cekatan, Mikha menuju kamar mandi dan mulai mengisi bathube dengan air hangat yang mengepul. Suasana hening terjaga, hanya suara air yang mengalir dan detak jantung Mikha yang terasa lebih keras dari biasanya.
Sementara pikirannya justru mengembara ke mana-mana. ‘Sumpah ini sugar Daddy gue ganteng banget.. gimana istrinya ya yang bisa nyentuh itu perut kotak-kotak setiap hari,’ pikir Mikha.
Mikha melirik ke arah pintu kamar mandi.
'Ini sugar daddy ganteng banget.'
Wajah tampan, bahu lebar, tubuh atletis, suara berat. Dan yang pasti memiliki isi rekening yang mungkin bisa membeli satu gedung kampusnya.
Kadang Mikha merasa hidup tidak adil.
Ada orang yang harus memilih antara bayar kos atau makan.
Ada juga yang seperti Kama.
Tampan, kaya, tinggi dan menyebalkan sekaligus. Lengkap!
Ketika Kama masuk ke kamar mandi, Mikha buru-buru memasang wajah profesionalnya lagi. Tidak boleh terlihat sedang menghina klien dalam hati, itu melanggar etika kerja.
Kama duduk di dalam bathtub dengan ekspresi datar seperti biasa. Sementara Mikha berdiri di belakangnya.
Menyiapkan sabun, lalu mulai menggosok punggung pria itu perlahan.
Ruangan kembali sunyi. Hanya suara air dan keheningan khas Kama yang entah kenapa selalu terasa menekan. Pria itu tidak bicara, Mikha juga tidak bicara.
Namun ada sesuatu yang selalu membuatnya tidak nyaman setiap kali berada terlalu dekat dengan Kama.
Bukan karena takut.
Bukan juga karena malu.
Melainkan karena pria itu terlalu sulit dibaca.
Kadang Mikha merasa dirinya hanya main-main dengan seorang miliarder dingin.
Kadang...
Ia merasa sedang duduk terlalu dekat dengan monster yang sedang tidur.
Dan yang lebih mengerikan lagi?
Ia mulai terbiasa berada di dekat monster itu. **
Keheningan kembali memenuhi kamar mandi, Mikha sudah selesai menggosok punggung Kama. Sekarang ia duduk di kursi kecil dekat bathtub sambil memainkan ponselnya.Sesekali melirik saldo rekeningmya, kebiasaan orang miskin yang mendadak kaya."Kau menginap malam ini." Suara Kama terdengar begitu saja.Mikha yang sedang menghitung bunga deposito hampir menjatuhkan ponselnya."Hah?""Menginap."Mikha menoleh. Kama masih santai di dalam bathtub.Seolah baru saja meminta tambahan sendok, bukan meminta seorang wanita menginap.Mikha langsung memasang ekspresi pebisnis."Om." Suara manjanya mulai terdengar manis di telinga Kama."Hm.""Itu layanan premium."Kama menatapnya, tatapan datar. Tatapan yang biasanya membuat bawahan perusahaan berkeringat. Sayangnya Mikha kebal, yang penting rekeningnya gemuk."Premium?""Iya."Kama tertawa sinis, "Kau sedang menjual paket?""Tentu."Mikha berdiri lalu menghitung dengan jari. "Temenin makan, satu paket. Temenin ngobrol, paket regular-""Kalau mengina
Bottom of FormKuliah selesai. Koridor Gedung B penuh mahasiswa yang buru-buru pulang. Mikha berjalan pelan, buku tebal Strategi Bisnis dipeluk di dada. Wajah tegas, judes, tapi langkahnya tenang.Tidak buru-buru, tidak menoleh kiri kanan.Tidak perlu tebar pesona, tapi bisa dipastikan semua mata memandang padanya. Mikha mahasiswa cantik, jurusan bisnis memang sudah dikenal di kalangan mahasiswa lainnya.Dari arah berlawanan, Viola Debby datang. Berjalan kelewat santai dengan dua dayang-dayangnya Priska dan Citra. Entah apa yang mereka bicarakan sambil tertawa cekikikan tidak jelas. Tas Chanel nyantol di bahu, HP di tangan. Tidak melihat depan.Bugh..Tabrakan kecil. Buku Mikha menyenggol bahu Vio. Kopi di tangan Vio tumpah ke blouse putih yang ia kenakan.Vio berhenti mendadak. Lihat noda di baju. Langsung meledak.Arkh..“Anjin*! Lo buta apa, hah?!”Mikha berhenti, tidak panik. Tidak angkat suara, hanya menatatap Vio, tenang.“Jalan lihat ke depan, lo. Kopinya mahal, sayang kalau keb
Kama menatap Mikha dengan tatapan penuh arti di bawah cahaya lampu remang ballroom hotel yang mewah. Gaun sutra hitam yang membalut tubuh ramping Mikha seolah menambah aura misterius dan memikatnya. Kulit cokelat eksotis Mikha berkilau lembut, memancarkan keindahan yang tak perlu berlebihan.Beberapa teman Kama tak henti memuji, “Gadismu cantik sekali,” suara mereka terdengar berbisik penuh kekaguman.Kama hanya membalas dengan senyum tipis, lalu dengan langkah ringan mendekat, meraih tangan Mikha dan mengajaknya berdansa.Mikha yang sedang berdiri di dekat stand minuman terkejut, namun juga tak kuasa menolaknya. “Om ngagetin deh,” bisiknya dan menerima tangan Kama.Di tengah irama musik yang mengalun lembut, Kama mencondongkan tubuhnya ke dekat telinga Mikha, suaranya berbisik hangat namun penuh peringatan, “Jangan terlalu lama tersenyum. Semua orang akan mengira kamu menggoda pria mereka.”Tatapan Mikha membeku sekejap, matanya melebar karena terkejut. Dia tidak pernah bermaksud sepe
Erick meringis, kusut melanda saat sang bos mulai uring-uringan. Hanya kesalahan kecil, dia menyewa jasa wanita untuk dijadikan plus one bagi sang bos. Sialnya, bos tidak suka karena wanita itu terlalu pendiam.‘Kemarin agresif salah. Sekarang pendiam, makin salah.’ Erick mendesah, bosnya ini maunya apa sih.“Siap bos, saya akan mencari yang lain,” kata Erick.Kama menatap asistennya, “Kau bisa kerja tidak. Mencari wanita saja tidak bisa, padahal kau hanya tinggal membayar dan memberinya arahan!” omel Kama pada asistennya.Erick mengangguk, mengaku salah saja jangan membantah nanti jadi panjang. Pikiran Erick kini mulai menyortir wanita mana yang memenuhi kriteria pak bos.“Kemana wanita kemarin. Siapa namanya?”Erick merengutkan kening, berpikir. “Hmm, Mikha.. ya itu namanya. Dia, hmm sepertinya ada klien, pak.” Erick memberikan alasan, karena Kama sendiri yang meminta ganti. Kenapa sekarang malah menanyakan wanita itu.“Klien?” beo Kama.Ah Kama lupa, Mikha gadis panggilan. Sudah te
Mikha duduk di kursi bar yang remang, sorot matanya tajam menatap Kama yang tengah asyik berbincang dengan rekan bisnisnya. Ia harus menyingkir sejenak, karena akan ada pembicaraan khusus antara Kama dengan kliennya, yang juga membawa wanita. Mikha berbincang santai dengan beberapa wanita yang menjadi pasangan klien Kama.Setelah selesai, mereka dipanggil. Duduk dengan anggun di samping para bos besar. Kini acara lebih santai, pesta minum. Ada juga yang ke lantai dansa, menari melepas penat.Dengan suara lembut dan manja, Mikha menyapa, "Om, mau tambah minum?" Kama hanya menoleh sebentar lalu menggeleng, tanpa melepas pandangan dari lawan bicaranya.Mikha tahu, perhatian Kama lebih tertuju pada urusan bisnis daripada dirinya. Namun ia tak patah semangat. Ia harus bisa membuat Kama memilihnya lagi jika ada acara butuh plus one.Saat pembicaraan semakin serius, Mikha dengan sengaja menggeser tubuhnya mendekat dan mengelus pelan paha Kama. Sentuhan itu begitu ringan, tapi cukup membuat K
Mikha sudah siap dengan job-nya. Berdandan cantik, duduk anteng di meja rias. Di belakangnya, Rara bertindak sebagai hairstylist, bergantian. Rara memegang catokan, Mikha mau diluruskan rambutnya.“Njrit, pegel gue tiap catok elu, Mikh. Akuin aja sih udah, rambut lo kribo.” Rara mengeluh, sudah setengah jam baru sebagian yang lurus.“Enak aja kribo, keriting ya rambut gue.”“Sama aja!”Rara meneruskan kerjanya, Mikha memoles pipi dengan blush on warna pink, membuatnya lebih segar. Lipstick dia pulas warna merah menyala, kontras dengan kulit eksotisnya yang berkilau.“Badai banget lu, Mikh.” Rara tidak segan melontarkan pujian pada temannya yang memang cantik itu.“Demi Ra, demi.. demi om potensial,” canda Mikha.“Gue doa’in, om lo ganteng ya. Nggak pelit, jadi lo bisa traktir gue kain bali.”“Pekara kain Bali doang, kudu dapat om kaya,” gurau Mikha tertawa geli.Rara juga ikut berdandan, soal make up Mikha memang jagonya. Dia menyerahkan itu pada ahlinya. Dengan gerakan cepat, Mikha m
Masih di Beach Club, Seminyak-Bali.“Kesana saja yuk,” ajak Mikha, lebih baik mereka cari angin dulu.Toh mereka sampai minggu depan di Bali, jadi aman kalau hari ini mereka tidak dapat mangsa.Mikha berdiri tegap di tepi pantai, angin laut menerbangkan helai rambut keritingnya yang terurai panjang
“Ra, yakin aman?” tanya Mika mendadak gugup masuk ke sebuah beach club di Bali.Biasanya dia rajin ke night club, tapi berbeda. Jika biasanya bersenang-senang, kali ini dia akan mencari mangsa.“Amanlah,” ujar Rara, teman malam Mika.“Lo yakin kan, nggak ada yang kenal kita?” sambung Mikha lagi, ma







