Accueil / Young Adult / Dekapan Hangat Papa Rivalku / 1. Cari Mangsa = Cowok Tajir

Partager

Dekapan Hangat Papa Rivalku
Dekapan Hangat Papa Rivalku
Auteur: Miss Nonce

1. Cari Mangsa = Cowok Tajir

Auteur: Miss Nonce
last update Date de publication: 2026-05-11 14:42:32

“Ra, yakin aman?” tanya Mika mendadak gugup masuk ke sebuah beach club di Bali.

Biasanya dia rajin ke night club, tapi berbeda. Jika biasanya bersenang-senang, kali ini dia akan mencari mangsa.

“Amanlah,” ujar Rara, teman malam Mika.

“Lo yakin kan, nggak ada yang kenal kita?” sambung Mikha lagi, matanya memedar ke semua arah. Berharap tidak ada yang kenal atau mengenali mereka berdua.

“Lagi ini musim kuliah. Ngapain juga mereka kelayapan sampai ke Bali, kalau kita mah ketahuan ada arah dan tujuan,” kikik rasa merasa geli dengan maksud kedatangan mereka.

“Bagus deh, gue malas ngedrama aja.”

“Lagi lo kaya baru pertama ke tempat beginian.” Rara menggandeng tangan Mikha untuk masuk ke dalam.

Mika menggeleng lirih, “Gue baru pertama kali ke Bali. Udah dimasukin ke tempat beginian, syok gue tuh.”

“Tenang, lo kan yang mau cari mangsa jauh-jauh sampai keluar kota, Mik. Nah ini udah aman nih, jauh dari ibukota,” tawa Rara tanpa beban.

Keduanya masuk ke dalam, mengenakan dress pantai yang terbuka. Tentu mendapat perhatian para lelaki yang mayoritas orang bule mancanegara.

“Njir, ganteng-ganteng banget Mik. Nggak nyesel kan kita kesini,” kikik Rara seraya menggerakkan badan. Sengaja, untuk mengunda pria tampan yang mau mendekat.

“Iya ganteng. Ingat Ra, jangan pesan sembarangan. Kalau mahal, lo bayar pakai uang lo sendiri.”

“Iya gue paham. Makanya ini daritadi gue lagi lihat-lihat kali ada mangsa tokcer yang mau beliin kita minum.”

Keduanya ke Bali dengan membawa uang yang tidak banyak, maklum ada sesuatu yang sedang mereka incar.

“Gue ke toilet bentar ya.” Mika pamit sebentar.

“Mau gue pesenin apa?”

“Yang biasa saja, hati-hati lo!” pesan Mika, karena tahu dunia malam seperti apa. Penuh akan jebak menjebak.

Setelah Rara menganggukkan kepala, Mika pergi ke toilet.

Mikha melangkah cepat menyusuri keramaian beach club di Bali yang dipenuhi tawa riang dan musik berdentum dari panggung terbuka. Lampu warna-warni berkelap-kelip, memantul di gelas-gelas berisi koktail berwarna cerah. Di sekelilingnya, pasangan-pasangan muda asyik berciuman mesra, tangan saling meraba penuh gairah di bawah cahaya remang senja. Mikha hanya bisa menggeleng pelan, bibirnya menyunggingkan senyum sinis yang tak sampai ke mata.

“Hiiih, merinding ini gue sebadan-badan,” gumam Mikha kembali melanjutkan jalannya.

Dia tahu, di balik gemerlap dan kemewahan ini, ada kisah gelap yang harus ia ungkap. Meski di Jakarta juga banyak yang seperti itu di klub malam, namun berbeda dengan Bali yang lebih vul gar.

Tujuannya ke Bali bukan untuk bersenang-senang seperti mereka, melainkan untuk menemukan sandera yang bisa jadi tiket keluar dari jeratan utang dan biaya hidup yang semakin menyesakkan dada.

Di Jakarta terlalu berisiko—terlalu banyak wajah yang dikenalnya, terlalu banyak rahasia yang bisa terbongkar. Bersama Rara, sahabat sekaligus partner dalam perjuangan ini, mereka sengaja memilih Bali sebagai medan operasi, jauh dari hiruk pikuk yang biasa mereka hadapi.

Mikha menatap sekeliling dengan mata tajam, menyerap setiap detail yang mungkin membawa petunjuk. Langkahnya tetap mantap meski hatinya berdebar, tahu betul bahwa di balik kesenangan itu tersimpan bahaya yang mengintai. Toilet sudah dekat, tapi pikirannya masih jauh melayang pada misi yang harus segera ia selesaikan.

Di balik gemerlap pesta ini, ia dan Rara adalah pejuang yang berani mengorbankan segalanya demi harapan baru yang belum pasti.

“Lama banget loe,” ujar Rara ketika bestienya sudah kembali.

“Ngantri gila.”

Keduanya duduk di bangku bar, gelas di meja dengan tatapan mereka melayang kemana-mana. Diikuti gerakan tubuh yang luwes sambil duduk, hei mereka ini juga anak gaul. Tapi baru gaul di Bali saja.

Rara dan Mikha berdiri di pinggir pantai yang ramai, mata mereka melirik-lirik pria-pria yang berlalu-lalang. Beberapa pria, baik bule maupun lokal, dengan senyum ramah mencoba mendekati mereka, menyapa dengan kata-kata manis.

“No, thank’s.” Rara mengibaskan tangan, tanda menolak.

Mikha tersenyum sinis, setelah kepergian pria itu. “Gila ya, susah banget cari duit sampai kaya gini.”

“Jangan ngeluh. Demi apa coba kita begini, ya demi hidup. Hidup ini keras shayyyy.. jadi butuh yang beton-beton buat bertahan hidup.”

“Beton nggak tuh,” timpal Mikha dan keduanya tertawa bersama.

Mikha dan Rara masih berstatus mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta. Hebatnya, mereka kuliah biaya sendiri karena keluarga. Ah sudahlah tidak usah diharapkan. Mikha asli Bandung, sedangkan Rara dari Sumedang.

*

*

Tiga pria bule menghampiri Mikha dan Rara yang masih setia duduk di tempat semula.

“Hai ladies, sendirian?” tanya salah satu dari mereka dengan Bahasa inggris.

Rara dan Mikha yang fasih Bahasa asing meski setengah saja, membalas. Rara ramah, sedangkan Mikha nampak setengah hati. Maklum dari tampang saja sudah terlihat mereka bule yang hanya mau gratisan saja.

“Hai juga..” Rara menyapa.

“Berdua saja, bagaimana kalau kami temani. Sayang sekali gadis secantik kalian tidak ada bodyguard,” canda salah satu dari mereka.

Rara tertawa, Mikha sibuk dengan ponsel. Menolak terang-terangan.

“Boleh saja.. itu bisa dimulai dengan kalian memesankan minuman untuk kamu. Bagaimana?” pinta Rara.

Ketiga pria bule dengan tampang ganteng itu tertawa. Salah satu mendekat, berbicara di telinga Rara. “Bagaimana kalau kita split bill?”

Oh sebuah penawaran yang ogah sekali Rara terima.

Namun Rara menolak dengan tawa manisnya, “Oh honey.. sepertinya kalian bukan tercipta untuk kamu,” ujar Rara, tanda dia menolak.

Pria bule itu masih mencoba mendekat, satu tanga Rara menahan dada bidang itu. “Sorry, kami sedang menunggu seseorang!” penegasan dari Rara jika dia tidak mau mereka mendekat.

Ketiga pria bule itu mendesah, sadar diri jika mereka ditolak. Dengan tertib mereka pergi, kembali ke tempat semula.

“Hufthh.. Sial, malah dapatnya bule kere,” cebik Rara menegak satu gelas lagi.

“Minimal duda nggak apa deh, yang penting kaya. Capek otak gue, Ra.” Mikha menenggak satu minuman berwarna cokelat pekat dari gelas kecilnya.

“Lo kata lo doang. Apa kabarnya gue, Ra.”

“Kan lo cuma butuh buat bayar semesteran sama apartemen. Gue, huft.. biaya rumah sakit nyokap gila-gilaan mahalnya.”

Ada nada lirih dalam ucapan Mikha. Rara berusaha membuat suasanya mencair. “Yah jangan adu nasib dong, Ra. Nasib kita kan sama-sama jelek dalam urusan finansial,” kelakarnya.

“Benar juga ya. Yang ada malah tambah pusing, bukan tambah melek.”

“Nah itu paham.”

"Terus gimana, kita mau berapa lama di sini?" tanya Mikha, pasalnya jika berlama dengan tidak dapat mangsa, yang ada uang mereka habis hanya untuk membeli minuman.

"Coba deh tunggu sampai jam 11 ya. Kalau masih anyep, kita pindah."

"Ah gila, berasa wanita malamnya banget sih. Sampai pindah tempat, Ra."

"Ya elo maunya gimana? Mau kita balik ke hotel dengan siap-sia. Ingat ya, Ra. Kita ke Bali aja, udah mengerahkan tabungan kita. Masa nihil sih," seru Rara semangat.

Mikha menjatuhkan bahunya, "Benar juga sih."

"Nah itu lo paham Mbak Mikha yang bahenol."

Mikha tertawa, “Begini nasib pekerja seni ya nekkk..”

“Seni apaan?”

“Seni menjual tubuh.”

Hahaha..

Keduanya tertawa, lebih mudah menertawakan nasib ketimbang meratapi nasib memang. **

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   16. Kunjungan Kenegaraan di Istana Merah Muda

    Mikha mengeratkan selimut di dadanya, usai percintaannya dengan Paizani Kama Kanigara, sugar Daddy kesayangannya. Menyunggingkan senyum menggemaskan, Mikha menggigit bibir bawahnya teringat bagaimana Kama menerjangnya dari ruang tamu menuju kamar, dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.Kama yang menaiki tubuhnya, memberikan kecupan sehangat sutra. Begitu lembut hingga Mikha hanya bisa memejamkan matanya, tatapan Kama yang penuh damba padanya. Membuat Mikha tertunduk lemas, sugar daddynya ini tidak kaleng-kaleng pesonanya.Kini, sugar daddynya itu tengah berdiri dengan ponsel di tangan seraya melihat pemandangan malam di apartemen mewah mereka yang terletak di lantai 25.Kama berdiri dengan wibawa yang tak bisa dibantah, meski usianya sudah di akhir empat puluhan, tapi justru di situlah letak pesonanya. Rambut hitam pekat yang kini diselingi warna perak di sekitaran pelipis, tidak banyak. Tapi justru itu yang membuat pemilik perusahaan teknologi, FnB dan perhotelan itu terlihat se

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   15. Alasan Menjadi Sugar Baby

    Mikha melangkah masuk ke ruang kuliah dengan langkah pelan, matanya masih sembab akibat kurang tidur. Kemarin dia terpaksa bolos kuliah, karena Om nakalnya tidak berhenti mengajarnya dengan kenikmatan dunia. Tapi tidak masalah, selesainya Mikha diberi hadiah mewah. Sebuah kalung dengan liontin bunga, cantik sekali.Tiba-tiba, suara tawa cempreng memecah keheningan. Vio muncul bersama tiga gadis yang selalu menempel bak parasite, lengkap dengan senyum sok cantik mereka."Ada yang bolos nih, dua hari nggak kuliah Kerja rodi banget nih," sindir Citra, salah satu dayang-dayang Vio, sambil melirik tajam ke arah Mikha.Vio ikut tertawa, suaranya penuh ejekan, "Buat apa sih?”Priska, salah satu dari mereka tidak ketinggalan. “Tuntutan hiudp kali, Cit. Kalau nggak banting tulang begitu, mau makan apa coba?"“Kalau buat makan, kalau cuma buat gaya fashion kelas atas tapi nggak sampai atas gimana,” celetuk Citra lagi mneyindir keras.“Pengan nggak nethink, tapi kok nggak bisa!” Priska tertawa s

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   14. Sarapan Mikha (21+)

    Esok paginya, Mikha sudah berkutat di dapur minimalis apartemen mewah Kama. Aroma harum mentega yang meleleh di atas wajan memenuhi dapur, aroma yang memubuat orang tergoda. Mikha berdiri santai mengenakan kemeja putih longgar, dengan cekatan mengocok telur dan menyiapkan roti tawar. Sarapan yang sangat sederhana—hanya scrambled eggs gurih dan roti panggang hangat—tapi cukuplah untuk memulai hari di apartemen megah berlantai tinggi tersebut.Di tempat ini, Mikha memang tak perlu pusing memikirkan hal-hal rumit. Segala kebutuhan hidupnya, mulai dari bahan makanan segar yang selalu diisi ulang, tagihan bulanan, hingga fasilitas kelas atas, semuanya sudah terjamin dengan sempurna.Saat Mikha sedang membalik roti panggangnya, dua lengan kekar tiba-tiba melingkar lembut di pinggangnya dari belakang. Kehangatan langsung menyapu punggung Mikha saat Kama menyandarkan dagunya di bahu wanita itu."Selamat pagi," bisik Kama dengan suara serak khas bangun tidur, menyapa tepat di dekat telinga Mik

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   13. Sugar Baby dan Sugar Daddy

    Aroma parfum mahal dan pendingin udara toko barang mewah di pusat perbelanjaan kelas atas siang itu tak mampu meredakan rasa heran Rara. Di depannya, Mikha santai menunjuk dua tas kulit edisi terbatas dan tiga pasang sepatu hak tinggi tanpa sekali pun melihat label harga.“Wangi nggak?” tanyanya pada Rara yang lihat kanan kiri, bingung mau beli apa. Karena harganya tidak ngotak, kalau menurut Rara.“Wangilah, semerbak. Parfum mahal,” celetuk Rara polos.Mikha tersenyum, lalu memanggil pelayan di dekatnya. "Mbak, tolong dibungkus semua ya," ujar Mikha pada pelayan toko sambil menyodorkan kartu kredit berwarna hitam mengilap.“Eh gila Mikha, definisi kaya mendadak ini mah.” Rara sampai geleng kepala.Rara menatap tumpukan kantong belanjaan berlogo desainer dunia itu dengan mata membelalak. "Mikha, kamu kesurupan apa gimana, sih? Ini kalau ditotal bisa buat bayar uang muka rumah! Sayang tahu,” desis Rara.“Santai sih,” ujar Mikha tertawa pelan sambil merapikan gaun sutranya.“Sumpah ya s

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   12. Menuntaskan Hasrat (21+)

    Mikha semakin menegang, usai jari Kama masuk ke dalam inti tubuhnya. Kama, pria itu hanya tersenyum manis dan menggoda.“Kamu sudah basah,” bisik Kama, masih sempat menggigit telinga Mikha.“Om..” Mikha menahan seluruh gairah yang kini menyelimutinya.“Kau menyukainya, Mikha.” Kama semakin gencar menggoda, satu jari ia gerakkan maju mundur, berhasil membuat menekan lengan Kama dengan kuat.“Om-uhh..”Malu Mikha mendengar suaranya sendiri. Terdengar seperti putus asa, ingin semuanya berakhir dengan nikmat.Ketika tangan Kama bermain di bawah sana, mulutnya sibuk menyesap dua gunung dengan pucuk berwarna pink itu. Kama menggila, dia menyukai ini. Sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.“Mikha..”Mikha menggelinjang, dia disiksa atas bawah. Sapuan lidah Kama sangat hangat di dadanya, tangan Mikha meremaskan rambut Kama, kuat.“Om-“ teriakan Mikha terputus ketika Kama mengeluarkan jarinya.“Mau apa Mikha.. katakan padaku,” bisik Kama menggoda.“Om Mikha nggak kuat.”“Tidak kuat apa?” ta

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   11. Sentuhan Pertama Kama (21+)

    Malam itu, di dalam apartemen mewah dengan pemandangan gemerlap kota, Mikha berdiri kaku di pinggir ranjang. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan suara jarum jam yang seolah mengejek keraguannya. Di sudut matanya, tumpukan tagihan rumah sakit ibunya dan biaya terbayang dengan sangat jelas. Mikha butuh uang—bukan dalam hitungan minggu, melainkan besok pagi.Dan Kama, pria matang dengan setelan jas mahal dan wangi kayu cendana yang tenang, adalah satu-satunya pelariannya.Sebagai sugar baby, Mikha tahu betul konsekuensi dari perjanjian tak tertulis ini. Kama telah mentransfer sejumlah uang yang lebih dari cukup untuk menyelesaikan seluruh masalah finansialnya sore tadi. Jadi, ketika Kama melangkah mendekat setelah melepas jasnya, Mikha memejamkan mata. Ia sudah bersiap menyerahkan kepemilikan tubuhnya sebagai bentuk pambayaran yang pantas."Mikha," panggil Kama, suaranya dalam dan pelan, memecah hening.Mikha memaksakan senyum, jarinya yang gemetar mulai meraih kancing kemejanya

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   7. Benci, Dendam, dan Seorang Sugar Daddy

    Bottom of FormKuliah selesai. Koridor Gedung B penuh mahasiswa yang buru-buru pulang. Mikha berjalan pelan, buku tebal Strategi Bisnis dipeluk di dada. Wajah tegas, judes, tapi langkahnya tenang.Tidak buru-buru, tidak menoleh kiri kanan.Tidak perlu tebar pesona, tapi bisa dipastikan semua mata me

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   6. Gadis Bayaran Om Kama

    Kama menatap Mikha dengan tatapan penuh arti di bawah cahaya lampu remang ballroom hotel yang mewah. Gaun sutra hitam yang membalut tubuh ramping Mikha seolah menambah aura misterius dan memikatnya. Kulit cokelat eksotis Mikha berkilau lembut, memancarkan keindahan yang tak perlu berlebihan.Beberap

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   5. Temani Saya Selama di Bali!

    Erick meringis, kusut melanda saat sang bos mulai uring-uringan. Hanya kesalahan kecil, dia menyewa jasa wanita untuk dijadikan plus one bagi sang bos. Sialnya, bos tidak suka karena wanita itu terlalu pendiam.‘Kemarin agresif salah. Sekarang pendiam, makin salah.’ Erick mendesah, bosnya ini mauny

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   4. Menyentil Harga Diri Mikha

    Mikha duduk di kursi bar yang remang, sorot matanya tajam menatap Kama yang tengah asyik berbincang dengan rekan bisnisnya. Ia harus menyingkir sejenak, karena akan ada pembicaraan khusus antara Kama dengan kliennya, yang juga membawa wanita. Mikha berbincang santai dengan beberapa wanita yang menj

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status