로그인Mikha sudah siap dengan job-nya. Berdandan cantik, duduk anteng di meja rias. Di belakangnya, Rara bertindak sebagai hairstylist, bergantian. Rara memegang catokan, Mikha mau diluruskan rambutnya.
“Njrit, pegel gue tiap catok elu, Mikh. Akuin aja sih udah, rambut lo kribo.” Rara mengeluh, sudah setengah jam baru sebagian yang lurus.
“Enak aja kribo, keriting ya rambut gue.”
“Sama aja!” Rara meneruskan kerjanya, Mikha memoles pipi dengan blush on warna pink, membuatnya lebih segar. Lipstick dia pulas warna merah menyala, kontras dengan kulit eksotisnya yang berkilau.“Badai banget lu, Mikh.” Rara tidak segan melontarkan pujian pada temannya yang memang cantik itu.
“Demi Ra, demi.. demi om potensial,” canda Mikha.
“Gue doa’in, om lo ganteng ya. Nggak pelit, jadi lo bisa traktir gue kain bali.”
“Pekara kain Bali doang, kudu dapat om kaya,” gurau Mikha tertawa geli.Rara juga ikut berdandan, soal make up Mikha memang jagonya. Dia menyerahkan itu pada ahlinya. Dengan gerakan cepat, Mikha menyapu wajah Rara lebih bersinar. Beruntung, Rara memiliki kulit putih jadi gampang mengaplikasikan make up ke wajahnya.
“Jadi deh,” kata Mikha.
Rara membuka mata dan bercermin. “Eh iya, cantik loh gue.” Rara senang hasil Mikha kembali tidak mengecewakannya. “Emang badas sih elu urusan make up, Mikh. Bukan diterusin jadi MUA.”
“Ntarlah, gue lagi butuh uang banyak.” Mikha memang seorang MUA amatiran, paling hanya make up pesta saja. Selebihnya dia belum berani, karena tidak pelatihan professional.Malam ini Mikha memilih bodyconn dress kerah off-shoulder, yang menonjolkan bentuk tubuh dengan model bahu sabrina berlengan hingga siku. Warna hitam sungguh menarik di tubuh Mikha. Tidak panjang, hanya selutut saja, namun kesan seksi terpancar dengan sangat jelas. Pilihan tepat untuk pesta formil dan non formil, seperti yang diminta klien. Dress ini sewa, karena Mikha tidak bawa dress pesta.
“Beres?” tanya Rara.
Mikha mengangguk, lalu Rara mengantar keluar hotel karena supir dari klien Mikha sudah datang.
Mikha nampak terkesima ketika supir membuka pintu, dan dia kini sudah berada di sebuah hotel bintang lima. Di sana, sudah menunggu seorang pria entah siapa namanya.
“Mikha?” “Iya Mas.. Mas siapa ya?” tanyanya sopan.“Silakan ikut saya.” Tanpa dijawab, pria itu jalan begitu saja.
Mikha menurut, tahu jika pria itu pasti hanya orang suruhan.
Ada acara gala dinner, Mikha tidak langsung dibawa ke aula. Dia diajak naik lift, sedikit takut sih. Tapi mau bagaimana, Mikha butuh uang.
Tring..
Pintu lift terbuka, mereka berjalan menuju lorong dengan banyak pintu. Mikha tahu hotel ini bintang lima, yang semalam harganya fantastis.
“Keren banget.. kapan gue bisa nginep sini,” gumam Mikha terpesona akan keindahan dekorasi hotel.
“Tunggu di sini,” ucap pria itu menggatekan Mikha.
Mikha kembali menurut, dia menunggu sementara pria itu menekan bel. Lalu pintu dibuka, berbicara pelan dengan seorang pria.
Pria kedua keluar, memindai penampilan Mikha dari atas sampai bawah. Mikha salah tingkah, pria kedua ini masih muda dan.. tampan.
“Mikha.. kiriman dari..” pria itu mneyebut nama teman Rara, yang langsung ia angguki cepat.
“Baik, saya jelaskan tugas kamu.” Pria itu mulai bicara panjang kali lebar.
“Bos saya pengusaha properti. Banyak acara bisnis yang minta bawa pasangan. Kalau cocok, kami akan menghubungi kamu lagi. Tugas kamu cuma jadi pendamping. Senyum, ngobrol ringan, jangan kelihatan kayak anak kampung.”
Wow sangat menohok sekali.Intinya Mikha harus patuh, tidak buat malu, tidak norak atau kampungan. Selama pesta terus berada di samping klien, tidak boleh mabuk dan dilarang bicara jika tidak penting.
Mikha mendengarkan dengan tenang, sedikit heran. Ini briefing di luar kamar nih, kenapa ia tidak disuruh masuk.
“Mengerti?”
“Mengerti, Mas.” Angguk Mikha mantap.Pria kedua meminta Mikha masuk, dia membuka pintu lebar lebar.
‘Siap-siap nih gue ketemu klien gue.’ Pikir Mikha dalam hatinya.
*
*
Mikha duduk di dalam kamar, seharusnya pria yang menunggu. Ini malah Mikha menunggu om bos keluar. Kata asistennya, -pria kedua tadi-, pak bos sedang zoom meeting.
‘Daging kayanya nih om bos,’ batin Mikha, girang.
“Kama.. Kama..” Mikha menggaungkan nama itu. Nama dari klien yang menyewa jasanya malam ini.
Jam 7 malam, Paizani Kama Kanigara, duda anak satu yang sangat tampan di usianya yang sudah menginjak kepala empat ini, keluar dari kamar. Kemeja hitam lengkap dengan jas. Jam Rolex, postur 40 tahun yang masih atletis. Ia berdiri, lalu melihat pasangannya malam ini.
Kama melihat dari atas ke bawah. Bukan tatapan mesum. Lebih ke evaluasi.
Cantik iya. Tapi yang bikin Kama setuju pakai Mikha lagi bukan itu.
Yang membuatnya tertarik: cara wanita muda ini yang tidak silau. Banyak “plus one” yang dia bawa sebelumnya heboh foto di dalam kamar hotel, minta dibeliin ini itu dan tidak minta dibelikan. Kama lihat gaun yang dipakai, bagus. Menarik.
Mikha berbeda. Hanya tanya: “Jam berapa acara besok? Dress code apa?”. Sisanya tidak bertanya lagi, itu yang Kama ketahui dari Erick, asistennya.
Mandiri. Dan tidak butuh validasi dia.
“Malam om,” sapa Mikha ramah.
Terkesima juga, dia kira pria tua perut buncit. Siapa sangka, ganteng, gagah, kekar dan aura rich yang sangat kuat menyala.
Kalau tua dan perut buncit plus mesum, mau Mikha judesin selama acara.
“Ayo,” kata Kama, suara rendah.
Mikha angguk. Senyum tipis, profesional. Judesnya ditahan.
‘Ya ampun om bos, suaranya seksi deh.
“Siap om.”
Kama tidak masalah dipanggil om, karena melihat usia Mikha yang masih muda.
Di mobil menuju hotel tempat gala dinner, Kama buka suara pelan:
“Umur 26?”
Mikha yang lagi betulin kalung KW di kaca spion kecil, kaget. Tatap Kama sekilas, terus balik lihat depan. Tenang, judes.
“Iya, om.”
Kebohongan kecil. 22 jadi 26. Biar tidak kelihatan kayak mahasiswi yang kepepet uang. Biar tidak dikasihani.
Kama diam. Dia tidak percaya 100%. Ada sesuatu di cara Mikha bawa diri yang terlihat masih kekanakan. Terlalu muda untuk 26 tahun.
Tapi Kama tidak bertanya lagi.
10 juta sehari. Untuk datang, senyum, jadi “pasangan” di meja makan, pulang. Mikha tersenyum girang, usahanya nanti adalah membuat Kama menyukainya hingga sisa waktu dia di Bali, bisa digunakan untuk bekerja pada Kama.
Kama sendiri, tidak ada kontak fisik lebih. Itu aturan yang Kama kasih dari awal. Dia benci yang neko-neko.
Yang bikin Kama tertarik bukan peran “plus one”-nya.
*
*Kama menatap wanita di sisinya dengan mata setengah terpejam, mencoba memahami mengapa sosok muda itu begitu gigih menempel sepanjang gala dinner.
Mikha, dengan wajah yang sudah dipoles rapi, bibir merah menggoda, dan mata yang berkilau penuh percaya diri, tampak terlalu berani untuk seorang plus one di acara seperti ini. Kama memberi kode pada Erick, asistennya.
Kini Erick memberi kode pada Mikha, yang langsung berdiri dan berjalan mengikutinya.
“Ada apa Mas?” tanya Mikha, takut dia berbuat salah.
“Jaga sikapmu. Ini acara formal, bukan acara kencan buta. Jangan terlalu dekat dengan bos, dia tidak suka!”
“Oh oke,” sahut Mikha, patuh saja.Mikha kembali ke tempat semula, duduk sedikit berjarak dengan klien plus one-nya. Jangan sampai klien marah, nanti tidak dibayar.
Usai gala dinner, mereka pergi ke acara yang lain. Kali ini club malam yang hanya diperuntukkan kaun jetset.
Saat mereka melangkah memasuki club malam yang riuh, Mikha dengan santai merangkul lengan Kama.
"Singkirkan tanganmu!" suara Kama tiba-tiba keluar, tajam dan penuh otoritas.
“Ehh..” Mikha terkejut sejenak, tapi ekspresinya tak berubah menjadi marah atau tersinggung. Sebaliknya, dia hanya mengangkat alisnya dan tersenyum kecil, tetap tenang seperti sudah terbiasa menghadapi pria yang keras kepala.
Kama menahan senyum, merasakan gelombang geli mengalir dari dalam dada. Mental Mikha yang kuat dan keberaniannya membuatnya tak bisa menahan tawa kecil dalam hati. Di tengah keramaian dan lampu warna-warni yang berputar-putar, mereka berdua seperti dua kutub berbeda yang entah bagaimana menemukan keseimbangan aneh. Kama, pria dewasa yang dingin dan tertutup, dan Mikha, wanita muda yang agresif tapi tidak pernah kehilangan kendali.
Tanpa kata lagi, mereka melangkah bersama, Mikha tetap menggenggam lengannya dengan ringan, Kama membiarkan diri ikut terbawa suasana, walau tetap waspada. Pesta ini bukan sekadar ajang bisnis, tapi juga permainan psikologis yang membuat mereka berdua saling menguji batas.
Kama adalah pria berusia empat puluhan dengan aura yang sulit diabaikan. Wajahnya tampan dengan cambang tebal yang membingkai rahang tegasnya, menambah kesan maskulin sekaligus dingin. Tubuhnya tinggi dan gagah, hasil latihan rutin di gym yang membuat setiap gerakannya penuh percaya diri. Sebagai duda dengan satu anak, ia membawa beban masa lalu yang membuatnya semakin tertutup dan selektif dalam berteman.
Di dunia bisnis, Kama dikenal sebagai sosok yang sangat handal namun arogan dan sombong; ia tak segan menunjukkan dominasi dalam setiap pertemuan. Suara bising atau keramaian yang tak perlu membuatnya cepat kehilangan kesabaran, ia lebih suka suasana tenang yang mendukung pikirannya yang tajam dan strategis. Sikapnya yang dingin dan sedikit sombong sering kali membuat orang di sekitarnya enggan mendekat, tapi tak ada yang berani meragukan kemampuannya sebagai pebisnis sukses. **
Erick meringis, kusut melanda saat sang bos mulai uring-uringan. Hanya kesalahan kecil, dia menyewa jasa wanita untuk dijadikan plus one bagi sang bos. Sialnya, bos tidak suka karena wanita itu terlalu pendiam.‘Kemarin agresif salah. Sekarang pendiam, makin salah.’ Erick mendesah, bosnya ini maunya apa sih.“Siap bos, saya akan mencari yang lain,” kata Erick.Kama menatap asistennya, “Kau bisa kerja tidak. Mencari wanita saja tidak bisa, padahal kau hanya tinggal membayar dan memberinya arahan!” omel Kama pada asistennya.Erick mengangguk, mengaku salah saja jangan membantah nanti jadi panjang. Pikiran Erick kini mulai menyortir wanita mana yang memenuhi kriteria pak bos.“Kemana wanita kemarin. Siapa namanya?”Erick merengutkan kening, berpikir. “Hmm, Mikha.. ya itu namanya. Dia, hmm sepertinya ada klien, pak.” Erick memberikan alasan, karena Kama sendiri yang meminta ganti. Kenapa sekarang malah menanyakan wanita itu.“Klien?” beo Kama.Ah Kama lupa, Mikha gadis panggilan. Sudah te
Mikha duduk di kursi bar yang remang, sorot matanya tajam menatap Kama yang tengah asyik berbincang dengan rekan bisnisnya. Ia harus menyingkir sejenak, karena akan ada pembicaraan khusus antara Kama dengan kliennya, yang juga membawa wanita. Mikha berbincang santai dengan beberapa wanita yang menjadi pasangan klien Kama.Setelah selesai, mereka dipanggil. Duduk dengan anggun di samping para bos besar. Kini acara lebih santai, pesta minum. Ada juga yang ke lantai dansa, menari melepas penat.Dengan suara lembut dan manja, Mikha menyapa, "Om, mau tambah minum?" Kama hanya menoleh sebentar lalu menggeleng, tanpa melepas pandangan dari lawan bicaranya.Mikha tahu, perhatian Kama lebih tertuju pada urusan bisnis daripada dirinya. Namun ia tak patah semangat. Ia harus bisa membuat Kama memilihnya lagi jika ada acara butuh plus one.Saat pembicaraan semakin serius, Mikha dengan sengaja menggeser tubuhnya mendekat dan mengelus pelan paha Kama. Sentuhan itu begitu ringan, tapi cukup membuat K
Mikha sudah siap dengan job-nya. Berdandan cantik, duduk anteng di meja rias. Di belakangnya, Rara bertindak sebagai hairstylist, bergantian. Rara memegang catokan, Mikha mau diluruskan rambutnya.“Njrit, pegel gue tiap catok elu, Mikh. Akuin aja sih udah, rambut lo kribo.” Rara mengeluh, sudah setengah jam baru sebagian yang lurus.“Enak aja kribo, keriting ya rambut gue.”“Sama aja!”Rara meneruskan kerjanya, Mikha memoles pipi dengan blush on warna pink, membuatnya lebih segar. Lipstick dia pulas warna merah menyala, kontras dengan kulit eksotisnya yang berkilau.“Badai banget lu, Mikh.” Rara tidak segan melontarkan pujian pada temannya yang memang cantik itu.“Demi Ra, demi.. demi om potensial,” canda Mikha.“Gue doa’in, om lo ganteng ya. Nggak pelit, jadi lo bisa traktir gue kain bali.”“Pekara kain Bali doang, kudu dapat om kaya,” gurau Mikha tertawa geli.Rara juga ikut berdandan, soal make up Mikha memang jagonya. Dia menyerahkan itu pada ahlinya. Dengan gerakan cepat, Mikha m
Masih di Beach Club, Seminyak-Bali.“Kesana saja yuk,” ajak Mikha, lebih baik mereka cari angin dulu.Toh mereka sampai minggu depan di Bali, jadi aman kalau hari ini mereka tidak dapat mangsa.Mikha berdiri tegap di tepi pantai, angin laut menerbangkan helai rambut keritingnya yang terurai panjang hingga punggung. Sungguh eksotis gadis bernama Mikhayla Bintari.Wajahnya yang tajam cenderung judes memberi kesan angkuh, dengan hidung mancung dan bibir tebal memancarkan aura dingin, tegas dan mahal. Seolah tak ada yang mampu menembus benteng keseriusannya. Bandana oranye yang melingkar di kepalanya menambah sentuhan berani pada penampilannya yang bak patung hidup, tubuhnya ramping dan berlekuk bak gitar Spanyol, memancarkan kepercayaan diri yang sulit diabaikan.Di sampingnya, Rara tersenyum lembut, wajahnya yang manis dan ramah seakan menyambut hangat sinar mentari pagi. Dress putih yang dikenakannya menambah kesan anggun tanpa harus berlebihan, kontras dengan kesan jutek Mikha. Matany
“Ra, yakin aman?” tanya Mika mendadak gugup masuk ke sebuah beach club di Bali.Biasanya dia rajin ke night club, tapi berbeda. Jika biasanya bersenang-senang, kali ini dia akan mencari mangsa.“Amanlah,” ujar Rara, teman malam Mika.“Lo yakin kan, nggak ada yang kenal kita?” sambung Mikha lagi, matanya memedar ke semua arah. Berharap tidak ada yang kenal atau mengenali mereka berdua.“Lagi ini musim kuliah. Ngapain juga mereka kelayapan sampai ke Bali, kalau kita mah ketahuan ada arah dan tujuan,” kikik rasa merasa geli dengan maksud kedatangan mereka.“Bagus deh, gue malas ngedrama aja.”“Lagi lo kaya baru pertama ke tempat beginian.” Rara menggandeng tangan Mikha untuk masuk ke dalam.Mika menggeleng lirih, “Gue baru pertama kali ke Bali. Udah dimasukin ke tempat beginian, syok gue tuh.”“Tenang, lo kan yang mau cari mangsa jauh-jauh sampai keluar kota, Mik. Nah ini udah aman nih, jauh dari ibukota,” tawa Rara tanpa beban.Keduanya masuk ke dalam, mengenakan dress pantai yang terbu







