Share

3. Plus One om Duda

Penulis: Miss Nonce
last update Tanggal publikasi: 2026-05-12 16:11:15

Mikha sudah siap dengan job-nya. Berdandan cantik, duduk anteng di meja rias. Di belakangnya, Rara bertindak sebagai hairstylist, bergantian. Rara memegang catokan, Mikha mau diluruskan rambutnya.

“Njrit, pegel gue tiap catok elu, Mikh. Akuin aja sih udah, rambut lo kribo.” Rara mengeluh, sudah setengah jam baru sebagian yang lurus.

“Enak aja kribo, keriting ya rambut gue.”

“Sama aja!”

Rara meneruskan kerjanya, Mikha memoles pipi dengan blush on warna pink, membuatnya lebih segar. Lipstick dia pulas warna merah menyala, kontras dengan kulit eksotisnya yang berkilau.

“Badai banget lu, Mikh.” Rara tidak segan melontarkan pujian pada temannya yang memang cantik itu.

“Demi Ra, demi.. demi om potensial,” canda Mikha.

“Gue doa’in, om lo ganteng ya. Nggak pelit, jadi lo bisa traktir gue kain bali.”

“Pekara kain Bali doang, kudu dapat om kaya,” gurau Mikha tertawa geli.

Rara juga ikut berdandan, soal make up Mikha memang jagonya. Dia menyerahkan itu pada ahlinya. Dengan gerakan cepat, Mikha menyapu wajah Rara lebih bersinar. Beruntung, Rara memiliki kulit putih jadi gampang mengaplikasikan make up ke wajahnya.

“Jadi deh,” kata Mikha.

Rara membuka mata dan bercermin. “Eh iya, cantik loh gue.” Rara senang hasil Mikha kembali tidak mengecewakannya. “Emang badas sih elu urusan make up, Mikh. Bukan diterusin jadi MUA.”

“Ntarlah, gue lagi butuh uang banyak.”

Mikha memang seorang MUA amatiran, paling hanya make up pesta saja. Selebihnya dia belum berani, karena tidak pelatihan professional.

Malam ini Mikha memilih bodyconn dress kerah off-shoulder, yang menonjolkan bentuk tubuh dengan model bahu sabrina berlengan hingga siku. Warna hitam sungguh menarik di tubuh Mikha. Tidak panjang, hanya selutut saja, namun kesan seksi terpancar dengan sangat jelas. Pilihan tepat untuk pesta formil dan non formil, seperti yang diminta klien. Dress ini sewa, karena Mikha tidak bawa dress pesta.

“Beres?” tanya Rara.

Mikha mengangguk, lalu Rara mengantar keluar hotel karena supir dari klien Mikha sudah datang.

Mikha nampak terkesima ketika supir membuka pintu, dan dia kini sudah berada di sebuah hotel bintang lima. Di sana, sudah menunggu seorang pria entah siapa namanya.

“Mikha?”

“Iya Mas.. Mas siapa ya?” tanyanya sopan.

“Silakan ikut saya.” Tanpa dijawab, pria itu jalan begitu saja.

Mikha menurut, tahu jika pria itu pasti hanya orang suruhan.

Ada acara gala dinner, Mikha tidak langsung dibawa ke aula. Dia diajak naik lift, sedikit takut sih. Tapi mau bagaimana, Mikha butuh uang.

Tring..

Pintu lift terbuka, mereka berjalan menuju lorong dengan banyak pintu. Mikha tahu hotel ini bintang lima, yang semalam harganya fantastis.

“Keren banget.. kapan gue bisa nginep sini,” gumam Mikha terpesona akan keindahan dekorasi hotel.

“Tunggu di sini,” ucap pria itu menggatekan Mikha.

Mikha kembali menurut, dia menunggu sementara pria itu menekan bel. Lalu pintu dibuka, berbicara pelan dengan seorang pria.

Pria kedua keluar, memindai penampilan Mikha dari atas sampai bawah. Mikha salah tingkah, pria kedua ini masih muda dan.. tampan.

“Mikha.. kiriman dari..” pria itu mneyebut nama teman Rara, yang langsung ia angguki cepat.

“Baik, saya jelaskan tugas kamu.” Pria itu mulai bicara panjang kali lebar.

“Bos saya pengusaha properti. Banyak acara bisnis yang minta bawa pasangan. Kalau cocok, kami akan menghubungi kamu lagi. Tugas kamu cuma jadi pendamping. Senyum, ngobrol ringan, jangan kelihatan kayak anak kampung.”

Wow sangat menohok sekali.

Intinya Mikha harus patuh, tidak buat malu, tidak norak atau kampungan. Selama pesta terus berada di samping klien, tidak boleh mabuk dan dilarang bicara jika tidak penting.

Mikha mendengarkan dengan tenang, sedikit heran. Ini briefing di luar kamar nih, kenapa ia tidak disuruh masuk.

“Mengerti?”

“Mengerti, Mas.” Angguk Mikha mantap.

Pria kedua meminta Mikha masuk, dia membuka pintu lebar lebar.

‘Siap-siap nih gue ketemu klien gue.’ Pikir Mikha dalam hatinya.

*

*

Mikha duduk di dalam kamar, seharusnya pria yang menunggu. Ini malah Mikha menunggu om bos keluar. Kata asistennya, -pria kedua tadi-, pak bos sedang zoom meeting.

‘Daging kayanya nih om bos,’ batin Mikha, girang.

“Kama.. Kama..” Mikha menggaungkan nama itu. Nama dari klien yang menyewa jasanya malam ini.

Jam 7 malam, Paizani Kama Kanigara, duda anak satu yang sangat tampan di usianya yang sudah menginjak kepala empat ini, keluar dari kamar. Kemeja hitam lengkap dengan jas. Jam Rolex, postur 40 tahun yang masih atletis. Ia berdiri, lalu melihat pasangannya malam ini.

Kama melihat dari atas ke bawah. Bukan tatapan mesum. Lebih ke evaluasi.

Cantik iya. Tapi yang bikin Kama setuju pakai Mikha lagi bukan itu.

Yang membuatnya tertarik: cara wanita muda ini yang tidak silau. Banyak “plus one” yang dia bawa sebelumnya heboh foto di dalam kamar hotel, minta dibeliin ini itu dan tidak minta dibelikan. Kama lihat gaun yang dipakai, bagus. Menarik.

Mikha berbeda. Hanya tanya: “Jam berapa acara besok? Dress code apa?”. Sisanya tidak bertanya lagi, itu yang Kama ketahui dari Erick, asistennya.

Mandiri. Dan tidak butuh validasi dia.

“Malam om,” sapa Mikha ramah.

Terkesima juga, dia kira pria tua perut buncit. Siapa sangka, ganteng, gagah, kekar dan aura rich yang sangat kuat menyala.

Kalau tua dan perut buncit plus mesum, mau Mikha judesin selama acara.

“Ayo,” kata Kama, suara rendah.

Mikha angguk. Senyum tipis, profesional. Judesnya ditahan.

‘Ya ampun om bos, suaranya seksi deh.

“Siap om.”

Kama tidak masalah dipanggil om, karena melihat usia Mikha yang masih muda.

Di mobil menuju hotel tempat gala dinner, Kama buka suara pelan:

“Umur 26?”

Mikha yang lagi betulin kalung KW di kaca spion kecil, kaget. Tatap Kama sekilas, terus balik lihat depan. Tenang, judes.

“Iya, om.”

Kebohongan kecil. 22 jadi 26. Biar tidak kelihatan kayak mahasiswi yang kepepet uang. Biar tidak dikasihani.

Kama diam. Dia tidak percaya 100%. Ada sesuatu di cara Mikha bawa diri yang terlihat masih kekanakan. Terlalu muda untuk 26 tahun.

Tapi Kama tidak bertanya lagi.

10 juta sehari. Untuk datang, senyum, jadi “pasangan” di meja makan, pulang. Mikha tersenyum girang, usahanya nanti adalah membuat Kama menyukainya hingga sisa waktu dia di Bali, bisa digunakan untuk bekerja pada Kama.

Kama sendiri, tidak ada kontak fisik lebih. Itu aturan yang Kama kasih dari awal. Dia benci yang neko-neko.

Yang bikin Kama tertarik bukan peran “plus one”-nya.

*

*

Kama menatap wanita di sisinya dengan mata setengah terpejam, mencoba memahami mengapa sosok muda itu begitu gigih menempel sepanjang gala dinner.

Mikha, dengan wajah yang sudah dipoles rapi, bibir merah menggoda, dan mata yang berkilau penuh percaya diri, tampak terlalu berani untuk seorang plus one di acara seperti ini. Kama memberi kode pada Erick, asistennya.

Kini Erick memberi kode pada Mikha, yang langsung berdiri dan berjalan mengikutinya.

“Ada apa Mas?” tanya Mikha, takut dia berbuat salah.

“Jaga sikapmu. Ini acara formal, bukan acara kencan buta. Jangan terlalu dekat dengan bos, dia tidak suka!”

“Oh oke,” sahut Mikha, patuh saja.

Mikha kembali ke tempat semula, duduk sedikit berjarak dengan klien plus one-nya. Jangan sampai klien marah, nanti tidak dibayar.

Usai gala dinner, mereka pergi ke acara yang lain. Kali ini club malam yang hanya diperuntukkan kaun jetset.

Saat mereka melangkah memasuki club malam yang riuh, Mikha dengan santai merangkul lengan Kama.

"Singkirkan tanganmu!" suara Kama tiba-tiba keluar, tajam dan penuh otoritas.

“Ehh..” Mikha terkejut sejenak, tapi ekspresinya tak berubah menjadi marah atau tersinggung. Sebaliknya, dia hanya mengangkat alisnya dan tersenyum kecil, tetap tenang seperti sudah terbiasa menghadapi pria yang keras kepala.

Kama menahan senyum, merasakan gelombang geli mengalir dari dalam dada. Mental Mikha yang kuat dan keberaniannya membuatnya tak bisa menahan tawa kecil dalam hati. Di tengah keramaian dan lampu warna-warni yang berputar-putar, mereka berdua seperti dua kutub berbeda yang entah bagaimana menemukan keseimbangan aneh. Kama, pria dewasa yang dingin dan tertutup, dan Mikha, wanita muda yang agresif tapi tidak pernah kehilangan kendali.

Tanpa kata lagi, mereka melangkah bersama, Mikha tetap menggenggam lengannya dengan ringan, Kama membiarkan diri ikut terbawa suasana, walau tetap waspada. Pesta ini bukan sekadar ajang bisnis, tapi juga permainan psikologis yang membuat mereka berdua saling menguji batas.

Kama adalah pria berusia empat puluhan dengan aura yang sulit diabaikan. Wajahnya tampan dengan cambang tebal yang membingkai rahang tegasnya, menambah kesan maskulin sekaligus dingin. Tubuhnya tinggi dan gagah, hasil latihan rutin di gym yang membuat setiap gerakannya penuh percaya diri. Sebagai duda dengan satu anak, ia membawa beban masa lalu yang membuatnya semakin tertutup dan selektif dalam berteman.

Di dunia bisnis, Kama dikenal sebagai sosok yang sangat handal namun arogan dan sombong; ia tak segan menunjukkan dominasi dalam setiap pertemuan. Suara bising atau keramaian yang tak perlu membuatnya cepat kehilangan kesabaran, ia lebih suka suasana tenang yang mendukung pikirannya yang tajam dan strategis. Sikapnya yang dingin dan sedikit sombong sering kali membuat orang di sekitarnya enggan mendekat, tapi tak ada yang berani meragukan kemampuannya sebagai pebisnis sukses. **

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   19. Panggilan Rahasia Dari Kota Mode

    Kama memenuhi janjinya mengajak Mikha jalan-jalan berdua di Paris, Perancis. Belanja menjadi destinasi pilihan Mikha ketika Kama mengajaknya keluar hotel. Angin sore Paris berhembus lembut, membawa aroma kopi hangat dari kafe-kafe pinggir jalan di kawasan Rue Saint-Honoré. Bagi kebanyakan orang, tempat ini adalah surga dunia. Deretan butik jenama mewah dunia berjejer rapi, memamerkan kemewahan yang sanggup membuat mata siapa saja terbelalak.Dan di sinilah Mikha sekarang—berjalan anggun dengan tangan kiri menenteng tiga kantong belanjaan berukuran besar dari butik desainer ternama, sementara tangan kanannya menggandeng lengan kokoh Paizani Kama Kanigara.Kama menepati janjinya. Apapun yang Mikha tunjuk, berapapun harganya, pria matang itu tidak pernah melarang. Kartu kredit black card miliknya bergesek mulus tanpa butuh waktu lama. Bagi Kama, uang bukanlah masalah besar jika itu bisa membuat sugar baby kesayangannya tersenyum puas.“Bagus tidak?” tanyanya pada Kama.Di tangan Mikha du

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   18. Batas Seorang Simpanan

    Mikha menggeliat kala merasakan hentakan di atas ranjang. Membuka mata yang sepat, ia melihat Kama duduk di tepi ranjang seraya mengancingkan kemeja diujung tangannya.“Beb..”Kama menoleh, tersenyum tipis. “Tidur saja, kalau masih mengantuk.”Mikha beranjak duduk dengan pelan, matanya masih mengantuk efek semalam tidak bisa tidur.“Beb, sudah mau jalan?”“Humm..”Kama berdiri lalu memakai jasnya. Mikha melirik, diatas meja sudah siap sarapan pagi di Kota Paris.“Kamu yang siapin sarapannya?”“Humm, kamu sarapan di sini saja.”“Oke,” sahut Mikha.Kama lalu mengambil ponselnya, menoleh ke Mikha. “Hari ini kamu di kamar saja.”“Kenapa? Kan aku mau jalan-jalan,” kata Mikha.“Besok saya temani, hari ini dikamar.”“Babe_”“Menurut Mikha,” potong Kama tegas.Mikha bisa apa selain manyun, dia mengangguk patuh. Kama mendekat dan membelai rambutnya.“Good girl,” ucapnya dan mengecup kening Mikha lembut.Tanpa pamit Kama meninggalkan kamar, Mikha hanya menatap punggung pria itu hingga menghilan

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   17. Kehangatan Semu di Kota Paris

    Baru kali ini Mikha keluar negeri dan naik pesawat pribadi, dengan fasilitas lengkap. Semua ada, Mikha sampai terpukau. Sekaya apa sugar Daddy-nya ini, hingga memiliki pesawat pribadi.Saat ini Mikha berada di sebuah suite room hotel mewah di Kota Paris, dengan pemandangan indah. Duh, rasanya Mikha tidak sabar untuk jalan-jalan berdua dengan Kama. Di luar negeri tidak ada yang mengenal mereka, Mikha rasa harusnya aman ya. Sayangnya, baru hari pertama Kama menyuruh tinggal di hotel saja.Kama baru saja keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi satin hitam yang agak terbuka di dada. Rambutnya masih sedikit basah, menyebarkan aroma sandalwood dan expensive taste yang langsung memenuhi ruangan suite Le Meurice.Mikha yang sedang duduk bersila di pinggir tempat tidur, mendadak tidak fokus. Matanya tanpa sadar memindai penampilan Kama.Gila ya, batin Mikha gusar. Udah tau gue lagi ngambek, dia malah pamer tembok dada sama papan gilasan premium begitu. Mana itu bahu lebar penopang masa depan

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   16. Kunjungan Kenegaraan di Istana Merah Muda

    Mikha mengeratkan selimut di dadanya, usai percintaannya dengan Paizani Kama Kanigara, sugar Daddy kesayangannya. Menyunggingkan senyum menggemaskan, Mikha menggigit bibir bawahnya teringat bagaimana Kama menerjangnya dari ruang tamu menuju kamar, dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.Kama yang menaiki tubuhnya, memberikan kecupan sehangat sutra. Begitu lembut hingga Mikha hanya bisa memejamkan matanya, tatapan Kama yang penuh damba padanya. Membuat Mikha tertunduk lemas, sugar daddynya ini tidak kaleng-kaleng pesonanya.Kini, sugar daddynya itu tengah berdiri dengan ponsel di tangan seraya melihat pemandangan malam di apartemen mewah mereka yang terletak di lantai 25.Kama berdiri dengan wibawa yang tak bisa dibantah, meski usianya sudah di akhir empat puluhan, tapi justru di situlah letak pesonanya. Rambut hitam pekat yang kini diselingi warna perak di sekitaran pelipis, tidak banyak. Tapi justru itu yang membuat pemilik perusahaan teknologi, FnB dan perhotelan itu terlihat se

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   15. Alasan Menjadi Sugar Baby

    Mikha melangkah masuk ke ruang kuliah dengan langkah pelan, matanya masih sembab akibat kurang tidur. Kemarin dia terpaksa bolos kuliah, karena Om nakalnya tidak berhenti mengajarnya dengan kenikmatan dunia. Tapi tidak masalah, selesainya Mikha diberi hadiah mewah. Sebuah kalung dengan liontin bunga, cantik sekali.Tiba-tiba, suara tawa cempreng memecah keheningan. Vio muncul bersama tiga gadis yang selalu menempel bak parasite, lengkap dengan senyum sok cantik mereka."Ada yang bolos nih, dua hari nggak kuliah Kerja rodi banget nih," sindir Citra, salah satu dayang-dayang Vio, sambil melirik tajam ke arah Mikha.Vio ikut tertawa, suaranya penuh ejekan, "Buat apa sih?”Priska, salah satu dari mereka tidak ketinggalan. “Tuntutan hiudp kali, Cit. Kalau nggak banting tulang begitu, mau makan apa coba?"“Kalau buat makan, kalau cuma buat gaya fashion kelas atas tapi nggak sampai atas gimana,” celetuk Citra lagi mneyindir keras.“Pengan nggak nethink, tapi kok nggak bisa!” Priska tertawa s

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   14. Sarapan Mikha (21+)

    Esok paginya, Mikha sudah berkutat di dapur minimalis apartemen mewah Kama. Aroma harum mentega yang meleleh di atas wajan memenuhi dapur, aroma yang memubuat orang tergoda. Mikha berdiri santai mengenakan kemeja putih longgar, dengan cekatan mengocok telur dan menyiapkan roti tawar. Sarapan yang sangat sederhana—hanya scrambled eggs gurih dan roti panggang hangat—tapi cukuplah untuk memulai hari di apartemen megah berlantai tinggi tersebut.Di tempat ini, Mikha memang tak perlu pusing memikirkan hal-hal rumit. Segala kebutuhan hidupnya, mulai dari bahan makanan segar yang selalu diisi ulang, tagihan bulanan, hingga fasilitas kelas atas, semuanya sudah terjamin dengan sempurna.Saat Mikha sedang membalik roti panggangnya, dua lengan kekar tiba-tiba melingkar lembut di pinggangnya dari belakang. Kehangatan langsung menyapu punggung Mikha saat Kama menyandarkan dagunya di bahu wanita itu."Selamat pagi," bisik Kama dengan suara serak khas bangun tidur, menyapa tepat di dekat telinga Mik

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   1. Cari Mangsa = Cowok Tajir

    “Ra, yakin aman?” tanya Mika mendadak gugup masuk ke sebuah beach club di Bali.Biasanya dia rajin ke night club, tapi berbeda. Jika biasanya bersenang-senang, kali ini dia akan mencari mangsa.“Amanlah,” ujar Rara, teman malam Mika.“Lo yakin kan, nggak ada yang kenal kita?” sambung Mikha lagi, ma

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   6. Gadis Bayaran Om Kama

    Kama menatap Mikha dengan tatapan penuh arti di bawah cahaya lampu remang ballroom hotel yang mewah. Gaun sutra hitam yang membalut tubuh ramping Mikha seolah menambah aura misterius dan memikatnya. Kulit cokelat eksotis Mikha berkilau lembut, memancarkan keindahan yang tak perlu berlebihan.Beberap

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   5. Temani Saya Selama di Bali!

    Erick meringis, kusut melanda saat sang bos mulai uring-uringan. Hanya kesalahan kecil, dia menyewa jasa wanita untuk dijadikan plus one bagi sang bos. Sialnya, bos tidak suka karena wanita itu terlalu pendiam.‘Kemarin agresif salah. Sekarang pendiam, makin salah.’ Erick mendesah, bosnya ini mauny

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   7. Benci, Dendam, dan Seorang Sugar Daddy

    Bottom of FormKuliah selesai. Koridor Gedung B penuh mahasiswa yang buru-buru pulang. Mikha berjalan pelan, buku tebal Strategi Bisnis dipeluk di dada. Wajah tegas, judes, tapi langkahnya tenang.Tidak buru-buru, tidak menoleh kiri kanan.Tidak perlu tebar pesona, tapi bisa dipastikan semua mata me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status